Inforiau – 26 Oktober 2026 | Pergerakan bbri saham kembali menjadi pusat perhatian pelaku pasar pada pembukaan pekan ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memang dibuka menguat tipis ke level 5.442,30 atau naik 0,06 persen, namun euforia tersebut seolah menyembunyikan kenyataan pahit di balik layar: investor asing justru ramai-ramai melepas saham unggulan, termasuk bbri saham yang mencatat jual bersih signifikan.
Kenaikan pembukaan IHSG hanya bertambah 3,04 poin dari posisi penutupan Jumat sebelumnya. Pada awal perdagangan, indeks bergerak dalam rentang terbatas antara 5.438,75 hingga 5.449,35 dengan nilai transaksi sekitar Rp244,76 miliar dan volume 5,23 juta lot. Angka ini belum cukup membuktikan pasar saham memasuki fase pemulihan berkelanjutan.
Tekanan Jual Asing Menghantam Saham Bank Besar
Di balik kenaikan tipis indeks, data perdagangan menunjukkan derasnya arus keluar dana asing. Sepanjang 19 hingga 23 Oktober, jual bersih investor asing mencapai Rp8 triliun di pasar reguler. Akumulasi jual bersih asing sepanjang 2026 bahkan telah menembus Rp122,2 triliun, angka yang mencerminkan betapa rapuhnya kepercayaan investor global terhadap pasar saham domestik.
Saham perbankan berkapitalisasi besar menjadi sasaran utama tekanan jual. BBCA mencatat jual bersih sekitar Rp2,89 triliun, disusul bbri saham dengan Rp2,11 triliun. Derasnya arus keluar dari saham unggulan ini memperlihatkan bahwa kenaikan indeks belum tentu berarti seluruh investor merasa nyaman.
Pada penutupan sesi pertama hari yang sama, IHSG justru berbalik melemah 1 persen ke level 5.384,97. Secara intraday, indeks sempat tertekan hingga 1,60 persen ke 5.349,75. Volume perdagangan tercatat 18,57 miliar dengan nilai transaksi Rp7,59 triliun dan frekuensi 1.143.355 kali. Sebanyak 189 saham menguat, 474 saham melemah, dan 128 saham stagnan, dengan kapitalisasi pasar Rp9.505,66 triliun.
Di tengah tekanan tersebut, bbri saham melemah 1,37 persen ke level Rp2.870 per saham. Senada dengan itu, BBNI turun 1,17 persen ke Rp3.380, BBCA melemah 1,09 persen ke Rp4.970, dan BMRI terkoreksi 1,03 persen ke Rp3.860 per saham. Pelemahan kompak saham bank raksasa ini menjadi sinyal bahwa sentimen negatif masih membayangi sektor keuangan.
Rekomendasi Analis dan Proyeksi IHSG
Head of Retail Research BNI Sekuritas Fanny Suherman menilai IHSG akan menguji support di level 5.350. Jika bertahan di atas level tersebut, indeks berpotensi melanjutkan kenaikan hingga 5.500 dalam jangka pendek. Level support berada di 5.350-5.400, sementara resistance di 5.500-5.550.
Riset Kiwoom Sekuritas menambahkan bahwa secara teknikal IHSG berhasil ditutup positif. Jika mampu bertahan di atas 5.424, potensi lanjut menuju resistance 5.520 dan 5.607-5.631. Namun, bila terjadi aksi ambil untung dan indeks gagal bertahan, IHSG bisa kembali ke 5.328 hingga support 5.278/5.185.
Sejumlah rekomendasi saham untuk perdagangan hari ini antara lain INET dengan area beli 184-189 dan target 194-199, AMMN di area 4.000-4.030 dengan target 4.100-4.200, serta CUAN di area 500-510 dengan target 520-550. Fanny juga menyoroti saham EMAS, DEWA, dan TOBA sebagai pilihan trading idea.
Risiko yang Masih Mengintai
Ketidakpastian evaluasi MSCI masih menjadi bayang-bayang pemulihan pasar saham Indonesia. Investor juga mencermati reformasi pasar modal, stabilitas rupiah, dan arus dana asing. Risiko aksi ambil untung pun meningkat setelah IHSG mencatat kenaikan mingguan hampir lima persen.
Meski demikian, ada secercah harapan dari investor domestik. Saat IHSG anjlok, investor lokal tercatat menyerok saham BBCA hingga Rp4,36 triliun. Pola ini menunjukkan bahwa koreksi justru dimanfaatkan sebagai momentum akumulasi oleh pelaku pasar dalam negeri, termasuk pada bbri saham yang harganya dinilai sudah menarik secara valuasi.
Kesimpulan
Kenaikan tipis IHSG pada pembukaan pekan bukan jaminan bahwa pasar sudah pulih. Tekanan jual asing yang masif, terutama pada bbri saham dan saham bank besar lainnya, menjadi pengingat bahwa optimisme perlu dikelola dengan hati-hati. Investor disarankan menerapkan strategi buy on weakness secara selektif, memantau level support 5.350, serta menunggu konfirmasi lanjutan sebelum melakukan akumulasi lebih agresif. Di tengah ketidakpastian global dan evaluasi MSCI, ketenangan dan disiplin dalam mengambil keputusan akan menjadi kunci bagi pelaku pasar.
