Ekonomi RI Tumbuh 5,45 Persen di Tengah Badai Global, Airlangga Sebut Tertinggi di G20
Inforiau – 24 Oktober 2026 | Jakarta – Ekonomi RI tumbuh dengan capaian yang membanggakan pada semester I-2026. Di tengah gejolak perekonomian dunia yang masih dibayangi ketegangan geopolitik dan proteksionisme, Indonesia berhasil mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,45 persen dan disebut sebagai yang tertinggi di antara negara-negara G20. Capaian ini menjadi sinyal kuat bahwa fundamental ekonomi nasional tetap solid meski menghadapi berbagai tekanan eksternal.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memaparkan bahwa angka tersebut mencerminkan ketahanan ekonomi Indonesia yang terjaga. Pertumbuhan ekonomi RI tumbuh di atas lima persen ini dinilai sebagai modal penting untuk mengejar target yang lebih ambisius, termasuk pertumbuhan enam persen pada 2027 mendatang.
Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo turut mengingatkan bahwa prospek ekonomi global pada 2027 diperkirakan membaik dengan pertumbuhan sekitar 3,1 persen dan perdagangan dunia tumbuh 3,3 persen. Meski demikian, risiko geopolitik, proteksionisme, hingga volatilitas pasar keuangan masih membayangi. “Yang encouraging itu PMI Manufaktur, yang sebelumnya di bawah 50, sekarang growing menjadi 52,4. Kita semua tahu kalau PMI di atas 50 artinya terjadi ekspansi, dan manufaktur itu menjadi penyumbang sangat krusial bagi pertumbuhan kita,” ujar Dradjad dalam pidato kuncinya di Jakarta.
Selain pertumbuhan, sejumlah indikator makroekonomi lain juga menunjukkan perbaikan. Inflasi pada September 2026 tercatat sebesar 3,28 persen, sementara realisasi investasi sepanjang Januari-September 2026 mencapai Rp1.539,2 triliun atau tumbuh 7,3 persen secara tahunan. Tingkat pengangguran terbuka berada di angka 4,65 persen dan rasio Gini tercatat 0,368 yang mencerminkan tingkat ketimpangan pendapatan.
Stabilitas sektor keuangan juga dinilai mendukung. Pada Agustus 2026, penyaluran kredit perbankan tumbuh 13,65 persen, sedangkan dana pihak ketiga meningkat 10,94 persen. Rasio kecukupan modal atau CAR tercatat 24,10 persen, sementara rasio kredit bermasalah atau NPL berada di level 2,11 persen. Angka-angka ini memberi ruang bagi pemerintah untuk terus menjalankan program yang menopang daya beli masyarakat.
Pengamat ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Abra Talattov menilai Indonesia masih memiliki peluang mencapai target pertumbuhan enam persen pada 2027. Optimisme itu didasarkan pada ketahanan ekonomi nasional serta perkembangan sejumlah indikator domestik. Pertumbuhan ekonomi sebesar 5,29 persen pada kuartal II 2026 menunjukkan aktivitas perekonomian masih terjaga. “Salah satu sinyal yang kuat yang dilakukan pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi adalah dari sisi belanja pemerintah, itu sampai pertumbuhannya double digit,” ungkap Abra.
Abra juga menyoroti kebijakan penurunan harga pupuk bersubsidi hingga 20 persen serta cadangan beras pemerintah yang disebut mencapai 4,6 juta ton. Namun ia mengingatkan stabilitas harga pangan dan energi tetap perlu dijaga karena berpengaruh terhadap biaya hidup masyarakat. Anggota Dewan Ekonomi Nasional Mochammad Firman Hidayat menambahkan bahwa kemampuan mempertahankan pertumbuhan di atas lima persen menjadi modal untuk mengejar target lebih tinggi.
Di sisi lain, lembaga pemeringkat Fitch Ratings menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,9 persen pada 2026 dari sebelumnya 4,7 persen. Meski revisi ke atas, proyeksi itu masih jauh di bawah target jangka menengah pemerintah sebesar delapan persen. Fitch memperkirakan ekonomi RI tumbuh 5,2 persen sepanjang 2026, namun momentum diproyeksikan melambat pada semester II akibat berkurangnya dukungan fiskal dan kontribusi ekspor neto.
Aspek keberlanjutan juga menjadi perhatian. Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya meminta pemerintah daerah menyelaraskan kebijakan pertumbuhan ekonomi dengan pelestarian lingkungan. “Mengejar pertumbuhan ekonomi, tapi harus peduli juga pada lingkungan,” ujarnya. Ia mendorong pengembangan green jobs serta partisipasi bermakna dari kelompok perempuan, penyandang disabilitas, dan generasi muda dalam perencanaan pembangunan.
Dengan berbagai capaian dan tantangan yang ada, ekonomi RI tumbuh tetap menjadi pondasi penting menuju Indonesia Emas 2045. Sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dunia usaha, dan masyarakat akan menentukan apakah momentum pertumbuhan ini dapat dipertahankan dan ditingkatkan. Selama fundamental ekonomi dijaga dan reformasi struktural terus dijalankan, harapan untuk mencapai pertumbuhan yang lebih tinggi dan inklusif tetap terbuka lebar.
