ASAKI Hadapi Gangguan Gas dan Kenaikan Biaya Produksi Keramik: Pasokan Hanya 73 Persen, Daya Saing Terancam
Inforiau – 22 Oktober 2026 | Industri keramik nasional tengah menghadapi tekanan yang kian berat. ASAKI Hadapi Gangguan Gas dan Kenaikan Biaya Produksi Keramik menjadi sorotan utama setelah Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) melaporkan persoalan pasokan gas dan lonjakan biaya energi yang mengancam daya saing produksi. Laporan tersebut disampaikan langsung kepada Menteri Perindustrian Sarmuji di Kantor Kementerian Perindustrian pada Rabu (21/10/2026).
Ketua Umum ASAKI Edy Suyanto mengungkapkan bahwa industri keramik saat ini hanya menerima sekitar 73 persen dari total kebutuhan gas. Kondisi ini diperparah dengan adanya pembatasan pemanfaatan gas yang mulai terjadi pada September dan Oktober. Padahal, Keputusan Menteri ESDM 281K Tahun 2026 yang diterbitkan pada Agustus telah mengatur volume gas yang seharusnya dapat diperoleh industri.
“Kami meminta kepastian pasokan dan harga gas yang kompetitif. Saat ini industri keramik hanya menerima sekitar 73 persen dari total kebutuhan gas,” ujar Edy dalam pertemuan tersebut.
Harga Gas dan Kompetitivitas
Dalam pertemuan dengan Menteri Perindustrian, ASAKI menekankan bahwa ASAKI Hadapi Gangguan Gas dan Kenaikan Biaya Produksi Keramik bukan sekadar isu internal industri, melainkan berdampak pada daya saing produk keramik Indonesia di pasar domestik maupun global. Kenaikan biaya energi secara langsung memengaruhi struktur biaya produksi, yang pada akhirnya dapat mendorong kenaikan harga jual dan menurunkan daya saing.
Dampak terhadap Produksi dan Investasi
Gangguan pasokan gas yang terjadi secara berulang dikhawatirkan akan mengganggu stabilitas produksi. Industri keramik merupakan sektor padat energi yang sangat bergantung pada pasokan gas untuk proses pembakaran. Jika pasokan tidak stabil, produsen terpaksa mengurangi kapasitas produksi atau menanggung biaya tambahan untuk mencari sumber energi alternatif.
Selain itu, ketidakpastian pasokan gas juga berpotensi menurunkan minat investasi di sektor keramik. Para pelaku usaha membutuhkan jaminan jangka panjang agar dapat merencanakan ekspansi dan meningkatkan kapasitas produksi. Tanpa kepastian tersebut, iklim investasi di industri keramik nasional bisa melemah.
ASAKI berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah konkret untuk memastikan pasokan gas sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Koordinasi lintas kementerian, terutama antara Kementerian Perindustrian dan Kementerian ESDM, dinilai krusial untuk menyelesaikan persoalan ini secara menyeluruh.
Permintaan Kepastian Regulasi
Dalam laporannya, ASAKI meminta agar Keputusan Menteri ESDM 281K Tahun 2026 dapat diimplementasikan secara konsisten. Asosiasi juga mendorong adanya evaluasi terhadap mekanisme distribusi gas agar tidak terjadi penurunan volume pasokan yang merugikan industri.
Persoalan ASAKI Hadapi Gangguan Gas dan Kenaikan Biaya Produksi Keramik menjadi pengingat bahwa kebijakan energi memiliki dampak langsung terhadap sektor manufaktur. Sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha diperlukan untuk menjaga stabilitas industri sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Ke depan, ASAKI berkomitmen untuk terus berkoordinasi dengan pemerintah guna mencari solusi terbaik. Harapannya, pasokan gas dapat kembali normal sehingga industri keramik dapat beroperasi secara optimal dan berkontribusi terhadap perekonomian nasional.
Dengan demikian, penanganan ASAKI Hadapi Gangguan Gas dan Kenaikan Biaya Produksi Keramik memerlukan perhatian serius dari semua pihak. Kepastian pasokan dan harga gas yang kompetitif menjadi kunci agar industri keramik Indonesia tetap berdaya saing dan mampu bertahan di tengah tantangan ekonomi global yang tidak menentu.
