AC Milan di Tengah Badai: Kritik Pedas, Krisis Cedera, dan Teka-teki Sosok Baru di Kursi Head of Football
Inforiau – 26 Oktober 2026 | Dinamika di tubuh AC Milan kembali menjadi sorotan publik sepak bola Italia. Dalam beberapa hari terakhir, klub berjuluk Rossoneri itu dihadapkan pada tiga persoalan sekaligus: pencarian sosok baru untuk mengisi posisi Head of Football, kritik tajam terkait rotasi pemain di kompetisi Eropa, serta krisis cedera yang menerpa skuad jelang laga melawan Udinese di Serie A. Kombinasi ketiga isu ini menggambarkan betapa kompleksnya tantangan yang harus dihadapi manajemen maupun tim pelatih Ruben Amorim.
Teka-teki Head of Football Baru
Legenda AC Milan, Massimo Ambrosini, angkat bicara mengenai proses pencarian petinggi baru yang akan memimpin urusan sepak bola klub. Menurutnya, keputusan memilih sosok asal Italia bukanlah hal yang otomatis terjadi di klub seperti Milan. “Melihat struktur klub dan cara kerjanya, saya tidak menyangka mereka akan memilih sosok asal Italia,” ujarnya saat berbicara di studio DAZN. Ia menilai dinamika internal klub membuat pilihan tersebut tidak bisa diprediksi secara sederhana.
Ambrosini juga menyoroti pentingnya keberadaan figur pendamping bagi pelatih. Ia mengaku tidak mengetahui secara pasti dinamika di dalam ruang ganti, namun kesan yang ia tangkap adalah pelatih selalu menjadi pihak yang berbicara dalam segala situasi. “Jika ada seseorang yang bisa diajak bicara pada masa sulit, beban psikologisnya juga akan sedikit berkurang,” jelasnya. Dari sisi teknis, ia menegaskan bahwa siapa pun yang dipilih, entah berkebangsaan Italia atau bukan, harus mampu bekerja sama dengan pelatih. Nama Krosche, yang berasal dari Jerman, disebut-sebut sebagai kandidat terkuat untuk mengisi posisi tersebut, menambah warna tersendiri dalam proses seleksi di tubuh AC Milan.
Kritik Pedas soal Rotasi Pemain
Di sisi lain, jurnalis Giuseppe Cruciani melontarkan kritik tajam terhadap pilihan susunan pemain AC Milan. Melalui podcast Numer1, ia mempertanyakan keputusan menurunkan pemain cadangan di kompetisi Eropa yang menurutnya justru menjadi kompetisi utama klub tahun ini. “Anda tidak bisa memainkan pemain cadangan di kompetisi yang pada dasarnya menjadi kompetisi utama Anda tahun ini,” tegasnya saat mengomentari penampilan Milan melawan tim asal Inggris, Bournemouth.
Cruciani menegaskan bahwa meskipun kualitas tim saat ini tidak lagi seperti masa kejayaan, seragam AC Milan tetap harus dijunjung tinggi di setiap kompetisi. “AC Milan memang bukan lagi AC Milan yang dulu, tetapi mereka tetap mengenakan seragam itu dan, menurut saya, seragam itu harus dijunjung tinggi,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa sejauh ini hal tersebut belum tercermin di kompetisi piala, ajang yang seharusnya menjadi tempat klub biasanya menang. Kritik ini menjadi sinyal bahwa ekspektasi terhadap AC Milan masih sangat tinggi, terlepas dari kondisi skuad yang ada.
Krisis Cedera Jelang Duel Lawan Udinese
Persoalan tak berhenti di ranah manajemen dan strategi. Menjelang laga melawan Udinese di Bluenergy Stadium dalam lanjutan Serie A, AC Milan berada dalam posisi sulit akibat krisis cedera yang menimpa sejumlah pemain. Situasi ini memaksa tim pelatih meramu komposisi terbaik dari sumber daya yang terbatas, sementara tekanan untuk meraih hasil positif terus mengemuka.
Meski demikian, laga tersebut tetap menyuguhkan sejumlah momen menarik. Serangan-serangan yang dibangun dari sisi sayap, kombinasi antarpemain, serta penyelesaian akhir yang apik menjadi bagian dari jalannya pertandingan. Keberhasilan menggandakan keunggulan lewat penyelesaian matang di dalam kotak penalti menunjukkan bahwa AC Milan masih memiliki kualitas individu yang mampu menentukan hasil. Namun, konsistensi dan ketenangan dalam mengelola pertandingan tetap menjadi pekerjaan rumah yang harus segera dibenahi.
Bayang-bayang Ekspektasi Tinggi
Ketiga isu yang mencuat memperlihatkan satu benang merah: besarnya ekspektasi terhadap AC Milan. Pencarian Head of Football baru bukan sekadar soal mengisi kursi kosong, melainkan upaya membangun struktur yang mampu mendukung kinerja tim secara berkelanjutan. Kritik terhadap rotasi pemain mencerminkan harapan agar klub menghormati tradisi dan gengsi di setiap kompetisi yang diikuti. Sementara krisis cedera menuntut kecerdasan manajemen dalam mengelola beban pertandingan dan kedalaman skuad.
Bagi para pendukung, momen seperti ini menjadi ujian kesabaran sekaligus cermin arah kebijakan klub. Keputusan yang diambil dalam beberapa pekan ke depan, mulai dari sosok yang duduk di kursi Head of Football hingga cara pelatih mengelola rotasi, akan menentukan langkah AC Milan di sisa musim. Yang jelas, klub sebesar ini tidak pernah lepas dari sorotan, dan setiap keputusan akan selalu diukur dengan standar tinggi yang telah lama melekat pada identitas Rossoneri.
Dengan struktur yang tengah dibenahi, kritik yang terus mengalir, serta tantangan di lapangan yang tak kunjung reda, AC Milan berada di persimpangan penting. Keberhasilan melewati fase ini akan sangat bergantung pada sinergi antara manajemen, pelatih, dan para pemain. Publik tentu menantikan bagaimana klub merespons tekanan ini dan membuktikan bahwa seragam kebesaran mereka tetap pantas dijunjung di setiap kompetisi yang dijalani.
