Empat Kapal Tanker Terbakar di Selat Hormuz, Ketegangan Global Memanas
Inforiau – 31 Oktober 2026 | Selat Hormuz kembali menjadi sorotan dunia setelah insiden dramatis yang melibatkan empat kapal tanker minyak. Pada Jumat (30/10), Kor Pengawal Revolusi Iran (IRGC) menyatakan bahwa empat kapal tanker minyak terbakar dan meledak di perairan strategis tersebut. Menurut pernyataan IRGC yang dikutip media negara Iran, kapal-kapal itu berusaha melintasi jalur yang dianggap tidak sah atau tidak diizinkan oleh Teheran. Insiden ini langsung memicu kekhawatiran akan stabilitas pasokan minyak global, mengingat sekitar seperlima kebutuhan minyak dunia melewati Selat Hormuz.
Dalam pernyataan terbarunya, IRGC Navy mengungkapkan bahwa kapal keempat, sebuah tanker yang mengangkut lebih dari 2 juta barel minyak mentah, menabrak ranjau laut dan mengalami ledakan hebat. Sebelumnya, IRGC juga melaporkan bahwa salah satu tanker yang membawa 2 juta barel minyak mentah juga terkena ranjau laut. Hingga berita ini diturunkan, Reuters belum dapat memverifikasi klaim tersebut secara independen. Iran tidak mengidentifikasi kapal-kapal itu, asal negaranya, maupun nasib para awaknya.
Sementara itu, Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan insiden terpisah. UKMTO menerima laporan bahwa sebuah kapal tanker minyak mentah terkena proyektil tak dikenal saat menyelesaikan transit keluar dari Selat Hormuz. Sebelumnya, UKMTO juga melaporkan sebuah kapal terkena proyektil tak dikenal di sisi pelabuhan, sekitar 40 mil laut (74 km) selatan Pulau Lavan, Iran, yang menyebabkan kebakaran di atas kapal. Awak kapal dilaporkan selamat dan tidak ada dampak lingkungan yang dilaporkan. Namun, belum jelas apakah kapal yang disebut UKMTO termasuk dalam empat tanker yang dirujuk IRGC.
Ketegangan di Selat Hormuz telah berlangsung sejak serangan AS-Israel terhadap Iran pada akhir Februari. Sejak itu, Iran membatasi lalu lintas maritim melalui jalur perairan strategis tersebut. Teheran menganggap koridor selatan yang lebih dekat dengan pantai Oman sebagai jalur tidak sah. IRGC menegaskan bahwa kapal-kapal yang melanggar telah menerima beberapa peringatan radio namun mengabaikannya, bahkan mematikan sistem navigasi. Iran juga mengklaim bahwa dua kapal tanker yang melanggar di bagian timur dan barat Selat Hormuz ditahan di perairan selatan selat itu.
Di sisi lain, Amerika Serikat menyatakan telah membersihkan semua rute transit utama yang diakui secara internasional di Selat Hormuz dari ranjau. Klaim Iran tentang kapal tanker yang terkena ranjau belum dapat diverifikasi. Insiden ini terjadi bersamaan dengan meningkatnya harga minyak dunia ke level tertinggi sejak akhir April. Menurut laporan Saxo Bank di Singapura, harga minyak bisa semakin volatil dalam beberapa pekan ke depan seiring dengan pemilu Israel dan pemilu paruh waktu AS pada 3 November.
Selain insiden kapal tanker, media negara Iran melaporkan bahwa pasukan Iran juga menembak jatuh dan menangkap sebuah drone MQM-170 milik AS di atas Pulau Qeshm, dekat Selat Hormuz. Belum ada reaksi langsung dari militer AS, dan Reuters tidak dapat memverifikasi laporan tersebut secara independen. Insiden ini menambah daftar eskalasi di kawasan yang sudah tegang.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran paling vital bagi perekonomian global. Setiap gangguan di wilayah ini berpotensi mengguncang pasar energi dunia dan memicu kenaikan harga minyak yang lebih tinggi. Masyarakat internasional mendesak agar semua pihak menahan diri dan menghormati kebebasan pelayaran. Hingga saat ini, belum ada konfirmasi resmi mengenai identitas kapal maupun penyebab pasti ledakan. Situasi masih terus berkembang dan pantauan di lapangan menunjukkan peningkatan aktivitas militer di sekitar Selat Hormuz.
Dengan berbagai laporan yang saling bertentangan, kebenaran di balik insiden ini masih menjadi tanda tanya besar. Yang pasti, Selat Hormuz kembali menegaskan posisinya sebagai titik rawan yang dapat memicu konflik lebih luas. Dunia pun menanti langkah diplomatik untuk meredakan ketegangan yang kian memanas.
