Bukan Sekadar Malas: Menguak Kepribadian di Balik Kebiasaan Menunda hingga Mepet Deadline
Inforiau – 28 Oktober 2026 | Menunda pekerjaan hingga mendekati tenggat waktu kerap dicap sebagai tanda kemalasan atau minim disiplin. Padahal, menurut sejumlah pengamat perilaku, kebiasaan tersebut erat kaitannya dengan kepribadian dan cara seseorang memandang tugas, menghadapi tekanan, serta mengelola rasa tidak nyaman saat harus menyelesaikan pekerjaan. Sebagian orang menunda karena takut gagal, sementara yang lain terlalu terpaku pada kesempurnaan atau merasa kesulitan mengerjakan tugas yang dianggap membosankan.
Psikolog Jayson Moran menjelaskan bahwa kebiasaan menunda atau procrastination dapat dipengaruhi oleh pola pikir yang memunculkan kecemasan, kebosanan, maupun frustrasi. Ia menguraikan enam pola yang berkaitan dengan perilaku menunda pekerjaan. Namun, pola-pola tersebut bukan ciri kepribadian yang menetap, karena seseorang dapat menunjukkan pola berbeda dalam situasi yang berbeda.
Enam Pola Pikir di Balik Kebiasaan Menunda
Salah satu pola yang paling sering muncul adalah kecenderungan mengkhawatirkan kegagalan sebelum memulai. Seseorang mungkin merasa tugas yang dihadapi terlalu sulit atau meragukan kemampuannya sendiri sehingga memilih menunda daripada mengambil risiko mendapatkan hasil yang tidak sesuai harapan. Menunda memberi kelegaan sementara karena orang tersebut belum harus menghadapi kemungkinan gagal. Namun, jika pekerjaan terus dihindari, waktu untuk menyelesaikannya semakin sempit, sehingga kekhawatiran yang semula ingin dihindari justru bertambah ketika tenggat waktu mendekat.
Pola berikutnya berkaitan dengan kecenderungan perfeksionis. Orang dengan sifat ini dapat menunda pekerjaan karena ingin memastikan semuanya berjalan sesuai standar yang ditetapkan. Mereka merasa belum siap memulai sebelum seluruh persiapan selesai atau khawatir hasil akhirnya tidak cukup baik. Sebagai contoh, seseorang terus menunda penyusunan laporan karena merasa masih perlu mengumpulkan informasi tambahan. Padahal, memulai dengan persiapan yang tersedia dan menyempurnakannya secara bertahap bisa menjadi pilihan yang lebih realistis.
Ada pula pola yang disebut the over-doer, yaitu orang yang cenderung menerima terlalu banyak tugas sekaligus hingga kesulitan menentukan pekerjaan mana yang harus diselesaikan lebih dulu. Kebiasaan menunda dalam pola ini tidak lahir dari keengganan bekerja, melainkan dari beban yang menumpuk dan prioritas yang kabur.
Kepribadian juga Terbaca dari Kebiasaan Kecil
Menariknya, kepribadian seseorang kerap tercermin dari kebiasaan sehari-hari yang tampak sederhana. Cara berjabat tangan, misalnya, menjadi bagian dari komunikasi nonverbal yang memengaruhi kesan pertama. Jabat tangan yang mantap dan tidak terlalu singkat diasosiasikan dengan karakter percaya diri, berani menyampaikan pendapat, serta nyaman berada di tengah lingkungan sosial. Sebaliknya, genggaman yang sangat ringan kadang dikaitkan dengan sifat pemalu atau pendiam. Meski begitu, gaya berjabat tangan tidak bisa dijadikan patokan mutlak karena kebiasaan, situasi, dan budaya turut memengaruhinya.
Kebiasaan makan pun bisa memberi petunjuk. Orang yang memilih menikmati makanan tanpa menonton layar umumnya terbiasa memberikan perhatian pada satu kegiatan dalam satu waktu. Mereka memanfaatkan waktu makan untuk mengenali kebutuhan tubuh, seperti rasa lapar dan kenyang, sekaligus beristirahat sejenak dari rutinitas. Pilihan ini menunjukkan bagaimana seseorang mengatur fokus dan waktu, meski tidak selalu menjamin pola makan yang teratur.
Sementara itu, dalam relasi sosial, sejumlah pola komunikasi tertentu dapat menandakan kecenderungan narsistik. Orang dengan kecenderungan ini terkadang menggunakan kata-kata yang membuat orang lain merasa bersalah, meragukan ingatan sendiri, hingga menganggap dirinya sebagai sumber masalah. Kalimat semacam itu bisa terdengar sederhana, tetapi jika terus berulang dan digunakan untuk menghindari tanggung jawab, dampaknya dapat mengganggu kesehatan emosional orang yang mengalaminya. Perilaku ini dapat ditemukan dalam hubungan romantis, pertemanan, keluarga, maupun lingkungan kerja.
Memahami Diri Lewat Tes Ringan
Untuk mengenal kepribadian lebih baik, banyak orang memilih tes ilusi optik yang viral di media sosial. Dalam salah satu tes, seseorang diminta menyebut gambar yang pertama kali dilihat, apakah bunga atau wajah perempuan. Mereka yang pertama melihat bunga dijuluki si paling tenang, bersikap santai dan menyenangkan, serta cenderung menjadi people pleaser karena sulit menolak orang lain. Namun, mereka juga bisa tidak sabar ketika sesuatu tidak segera selesai. Perlu dicatat, tes semacam ini bersifat hiburan dan tidak menggantikan asesmen psikologis yang mendalam.
Kesimpulan
Dari kebiasaan menunda hingga cara berjabat tangan, setiap perilaku kecil ternyata menyimpan petunjuk tentang kepribadian seseorang. Memahami alasan di balik perilaku tersebut dapat membantu menjelaskan mengapa seseorang terus menunda pekerjaan meskipun mengetahui konsekuensinya. Alih-alih melabeli diri atau orang lain secara negatif, langkah yang lebih bijak adalah mengenali pola pikir yang muncul, memulai pekerjaan dengan sumber daya yang ada, dan menyempurnakannya secara bertahap. Dengan begitu, kebiasaan menunda dapat dikelola tanpa harus menyalahkan diri sendiri, sekaligus membuka ruang untuk tumbuh lebih baik setiap hari.
