Dua Tahun Prabowo-Gibran, Lampung Dituntut Berbenah: Petani Minta Ekosistem Pertanian Diperkuat, Bukan Sekadar Produksi
Inforiau – 25 Oktober 2026 | Memasuki 2 tahun jadi presiden, Prabowo diminta perkuat ekosistem pertanian di Lampung agar potensi daerah sebagai penyangga pangan nasional benar-benar berdampak pada kesejahteraan petani. Permintaan itu mengemuka dalam diskusi publik bertajuk “Lampung sebagai Lumbung Pangan Nasional” yang digelar Peduli Tani Indonesia di Maco Cafe & Eatery, Bandar Lampung, Sabtu (24/10/2026). Forum tersebut dihadiri puluhan mahasiswa, perwakilan masyarakat, dan insan pers yang membahas strategi pengembangan pertanian serta peluang keterlibatan generasi muda.
Perwakilan mahasiswa, Yudha Priyanda, menilai Lampung memiliki beragam komoditas unggulan yang berpotensi menjadi modal penting untuk memperkuat kontribusi daerah terhadap agenda ketahanan pangan nasional. Namun menurut dia, pekerjaan pemerintah tidak boleh berhenti pada penambahan hasil produksi. Penguatan tata niaga dan pengolahan hasil pertanian dinilai sama pentingnya agar manfaat ekonomi benar-benar dirasakan petani.
“Lampung merupakan salah satu daerah penyangga pangan nasional. Potensi ini perlu dikelola dengan baik agar manfaat ekonominya semakin dirasakan petani dan masyarakat,” kata Yudha di hadapan peserta diskusi.
Dalam konteks itulah, desakan agar pada 2 tahun jadi presiden, Prabowo diminta perkuat ekosistem pertanian di Lampung semakin relevan. Sebab, hilirisasi menjadi kata kunci untuk meningkatkan daya saing komoditas lokal. Pengolahan singkong, kopi, lada, dan berbagai hasil pertanian lainnya dinilai berpeluang menciptakan produk bernilai tambah sekaligus membuka lapangan kerja baru di daerah.
Kolaborasi dan Stabilitas Harga Jadi PR Bersama
Yudha juga mendorong kolaborasi antara pemerintah, petani, DPRD, dan pelaku industri untuk memperkuat ekosistem pertanian, termasuk dalam menjaga stabilitas harga dan memperbaiki distribusi hasil panen. Menurutnya, tanpa perbaikan tata niaga, lonjakan produksi justru bisa menekan harga di tingkat petani dan memicu kerugian.
Senada dengan itu, Founder Peduli Tani Indonesia Erza Refenza menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam membangun pertanian modern yang produktif dan berdaya saing. Pengembangan sektor pertanian, katanya, perlu didukung inovasi teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan dunia usaha.
Erza menilai pertanian dapat menjadi sektor yang menjanjikan bagi anak muda, bukan hanya dalam kegiatan produksi, tetapi juga melalui pengembangan teknologi, pengolahan hasil panen, dan penciptaan usaha baru. Ia mencontohkan pengembangan alat pengering hasil pertanian berbasis listrik atau portable electric exhaust pet dryer sebagai salah satu bentuk inovasi teknologi yang dapat dikembangkan untuk mendukung kegiatan usaha.
“Pembahasan pertanian harus diarahkan pada solusi dan peluang bisnis ke depan, termasuk bagaimana anak muda Lampung mengambil peran dalam pengembangan sektor ini,” ujar Erza.
Modal Nasional yang Menuntut Tindak Lanjut
Desakan tersebut berangkat dari capaian pangan nasional yang mulai menunjukkan hasil. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyatakan delapan komoditas telah mencapai swasembada selama dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka. Kedelapan komoditas itu meliputi beras, jagung, gula konsumsi, cabai rawit, cabai besar, telur ayam, daging ayam, dan bawang merah.
Menurut Zulhas, penguatan produksi dalam negeri didukung kebijakan perlindungan harga hasil pertanian, penyediaan pupuk bersubsidi, serta pengembangan ekonomi masyarakat desa. Pemerintah juga tidak lagi mengimpor beras untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat. Cadangan beras pemerintah yang dikelola Perum Bulog tercatat sekitar 4,55 juta ton per 20 Oktober 2026.
Namun, capaian itu belum otomatis menjawab persoalan di tingkat daerah. Itulah sebabnya, pada momentum 2 tahun jadi presiden, Prabowo diminta perkuat ekosistem pertanian di Lampung secara menyeluruh, mulai dari hulu hingga hilir. Lampung dinilai perlu diposisikan bukan hanya sebagai pemasok bahan mentah, tetapi juga sebagai pusat pengolahan yang memberi nilai tambah bagi petani lokal.
Sejumlah hal yang dinilai mendesak untuk dibenahi antara lain:
- Penguatan tata niaga dan distribusi hasil panen agar harga di tingkat petani stabil.
- Pengembangan industri pengolahan singkong, kopi, lada, dan komoditas unggulan lain.
- Peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan adopsi teknologi pertanian.
- Kolaborasi pemerintah, petani, DPRD, perguruan tinggi, dan pelaku industri.
- Insentif dan ruang usaha bagi generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian.
Dengan potensi besar yang dimiliki, Lampung memiliki peluang strategis untuk menjadi penggerak ketahanan pangan nasional. Namun, tanpa penguatan ekosistem yang konsisten, potensi itu berisiko berhenti sebagai wacana. Karena itu, permintaan agar pada 2 tahun jadi presiden, Prabowo diminta perkuat ekosistem pertanian di Lampung menjadi ujian nyata bagi komitmen pemerintah dalam menyejahterakan petani, bukan sekadar mengejar angka produksi.
Diskusi publik ini menunjukkan bahwa harapan publik terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran tidak berhenti pada capaian swasembada. Perbaikan tata kelola, hilirisasi, dan pelibatan anak muda menjadi pekerjaan rumah yang harus segera dituntaskan agar Lampung benar-benar berdiri sebagai lumbung pangan yang berkelanjutan dan berkeadilan bagi warganya.
