Cerita Pramono Anung Usai Lari di JRF 2026: Jujur Sudah Ngap-ngapan, Tapi Tetap Finis
Inforiau – 26 Oktober 2026 | JAKARTA — Cerita Pramono Anung usai lari di JRF 2026: jujur sudah ngap-ngapan menjadi salah satu momen paling menarik dari gelaran Jakarta Running Festival (JRF) 2026. Gubernur DKI Jakarta itu ternyata tak hanya melepas peserta, tetapi juga turun langsung ke lintasan untuk mengikuti kategori 10 kilometer (10K) bersama ribuan pelari dari berbagai negara pada Minggu (25/10/2026) pagi.
Pramono melepas peserta kategori Full Marathon (FM) dan 10K di Jalan APEC, Pintu 7, kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta Pusat, sekitar pukul 04.00 WIB. Setelah itu, ia langsung bersiap mengikuti kategori 10K. Usai melewati garis finis, Pramono tak sungkan mengakui kondisinya. “Saya sebenarnya kalau mau jujur udah ngap-ngapan,” kata Pramono dalam sesi doorstop bersama wartawan di kawasan GBK.
Cerita Pramono Anung usai lari di JRF 2026: jujur sudah ngap-ngapan itu juga diwarnai pengakuan soal persiapan yang minim. Ia mengaku baru bisa tidur sekitar pukul 01.00 WIB, padahal sempat berencana tidur pukul 21.00 WIB. Belum lagi ia harus bangun pukul 03.00 WIB untuk melepas peserta full marathon yang flag off pukul 04.00 WIB.
“Persiapannya saya sebenarnya semalam pengin tidur jam 21.00, tapi mungkin baru tidur jam 01.00, jam 03.00 sudah bangun, karena flag off jam 04.00 pagi tadi,” tuturnya.
Meski begitu, Pramono berhasil menyelesaikan lomba 10K dengan catatan waktu 1 jam 49 menit. Catatan itu belum melampaui rekor pribadi atau personal best (PB) yang pernah diraihnya, yakni 1 jam 32 menit. “Enggak PB, dulu 1 jam 32,” ujarnya.
Menariknya, semangat Pramono kembali muncul berkat dukungan penonton. Menurut dia, sorak-sorai dan permintaan foto dari masyarakat di sepanjang lintasan menjadi energi tambahan untuk terus berlari hingga finis. “Yang membuat semangat pertama cheering-nya, yang kedua memang yang minta foto banyak banget,” kata dia.
JRF 2026 Diikuti 37 Ribu Pelari dari 48 Negara
Jakarta Running Festival 2026 tercatat diikuti sekitar 37.000 pelari dari 48 negara, termasuk lebih dari 1.000 pelari internasional. Kategori full marathon sendiri diikuti sekitar 4.500 peserta dari 48 negara. Antusiasme peserta menjadi salah satu penanda meningkatnya kepercayaan dunia terhadap Jakarta sebagai tuan rumah ajang olahraga internasional.
“Hari ini saya mengikuti Jakarta Running Festival 2026 kategori 10K. Event ini menunjukkan Jakarta semakin dipercaya sebagai tuan rumah ajang lari internasional,” ujar Pramono.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pun mendukung penyelenggaraan ajang ini melalui berbagai fasilitas agar lomba berlangsung aman, tertib, dan nyaman. Salah satunya, transportasi publik gratis bagi peserta pada 24–25 Oktober 2026 dengan menunjukkan race pack, nomor dada (bib), atau jersey resmi. MRT Jakarta juga memajukan jam operasional menjadi pukul 03.00 WIB untuk memudahkan peserta menuju lokasi lomba sekaligus mengurangi kepadatan lalu lintas di sekitar GBK.
Dari aspek kesehatan, Pemprov DKI menyiagakan layanan di 31 rumah sakit umum daerah (RSUD), 44 puskesmas, dan 292 puskesmas pembantu. Ambulans serta tenaga medis terlatih turut disiapkan di sepanjang rute lomba. Kenyamanan pelari juga dijaga melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dan penyemprotan kabut air atau water mist di sejumlah ruas jalan lintasan.
Pramono Puji Kualitas Udara Jakarta
Dalam kesempatan itu, Pramono juga menyoroti kualitas udara di Jakarta yang berada di angka 65–66. Ia menilai upaya menjaga kualitas udara menjadi hal penting untuk mendukung kenyamanan masyarakat saat berolahraga di ibu kota. Udara yang lebih baik, menurutnya, membuat pengalaman berlari di Jakarta semakin menyenangkan.
Pramono juga memuji penyelenggaraan JRF 2026 yang dinilainya berlangsung tertib dan berkesan. Ia berharap ajang ini dapat menjadi contoh atau role model bagi penyelenggaraan maraton, half marathon, 10K, maupun 5K di Indonesia.
“Menurut saya ini bisa menjadi role model maraton ataupun half marathon maupun 10 kilo, 5 kilo yang ada di Indonesia. Sekali lagi saya ingin menyampaikan mengucapkan terima kasih kepada Jakarta Running Festival atas penyelenggaraan yang sungguh sangat baik dan berkesan,” kata Pramono.
Aturan Cut-Off Time Wajib Dipatuhi
Di sisi lain, Pramono menegaskan seluruh peserta JRF 2026 wajib mematuhi batas waktu penyelesaian lomba atau cut-off time. Penegasan itu muncul menyusul viralnya seorang peserta kategori setengah maraton yang melewati batas waktu pada Sabtu (24/10/2026).
Menurut Pramono, ketentuan tersebut harus dipatuhi karena berkaitan dengan standar penyelenggaraan kompetisi, terutama kategori setengah maraton yang telah berstatus Gold Label. “Karena half marathon itu kan sudah masuk dalam Gold Medal. Karena sudah masuk dalam Gold Medal, aturannya itu juga ketat. Itu bukan aturan yang dibuat oleh panitia, tetapi itu memang aturannya Gold Medal,” jelasnya.
Meski menegaskan pentingnya kepatuhan terhadap aturan, Pramono menyatakan tidak ada ketentuan yang mengharuskan peserta yang melewati batas waktu dimasukkan ke dalam daftar hitam.
Cerita Pramono Anung usai lari di JRF 2026: jujur sudah ngap-ngapan pun menjadi gambaran bahwa ajang ini bukan sekadar kompetisi, tetapi juga pesta olahraga yang melibatkan antusiasme warga. Cerita Pramono Anung usai lari di JRF 2026: jujur sudah ngap-ngapan menunjukkan sisi manusiawi seorang pejabat yang tetap menikmati olahraga meski kondisi fisik tak ideal.
Dengan waktu 1 jam 49 menit, dukungan penonton, dan penyelenggaraan yang tertib, Pramono mengaku sungguh menikmati perlombaan. “Saya sungguh sangat menikmati,” ucapnya. Ke depan, JRF diharapkan terus menjadi barometer penyelenggaraan lari internasional di Indonesia sekaligus mendorong gaya hidup sehat di ibu kota.
Editor: Sukri Mustakim
