Erik ten Hag Peringatkan MU di Ambang Jurang Degradasi: Krisis 9 Laga Tanpa Kemenangan Mengancam Old Trafford
Inforiau – 02 November 2026 | Mantan pelatih Manchester United, erik ten hag, melontarkan peringatan mengejutkan yang mengguncang jagat sepak bola Inggris. Di tengah krisis berkepanjangan yang melanda klub berjuluk Setan Merah itu, Ten Hag menilai bahwa ancaman degradasi kini bukan sekadar isapan jempol, melainkan skenario nyata yang harus diwaspadai. Peringatan tersebut disampaikannya setelah Manchester United terpuruk di peringkat ke-17 klasemen sementara Liga Primer dengan koleksi hanya sembilan poin dari sembilan pertandingan.
Kekalahan 0-2 dari Chelsea pada pekan kesembilan menjadi pukulan telak terbaru bagi skuad asuhan Michael Carrick. Hasil itu memperpanjang rekor buruk tanpa kemenangan menjadi sembilan laga beruntun di semua kompetisi, sekaligus menempatkan MU tepat di atas zona merah. Bahkan, posisi mereka sempat terancam turun ke tiga terbawah pada akhir pekan lalu, meski akhirnya diselamatkan oleh kegagalan Crystal Palace, Nottingham Forest, dan Sunderland meraih kemenangan.
Rekor Terburuk Sejak Era 1970-an
Yang lebih mengkhawatirkan, Manchester United belum sekali pun meraih kemenangan dalam tujuh laga tandang pertama mereka di semua kompetisi musim ini. Catatan tersebut menjadi torehan terburuk klub sejak musim 1973-1974, periode kelam ketika MU benar-benar terdegradasi dari kasta tertinggi sepak bola Inggris. Fakta historis ini memperkuat kekhawatiran yang disampaikan oleh erik ten hag mengenai potensi bencana serupa terulang lebih dari setengah abad kemudian.
Dalam wawancara dengan program Goedemorgen Eredivisie, erik ten hag menegaskan bahwa di Liga Primer, segala kemungkinan bisa terjadi. Menurutnya, seluruh tim di kompetisi tersebut memiliki kualitas merata, baik dari segi skuad maupun kualitas pelatih. Ia mengingatkan bahwa ketika sebuah klub terperangkap dalam spiral negatif, situasi bisa berubah menjadi sangat sulit untuk dikendalikan.
Tekanan Menggunung di Pundak Carrick
Posisi Carrick sebagai pelatih kini berada di ujung tanduk. Menurut informasi yang beredar, manajemen sempat memberi kesempatan hingga jeda internasional berikutnya untuk memperbaiki performa. Namun, penampilan memalukan di London membuat tekanan terhadap strategi asal Inggris itu semakin besar. Laga melawan Roma di Liga Champions pada Selasa, dilanjutkan pertemuan dengan Aston Villa di Liga Primer, berpotensi menjadi penampakan terakhir Carrick di kursi pelatih jika gagal membawa tim keluar dari krisis.
Menariknya, erik ten hag sendiri saat ini menjabat sebagai direktur teknik di klub lamanya, FC Twente, setelah sempat menangani Bayer Leverkusen dalam periode singkat. Ia diberhentikan Manchester United pada Oktober 2024 akibat performa buruk. Meski demikian, pelatih berusia 56 tahun itu tetap yakin kontribusinya bagi Setan Merah layak mendapat apresiasi lebih besar.
Bela Diri Ten Hag atas Masa Kepemimpinannya
Dalam pembelaannya, erik ten hag mengenang bahwa sebelum kedatangannya, Manchester United telah melewati enam tahun tanpa meraih satu pun trofi. Bersama dirinya, klub enam kali tampil di Wembley, dua kali mencapai final Piala FA, meraih dua gelar, serta finis di posisi ketiga klasemen. Ia juga menyoroti bahwa timnya sempat memainkan sepak bola yang atraktif sebelum memasuki fase sulit yang tak terhindarkan di kompetisi seketat Liga Primer.
Kendati demikian, Ten Hag turut menyoroti kesalahan manajemen dalam kebijakan transfer masa lalu. Ia menilai sejumlah pembelian mahal di era kepemimpinannya tidak memenuhi ekspektasi, sehingga membatasi ruang gerak klub untuk memperkuat skuad saat ini. Persoalan ini menjadi salah satu akar dari krisis berkepanjangan yang kini membelit Manchester United.
Kritik Pedas untuk Cristiano Ronaldo
Di sisi lain, erik ten hag kembali mengungkapkan pandangannya tentang Cristiano Ronaldo. Dalam wawancara yang sama, ia menilai megabintang Portugal itu telah kehilangan kemampuan untuk memenuhi tuntutan fisik dan intensitas permainan di level tertinggi sejak tujuh hingga delapan tahun terakhir. Menurutnya, sejak meninggalkan Juventus, masa kejayaan Ronaldo di kompetisi elit Eropa telah berakhir.
Pernyataan tersebut menjadi kritik publik ketiga Ten Hag terhadap mantan anak asuhnya dalam kurun satu bulan. Sebelumnya, ia menuduh Ronaldo kurang profesional dan menghambat kolektif Manchester United. Ten Hag bahkan menyinggung cara Real Madrid yang cerdik melepas pemain bintang pada momen tepat, seperti saat menjual Ronaldo ke Juventus pada musim panas 2018 senilai 112 juta dolar AS.
| Indikator Krisis MU | Catatan |
|---|---|
| Posisi klasemen saat ini | Peringkat 17 |
| Poin dari 9 pertandingan | 9 poin |
| Rekor tanpa kemenangan | 9 laga beruntun |
| Laga tandang tanpa kemenangan | 7 pertandingan |
| Rekor terburuk sejak | Musim 1973-1974 |
Peringatan erik ten hag menjadi cermin betapa rapuhnya fondasi yang dibangun Manchester United dalam beberapa tahun terakhir. Dari kejayaan di era keemasan hingga kini terpuruk di ambang zona degradasi, perjalanan Setan Merah menunjukkan bahwa kejayaan sepak bola tidak pernah abadi. Tanpa perbaikan menyeluruh, baik di level manajemen, strategi transfer, maupun performa di lapangan, mimpi buruk yang ditakutkan banyak penggemar bisa saja menjadi kenyataan. Kini bola berada di tangan Carrick dan para pemain untuk membuktikan bahwa Old Trafford masih layak berdiri di panggung tertinggi sepak bola Inggris.
Editor: Abuzar Samad
