ASN Digital Jadi Kunci Transformasi Birokrasi: Dari Upacara Sumpah Pemuda hingga Pelatihan 18.000 Aparatur
Inforiau – 28 Oktober 2026 | Semangat Sumpah Pemuda ke-98 yang diperingati pada 28 Oktober 2026 menjadi momentum refleksi bagi aparatur sipil negara (ASN) untuk beradaptasi dengan era digital. Di berbagai daerah, transformasi ASN digital terus digenjot melalui beragam program, mulai dari pelatihan kompetensi hingga inovasi pelayanan publik berbasis teknologi. Upacara di Kecamatan Bumi Agung, Lampung Timur, misalnya, menjadi ajang peneguhan komitmen ASN dalam menjaga persatuan di tengah tantangan globalisasi dan digitalisasi.
Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Bumi Agung, Drs. H. Tongat, M.Sy., dalam amanatnya menekankan bahwa semangat Sumpah Pemuda harus ditanamkan dalam pelayanan keagamaan dan kemasyarakatan. “Persatuan dan kerja sama lintas sektor menjadi kunci kemajuan umat dan bangsa,” ujarnya. Upacara yang diikuti seluruh ASN KUA setempat tersebut juga menjadi pengingat akan pentingnya nilai-nilai kebangsaan dalam menjalankan tugas sebagai abdi negara.
Namun, tantangan era digital menuntut lebih dari sekadar semangat. ASN dituntut memiliki kompetensi yang mumpuni, termasuk dalam hal literasi digital dan penulisan ilmiah. Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Maluku Utara pun menggelar Workshop Penulisan Artikel Ilmiah secara daring pada 27 Oktober 2026. Kegiatan bertema “Kupas Tuntas Cara Cepat dan Cermat Menulis Artikel Ilmiah Hingga Publish” ini diikuti lebih dari 240 peserta dari kalangan ASN, dosen, peneliti, dan akademisi.
Kepala BPSDM Maluku Utara, Fachruddin Tukuboya, menegaskan bahwa penulisan artikel ilmiah kini menjadi kewajiban mutlak bagi ASN, khususnya pejabat fungsional, untuk pengembangan karir. “Jika dahulu publikasi ilmiah identik dengan akademisi, saat ini bagi ASN penulisan artikel pada jurnal terindeks telah menjadi kewajiban,” ungkapnya. Workshop ini merupakan bagian dari upaya memperkuat kapasitas ASN digital yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga mampu menghasilkan karya tulis berbasis data dan bukti.
Staf Ahli Gubernur Maluku Utara, Nurlaila Muhammad, menambahkan bahwa kebijakan publik harus didasarkan pada pendekatan berbasis bukti. “Kebijakan tidak lagi cukup mengandalkan intuisi, tetapi harus didukung data sahih dan dianalisis dengan metode tepat,” ujarnya. Hal ini sejalan dengan pengembangan ASN digital yang dituntut adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Di Sulawesi Utara, Pemerintah Provinsi melalui BPSDM meluncurkan program pelatihan digital bertajuk “Baku Beking Pande YSK-Victory” yang menyasar sekitar 18.000 ASN. Program ini menyediakan 18 materi pembelajaran digital dengan total 36 jam pelajaran, melebihi ketentuan minimal 20 JP per tahun. Sekretaris Daerah Provinsi Sulut, Tahlis Gallang, menekankan pentingnya metode pembelajaran yang fleksibel, mudah diakses, dan berkelanjutan. “Yang dibutuhkan cuma waktu, smartphone, dan kuota,” ujar Kepala BPSDM Sulut, Franky Tintingon, menggambarkan kemudahan akses program tersebut.
Inovasi lain datang dari Kota Bandung. Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kota Bandung, H. Tatang Muhtar, S.Sos., M.Si., mengikuti visitasi lapangan Seleksi ASN Berprestasi Tingkat Provinsi Jawa Barat 2026 berkat inovasi SALAMAN (Selesai Dalam Genggaman). Layanan administrasi kependudukan berbasis digital ini memudahkan masyarakat mengakses dokumen tanpa harus hadir fisik. Inovasi tersebut sejalan dengan konsep Bandung Smart City dan pengembangan pemerintahan digital.
Tim penilai yang terdiri dari akademisi ITB, UIN Sunan Gunung Djati, dan Universitas Padjadjaran mendalami implementasi inovasi, kontribusi kepemimpinan, serta manfaat bagi masyarakat. Keikutsertaan Tatang Muhtar menjadi bukti bahwa ASN digital mampu mendorong efisiensi dan transparansi pelayanan publik.
Dari rangkaian peristiwa tersebut, terlihat jelas bahwa transformasi ASN digital bukan sekadar wacana. Berbagai daerah berlomba menciptakan terobosan, mulai dari pelatihan masif, penulisan ilmiah, hingga inovasi layanan berbasis aplikasi. Tantangan ke depan adalah memastikan seluruh ASN memiliki akses dan kemampuan yang setara, sehingga pelayanan publik semakin prima. Semangat Sumpah Pemuda menjadi pengingat bahwa persatuan dan inovasi harus berjalan beriringan menuju Indonesia yang lebih maju.
