ASAKI Sebut Indonesia Naik ke Peringkat Lima Produsen Keramik Dunia, Bukti Industri Nasional Semakin Berdaya Saing
Inforiau – 22 Oktober 2026 | Industri keramik nasional menorehkan catatan penting dalam peta persaingan global. ASAKI Sebut Indonesia Naik ke Peringkat Lima Produsen Keramik Dunia, naik dua peringkat dari posisi ketujuh yang sebelumnya ditempati. Pengumuman bergengsi ini disampaikan oleh Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) dalam pertemuan di Kantor Kementerian Perindustrian (Kemenperin) pada Rabu, 21 Oktober 2026, dan langsung menjadi sorotan pelaku usaha serta pembuat kebijakan.
Ketua Umum ASAKI, Edy Suyanto, menyebut capaian tersebut sebagai perkembangan positif bagi industri keramik nasional. Menurutnya, kenaikan peringkat ini bukan sekadar angka statistik, melainkan cerminan dari kerja keras seluruh rantai pasok, mulai dari produsen, pemasok bahan baku, hingga tenaga kerja yang terlibat di dalamnya. “Ini adalah hasil kolaborasi semua pihak. Kami bersyukur Indonesia semakin diperhitungkan dalam industri keramik dunia,” ujar Edy dalam keterangannya.
Dalam daftar produsen keramik terbesar dunia, China masih kokoh di peringkat pertama. Namun, posisi Indonesia yang kini berada di lima besar menunjukkan bahwa pasar domestik yang besar serta dukungan kebijakan pemerintah mampu mendorong pertumbuhan yang signifikan. ASAKI Sebut Indonesia Naik ke Peringkat Lima Produsen Keramik Dunia tidak terlepas dari berbagai instrumen perlindungan terhadap produk dalam negeri yang dinilai turut meningkatkan utilisasi industri.
Utilisasi Industri Meningkat
ASAKI menegaskan bahwa kenaikan peringkat Indonesia mencerminkan perkembangan industri keramik yang didukung oleh kebijakan pemerintah. Perlindungan terhadap produk dalam negeri, seperti pengaturan impor dan penguatan standar mutu, disebut telah membantu meningkatkan utilisasi pabrik-pabrik dalam negeri. Hal ini berdampak pada optimalisasi kapasitas produksi yang selama ini belum sepenuhnya terserap.
Data yang dihimpun dari lingkungan asosiasi menunjukkan bahwa utilisasi industri keramik nasional mengalami tren positif dalam beberapa tahun terakhir. Berikut gambaran ringkasnya:
| Indikator | Sebelumnya | Posisi Terkini |
|---|---|---|
| Peringkat Produsen Keramik Dunia | Peringkat 7 | Peringkat 5 |
| Negara Produsen Terbesar | China | China |
| Dukungan Kebijakan | Terbatas | Meningkat (perlindungan produk dalam negeri) |
Meski demikian, ASAKI mengingatkan bahwa posisi lima besar harus dijaga dengan konsistensi inovasi dan efisiensi. Persaingan dengan negara-negara produsen lain, terutama China, masih sangat ketat. Selain itu, tantangan seperti fluktuasi harga energi, biaya logistik, dan kebutuhan teknologi produksi ramah lingkungan menjadi pekerjaan rumah bersama.
Dampak bagi Ekonomi dan Tenaga Kerja
Kenaikan peringkat ini diproyeksikan memberikan dampak positif bagi perekonomian nasional. Industri keramik merupakan sektor padat karya yang menyerap banyak tenaga kerja, mulai dari pabrik di kawasan industri hingga sentra-sentra produksi kecil. Dengan meningkatnya utilisasi, permintaan tenaga kerja diperkirakan ikut naik, sejalan dengan perluasan kapasitas produksi.
Selain itu, ASAKI Sebut Indonesia Naik ke Peringkat Lima Produsen Keramik Dunia juga menjadi sinyal positif bagi investor. Kepercayaan pasar terhadap industri keramik dalam negeri berpotensi mendorong masuknya investasi baru, baik untuk perluasan pabrik maupun pengembangan teknologi produksi. Pemerintah melalui Kemenperin disebut akan terus mendorong hilirisasi dan peningkatan nilai tambah produk keramik agar daya saing di pasar global semakin kuat.
Di sisi lain, asosiasi berharap agar kebijakan perlindungan produk dalam negeri tetap konsisten dan tidak menimbulkan distorsi pasar. Regulasi yang berpihak pada produk lokal perlu diimbangi dengan pengawasan mutu dan pemberantasan produk impor ilegal yang masih menjadi momok bagi produsen dalam negeri. Dengan begitu, iklim usaha yang sehat dapat tercipta dan pertumbuhan industri berkelanjutan.
Pengamat industri menilai capaian ini sebagai buah dari strategi jangka panjang yang mulai menunjukkan hasil. Namun, mereka mengingatkan bahwa posisi lima besar bukan tujuan akhir. Indonesia perlu terus meningkatkan kualitas produk, memperluas pasar ekspor, dan mengadopsi teknologi produksi yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Tanpa itu, peringkat yang telah diraih bisa tergerus oleh kompetitor yang bergerak lebih cepat.
Sebagai penutup, ASAKI Sebut Indonesia Naik ke Peringkat Lima Produsen Keramik Dunia menjadi tonggak penting bagi industri manufaktur nasional. Pencapaian ini tidak hanya membanggakan, tetapi juga menuntut tanggung jawab besar untuk mempertahankan dan meningkatkan posisi tersebut. Dengan sinergi antara pemerintah, asosiasi, dan pelaku usaha, industri keramik Indonesia memiliki peluang besar untuk terus bersaing di kancah global dan memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian negara.
