Detik-detik Ricuh Pendemo Lempar Bom Molotov hingga Petasan ke Arah Barikade Polisi di Prancis: Aksi Anarkis Warnai Demo Bandung, Truk Dalmas Dibakar
Inforiau – 26 Oktober 2026 | Detik-detik ricuh pendemo lempar bom molotov hingga petasan ke arah barikade polisi di Prancis menjadi sorotan, namun aksi serupa juga terjadi di Bandung, Jawa Barat. Aksi demonstrasi yang berlangsung pada Selasa (21/10) malam berujung ricuh. Massa menyerang truk Pengendali Masyarakat (Dalmas) Polri di persimpangan Dago-Sulanjana, Kota Bandung. Peristiwa ini diduga dipicu oleh pelemparan bom molotov, batu, kembang api, dan petasan ke arah aparat. Insiden tersebut menambah daftar panjang kericuhan dalam aksi unjuk rasa yang menuntut transparansi pemerintahan.
Kronologi Kericuhan di Bandung
Kericuhan bermula sekitar pukul 21.00 WIB. Personel kepolisian yang baru selesai mengamankan demonstrasi hendak kembali ke kawasan Dago-Cikapayang. Namun, sekelompok orang yang mengenakan pakaian serba hitam tiba-tiba menyerang mereka. Dalam video yang beredar, terlihat truk Dalmas Polri dibakar massa. Api dan asap membumbung tinggi dari bagian dalam truk. Sejumlah polisi berseragam bergegas turun dari truk untuk menghindari amukan massa. Teriakan warga merekam momen tersebut: “Mobil polisi dibakar, woi, dibakar!”
Kapolrestabes Bandung Kombes Dedi Supriyadi membenarkan insiden tersebut. “Anggota kita selesai melakukan pengamanan demonstrasi dan hendak kembali ke Dago Cikapayang. Namun, tiba-tiba mereka diserang oleh sekelompok orang yang melempari anggota dengan batu, kembang api, petasan, dan bom molotov,” ujarnya. Akibat serangan itu, tiga anggota polisi dilaporkan mengalami luka di bagian kepala dan tangan. Ketiganya telah dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.
Vandalisme dan Aksi Bakar-bakaran
Tak hanya penyerangan terhadap truk polisi, aksi vandalisme juga terjadi di sejumlah titik. Di Tugu Simpang Lima, Bandung, para demonstran menuliskan pesan-pesan terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran. Di kawasan Braga, aksi bakar-bakaran sempat terjadi meski tidak berujung bentrokan. Massa sebelumnya berkumpul di Jalan Asia Afrika sejak siang hari, lalu bergerak menuju Simpang Lima, melanjutkan ke Jalan Braga, dan menggelar demonstrasi di depan Gedung DPRD Jawa Barat untuk menyampaikan aspirasi.
Polisi telah menyiapkan ribuan personel gabungan untuk mengamankan jalannya demonstrasi. Namun, eskalasi kekerasan tetap terjadi. Hingga saat ini, polisi masih menyelidiki insiden tersebut, termasuk mengidentifikasi orang-orang yang diduga terlibat dalam penyerangan. Aksi ricuh ini mengingatkan pada peristiwa serupa di Prancis, di mana detik-detik ricuh pendemo lempar bom molotov hingga petasan ke arah barikade polisi di Prancis sempat menjadi perhatian dunia. Pola kekerasan dalam demonstrasi seolah menjadi fenomena lintas negara.
Respons dan Langkah Lanjutan
Pihak kepolisian berjanji akan menindak tegas pelaku kekerasan. “Kami akan mengidentifikasi dan menangkap pelaku yang bertanggung jawab,” tegas Kombes Dedi. Sementara itu, massa aksi menuntut pemerintah segera merespons aspirasi mereka. Situasi di Bandung berangsur kondusif setelah aparat keamanan melakukan penyisiran. Namun, jejak kerusakan dan luka-luka masih terasa.
Dalam konteks global, aksi demonstrasi yang berujung anarkis kerap terjadi. Detik-detik ricuh pendemo lempar bom molotov hingga petasan ke arah barikade polisi di Prancis menjadi contoh bagaimana unjuk rasa dapat berubah menjadi kekerasan. Di Bandung, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya dialog dan penegakan hukum yang adil. Aparat keamanan diimbau untuk mengedepankan pendekatan persuasif, sementara massa diminta menyalurkan aspirasi secara damai.
Kesimpulan
Kericuhan dalam demonstrasi di Bandung yang dipicu oleh pelemparan bom molotov dan petasan ke arah polisi merupakan cerminan dari ketegangan yang terjadi di banyak negara, termasuk Prancis. Detik-detik ricuh pendemo lempar bom molotov hingga petasan ke arah barikade polisi di Prancis menunjukkan bahwa kekerasan dalam demonstrasi bukanlah hal baru. Diperlukan kedewasaan bersama antara pemerintah, aparat, dan masyarakat agar aspirasi dapat tersampaikan tanpa merugikan pihak lain. Penegakan hukum yang transparan dan responsif menjadi kunci untuk mencegah eskalasi kekerasan di masa depan.
