Destry Damayanti di Pusaran Gejolak Global: Jaga Rupiah, Waspadai Inflasi Pangan 5 Persen
Inforiau – 20 Oktober 2026 | Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti kembali menjadi sorotan setelah dua hari berturut-turut dipanggil Presiden Prabowo Subianto ke Istana Kepresidenan, Jakarta, bersama Menteri Keuangan Suahasil Nazara. Di tengah tekanan ekonomi global yang belum mereda, Destry Damayanti memastikan bank sentral terus berjaga di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus mengawal inflasi pangan yang menyentuh 5 persen.
Dalam keterangan pers usai rapat terbatas bidang ekonomi pada Senin malam, 19 Oktober 2026, Destry Damayanti menjelaskan bahwa Bank Indonesia mengandalkan sejumlah instrumen untuk menstabilkan rupiah, mulai dari intervensi di pasar spot, non-deliverable forward (NDF), hingga insentif biaya lindung nilai yang telah diberikan sejak akhir Juni 2026.
“Intinya, Bank Indonesia akan selalu tetap berjaga di pasar,” kata Destry di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.
Langkah tersebut, menurut Destry, mulai membuahkan hasil. Aliran dana masuk ke pasar keuangan domestik tercatat sekitar 8 miliar hingga 9 miliar dolar Amerika Serikat melalui instrumen swap dan domestic non-deliverable forward (DNDF). Meski demikian, ia mengingatkan bahwa upaya menjaga rupiah tidak cukup hanya dengan intervensi pasar, karena ketidakpastian arah kebijakan suku bunga negara-negara maju masih menjadi faktor eksternal yang perlu diantisipasi.
Dua Hari Berturut-turut ke Istana
Agenda ekonomi menjadi fokus utama pertemuan di Istana. Selain Destry dan Suahasil, hadir pula Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto serta Kepala Badan Pengaturan BUMN Dony Oskaria. Saat ditanya awak media mengenai agenda rapat, Destry Damayanti hanya menjawab singkat, “Ekonomi, ya.”
Dari sisi fiskal, Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengungkapkan rencana pemerintah menggenjot belanja APBN sebesar Rp 1.300 triliun pada kuartal keempat 2026. Angka itu lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 1.200 triliun. Belanja tersebut diarahkan untuk mendorong konsumsi masyarakat, layanan publik, perlindungan sosial, serta penyaluran bantuan pangan.
“Jadi, belanja APBN akan terus lebih tinggi dibandingkan Q4 tahun lalu,” ujar Suahasil. Ia menambahkan, Kementerian Keuangan bersama Bank Indonesia akan terus bekerja sama memastikan stabilitas sektor keuangan, sekaligus mendukung OJK dalam pengawasan mikroprudensial.
Waspadai Inflasi Pangan
Di sisi lain, Destry Damayanti menyoroti perkembangan inflasi. Secara umum inflasi nasional masih terkendali di level 2,8 persen, namun inflasi kelompok pangan bergejolak atau volatile food telah mencapai 5 persen pada September 2026. Kondisi ini dinilai perlu perhatian khusus karena berpotensi memengaruhi stabilitas harga kebutuhan masyarakat.
Bank Indonesia akan memperkuat koordinasi dengan kementerian terkait, termasuk sektor pertanian, agar tekanan harga pangan kembali berada dalam sasaran inflasi yang ditetapkan. Langkah ini menjadi bagian dari strategi menjaga daya beli masyarakat di tengah gejolak eksternal.
Perkuat Ekonomi Syariah
Di tengah kesibukan menjaga stabilitas moneter, Destry Damayanti juga menutup gelaran Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) ke-13 yang berlangsung pada 14–18 Oktober 2026. Ajang tersebut mencatat transaksi pembiayaan dan perdagangan syariah sebesar Rp 3,16 triliun.
Menurut Destry, pengembangan ekonomi dan keuangan syariah membutuhkan sinergi berbagai pihak. Indonesia memiliki modal besar sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, dan berdasarkan laporan State of the Global Islamic Economy 2025-2026, Indonesia bertahan di peringkat keempat dunia.
“Model ekonomi berbasis syariah dia akan sangat memperhatikan masalah inklusif. Jadi enggak ada pihak mana pun yang terlewati, jadi istilahnya no one left behind,” ujarnya saat membuka ISEF.
Rangkaian ISEF mencakup seminar, lokakarya, peragaan modest fashion, business matching, serta kegiatan yang melibatkan pesantren dan komunitas. Destry menilai forum ini menjadi jembatan bagi pelaku usaha untuk memperluas jaringan dan membuka peluang pasar yang lebih besar, termasuk ke luar negeri.
Dengan kombinasi kebijakan moneter yang waspada, koordinasi fiskal yang erat, dan penguatan ekosistem keuangan syariah, langkah Destry Damayanti dan jajaran Bank Indonesia menjadi kunci dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional menghadapi ketidakpastian global yang masih membayangi.
