Bursa Capres 2029 Mulai Menghangat, Pengamat Bongkar Peluang Tokoh Senior PDIP Selain Puan dan Ganjar
Inforiau – 24 Oktober 2026 | Bursa capres 2029 mulai menghangat, pengamat bongkar peluang tokoh senior PDIP selain Puan dan Ganjar menjadi sorotan utama setelah sejumlah lembaga survei merilis hasil elektabilitas yang saling bertolak belakang pada Oktober 2026. Perang survei Pilpres 2029 pun kian terasa, terutama dalam merespons dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Ketika bursa capres 2029 mulai menghangat, pengamat bongkar peluang tokoh senior PDIP selain Puan dan Ganjar sebagai alternatif yang layak diperhitungkan di tengah dominasi nama-nama besar.
Dua lembaga survei bereputasi, Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) dan Parameter Politik Indonesia (PPI), merilis hasil yang mengejutkan publik. Dalam rilis PPI, Prabowo Subianto memimpin jauh di angka 31,6 persen. Namun dalam rilis SMRC, posisi puncak justru direbut Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dengan 35,5 persen, meninggalkan Prabowo di urutan ketiga dengan 9,8 persen. Analis politik Kristian Widya Wicaksono menilai perbedaan itu disebabkan oleh variasi metodologi dan teknik pengumpulan data masing-masing lembaga. Perbedaan angka elektabilitas berpotensi membentuk citra politik, memengaruhi psikologis publik, serta memerlukan pemeriksaan laporan metodologi secara kritis.
Peta Elektabilitas yang Super Ketat
Survei PPI bertajuk Evaluasi 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran yang dirilis Minggu, 12 Oktober 2026, melibatkan 1.200 responden di 38 provinsi dengan margin of error 2,83 persen. Direktur Eksekutif PPI Adi Prayitno menjelaskan, lembaganya melakukan tiga simulasi capres. Pada simulasi terbuka, Prabowo masih menjadi raja dengan elektabilitas 31,6 persen, disusul Dedi Mulyadi 11,4 persen yang berhasil mengasapi Anies Baswedan dengan 10,1 persen. Gibran Rakabuming Raka dengan 6,9 persen menempel ketat Ganjar Pranowo 4,4 persen dan Agus Harimurti Yudhoyono 2,3 persen.
Saat simulasi dikerucutkan menjadi 17 nama ketua umum parpol, Prabowo naik menjadi 34,0 persen, Anies 19,4 persen, lalu AHY 11,1 persen dan Gibran 10,9 persen dengan selisih hanya 0,2 persen. Sementara itu, survei SMRC mencatat Dedi Mulyadi di posisi teratas dengan 35,5 persen, diikuti Anies Baswedan 10,3 persen dan Prabowo 9,8 persen. Nama Purbaya Yudhi Sadewa dan Ganjar Pranowo sama-sama mengantongi 5,0 persen, disusul AHY 2,1 persen, Sherly Tjoanda Laos 1,8 persen, Mahfud MD 1,7 persen, Kaesang Pangarep 1,2 persen, dan Pramono Anung Wibowo 1,0 persen.
Peluang Tokoh Senior PDIP di Tengah Dinamika
Menariknya, dalam bursa capres 2029 mulai menghangat, pengamat bongkar peluang tokoh senior PDIP selain Puan dan Ganjar yang selama ini jarang disorot. Puan Maharani tercatat hanya 1,4 persen dalam survei PPI, sementara Ganjar Pranowo berada di kisaran 4,4 hingga 5,0 persen. Kondisi ini membuka ruang diskusi mengenai kader senior lain yang memiliki rekam jejak panjang, termasuk Pramono Anung yang kini menjabat Gubernur DKI Jakarta dan mencatat elektabilitas 1,0 hingga 1,6 persen.
Pengamat menilai mesin partai masih menjadi faktor penentu utama. Selama bursa capres 2029 mulai menghangat, pengamat bongkar peluang tokoh senior PDIP selain Puan dan Ganjar sangat bergantung pada kemampuan membangun basis massa di luar Jawa dan merawat kedekatan dengan akar rumput. Nama-nama seperti Pramono Anung dinilai memiliki modal pengalaman pemerintahan, tetapi masih membutuhkan lonjakan popularitas yang signifikan agar mampu bersaing dengan figur seperti Dedi Mulyadi, Anies Baswedan, dan Gibran.
Data Survei dalam Angka
| Tokoh | SMRC (%) | PPI 17 Nama (%) |
|---|---|---|
| Dedi Mulyadi | 35,5 | 11,4 (simulasi terbuka) |
| Anies Baswedan | 10,3 | 19,4 |
| Prabowo Subianto | 9,8 | 34,0 |
| AHY | 2,1 | 11,1 |
| Gibran Rakabuming | – | 10,9 |
| Ganjar Pranowo | 5,0 | 4,4 |
| Puan Maharani | – | 1,4 |
| Pramono Anung | 1,0 | 1,6 |
Perbedaan mencolok antara dua lembaga survei menjadi pengingat bagi publik untuk tidak membaca angka secara tunggal. Kristian Widya Wicaksono menekankan pentingnya memeriksa laporan metodologi, termasuk cara penyusunan sampel dan teknik wawancara, sebelum menyimpulkan peta kekuatan politik. Survei, menurutnya, sejatinya adalah potret sesaat yang bisa bergeser seiring dinamika isu dan kinerja pemerintahan.
Di sisi lain, kemunculan Dedi Mulyadi sebagai kejutan survei menunjukkan bahwa elektabilitas bukan harga mati milik tokoh nasional lama. Gaya komunikasi yang dekat dengan warga membuat Gubernur Jawa Barat itu menyalip nama-nama besar. Fenomena ini memperkaya peta persaingan menjelang Pilpres 2029 dan menuntut setiap partai, termasuk PDIP, untuk cermat memilih kandidat yang benar-benar memiliki daya tarik elektoral.
Dengan dinamika yang terus berkembang, bursa capres 2029 mulai menghangat, pengamat bongkar peluang tokoh senior PDIP selain Puan dan Ganjar sebagai bagian dari strategi partai merawat basis konstituen. Publik pun diharapkan kritis menyikapi setiap rilis survei, sebab perang angka di ruang publik kerap berubah menjadi perang framing yang mampu menggiring persepsi.
Sebagai penutup, peta bursa capres 2029 masih sangat cair. Dominasi Prabowo dalam sejumlah simulasi, kejutan Dedi Mulyadi, serta ketatnya persaingan Anies, AHY, dan Gibran memperlihatkan bahwa kontestasi belum menemukan bentuk final. Bagi PDIP, peluang kader senior selain Puan dan Ganjar tetap terbuka selama mampu membangun elektabilitas yang terukur dan diterima basis massa. Yang terpenting, publik perlu menempatkan survei sebagai bahan refleksi, bukan kebenaran tunggal, agar demokrasi berjalan dengan nalar yang sehat menuju Pilpres 2029.
