Ekonomi RI Tumbuh 5,47% pada Kuartal III-2026, Lampaui China dan Jerman
Inforiau – 06 November 2026 | JAKARTA — Ekonomi RI Tumbuh 5,47% secara tahunan pada kuartal III-2026, melampaui proyeksi Bloomberg sekitar 5,20% dan capaian kuartal III-2025 sebesar 5,04%. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat PDB atas dasar harga berlaku Rp6.741 triliun dan atas dasar harga konstan Rp3.633,2 triliun. Secara kumulatif, ekonomi Indonesia tumbuh 5,45% year to date.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut capaian itu lebih tinggi dari sejumlah negara G20, seperti China 4,5%, Korea Selatan 3,4%, Jerman 1,2%, dan Jepang 0,7%. India masih lebih tinggi di 7,8%. Menurutnya, Ekonomi RI Tumbuh melampaui rentang proyeksi IMF, OECD, dan ADB sebesar 5,0%—5,2%.
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,04% dan konsumsi pemerintah 8,95%. Konsumsi pemerintah didorong belanja program Makan Bergizi Gratis serta Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Kontribusi konsumsi rumah tangga mencapai 51,97% terhadap PDB, PMTB 30,81%, dan konsumsi pemerintah 7,28%.
| Indikator | Kuartal III-2026 |
|---|---|
| Pertumbuhan ekonomi | 5,47% (yoy) |
| Konsumsi rumah tangga | 5,04% (yoy) |
| Konsumsi pemerintah | 8,95% (yoy) |
| Transaksi e-commerce | 22,02% (yoy) |
Dari sisi produksi, industri pengolahan tumbuh 1,20%, perdagangan 0,94%, konstruksi 0,62%, serta informasi dan komunikasi 0,49%. Indikator konsumsi juga positif: transaksi barang dan jasa online naik 22,02%, impor barang konsumsi 12,77%, dan transaksi uang elektronik 29,23%. Penjualan sepeda motor dan mobil penumpang masing-masing tumbuh 8,92% dan 25,95%. IKI 52,75 dan PMI Bank Indonesia 52,28 menunjukkan ekspansi.
Menteri Keuangan Suahasil Nazara menegaskan APBN berperan menjaga daya beli, mendukung dunia usaha, dan meredam tekanan eksternal. “Pemerintah akan terus mengoptimalkan APBN untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujarnya. Koordinasi fiskal, moneter, dan sektor keuangan terus diperkuat.
Ke depan, Kepala Ekonom Bank Danamon Irman Faiz merevisi naik proyeksi pertumbuhan 2026 menjadi 5,35% dari 5,20%, dan 2027 menjadi 5,26% dari 5,10%. Optimisme ini didukung meredanya risiko geopolitik setelah Partai Demokrat menguasai House dan Senat AS pada pemilihan sela 3 November 2026, sehingga anggaran tambahan untuk konflik AS-Iran lebih sulit. Harga Brent turun ke US$96,95 per barel pada 5 November 2026, 17,6% di bawah puncak US$117,64; WTI di US$89,44, turun 14,1% dari US$104,12.
Dengan konsumsi domestik yang resilien, investasi yang menguat, ekspor yang terjaga, dan dukungan APBN, Ekonomi RI Tumbuh tetap menjadi salah satu yang terbaik di G20. Namun, pemerintah perlu menjaga stabilitas harga pangan dan energi agar momentum pertumbuhan berlanjut hingga 2027.
Editor: Ahmad Syafwan
