Fortuna Sittard di Pusaran Drama: Kemenangan Dramatis, Ketegangan Pelatih, dan Harapan Baru dari Tanah Limburg
Inforiau – 25 Oktober 2026 | Klub Fortuna Sittard kembali menjadi sorotan dalam panggung Eredivisie 2026-2027 setelah meraih kemenangan tipis 1-0 atas Excelsior dalam laga pekan ke-10 di Offermans Joosten Stadion, Minggu (25/10/2026). Kemenangan dramatis ini tak hanya mendongkrak posisi Fortuna Sittard ke peringkat kelima klasemen VriendenLoterij Eredivisie, tetapi juga menghadirkan sejumlah cerita menarik, mulai dari penampilan solid pemain Timnas Indonesia hingga ketegangan di pinggir lapangan yang menyita perhatian publik sepak bola Belanda.
Justin Hubner dan Ole Romeny Bersinar
Dua pemain andalan Timnas Indonesia, Justin Hubner dan Ole Romeny, mendapatkan kesempatan tampil dalam laga penting tersebut. Hubner dipercaya pelatih Danny Buijs tampil sejak menit pertama dan bermain penuh selama 90 menit. Bek berusia 23 tahun itu menunjukkan performa meyakinkan dengan mencatatkan 34 sentuhan bola pada babak pertama, tiga umpan panjang akurat dari empat percobaan, tiga tekel, satu intersep, serta dua kali merebut kembali penguasaan bola. Rating 7,0 dari FotMob pada paruh pertama menjadi bukti kontribusinya dalam menjaga keseimbangan permainan tim tuan rumah.
Sementara itu, Ole Romeny baru masuk pada awal babak kedua menggantikan Sven Simons. Meski tidak mencetak gol, pergerakan Romeny turut menciptakan peluang berharga. Pada menit-menit akhir, ia melepaskan tembakan dari sudut sulit yang ditepis kiper Excelsior, Stijn van Gassel, menjadi sepak pojok. Dari situasi bola mati itulah gol kemenangan Fortuna Sittard lahir melalui sundulan bek asal Brasil, Rodrigo Guth, berkat umpan pemain pengganti Mohamed Ihattaren.
Peran Kunci Mohamed Ihattaren
Mohamed Ihattaren menjadi pembeda dalam laga tersebut. Masuk sebagai pemain pengganti, ia langsung memberikan dampak nyata dengan menyumbang assist krusial bagi gol Guth. Kontribusi Ihattaren ini menegaskan kedalaman skuad Fortuna Sittard yang menjadi salah satu kekuatan tim asuhan Danny Buijs musim ini.
Sebelum pertandingan dimulai, Fortuna Sittard sempat menghadapi masalah besar. Anthony Descotte melaporkan dirinya sakit dan tidak bisa bermain, sementara Lequincio Zeefuik juga absen. Kondisi ini memaksa Shiloh ‘t Zand tampil sebagai ujung tombak sejak awal. Babak pertama berjalan relatif tenang, dengan tembakan Nesto Groen yang mudah ditepis Mattijs Branderhorst dan ancaman jarak jauh dari Edouard Michut. Pertandingan baru hidup pada babak kedua ketika Aymen Sliti dan Irakli Yegoian menciptakan peluang berbahaya bagi Excelsior, namun gagal menuntaskannya.
Ketegangan Danny Buijs dan Valentijn Driessen
Di luar lapangan, pelatih Danny Buijs menjadi perbincangan setelah menyerang jurnalis Valentijn Driessen dalam siaran langsung televisi. Perselisihan ini bermula dari insiden pekan sebelumnya ketika Buijs menarik Shiloh ‘t Zand keluar sekitar sepuluh menit sebelum laga NEC melawan Fortuna Sittard (2-2) berakhir. Driessen mengkritik tindakan tersebut dalam podcast Kick-off, menilai pelatih tidak boleh menyentuh pemain.
Menanggapi kritik itu, Buijs dengan tajam menyebut Driessen sebagai reporter De Telegraaf yang ingin menyerupai Johan Derksen. “Dia ingin sedikit menyerupai Johan Derksen, tetapi dia bukan Johan Derksen. Hanya ada satu Johan Derksen dan dia bukan orangnya,” ujar Buijs kepada ESPN. Ia menegaskan hubungannya dengan ‘t Zand tetap baik dan siap melakukan apa pun untuk pemainnya.
Harapan Baru dari Tristan Schenkhuizen
Di sisi lain, Fortuna Sittard U-21 memiliki talenta menarik yang berpotensi mencuri perhatian pencinta sepak bola Indonesia. Tristan Schenkhuizen, gelandang muda kelahiran Sittard, 12 Juli 2004, disebut memiliki garis keturunan Indonesia dari kakek yang lahir di Surabaya dan nenek yang berasal dari Yogyakarta. Ia meniti karier sejak bergabung dengan akademi Fortuna Sittard pada 2012 dan promosi ke tim U-21 pada 2022.
Statistiknya cukup impresif dengan tujuh gol dan tujuh assist dalam 15 pertandingan, torehan yang jarang dimiliki seorang gelandang bertahan. Tristan berada di klub yang sama dengan Ragnar Oratmangoen, pemain diaspora yang sudah membela Timnas Indonesia. Adiknya, Dean Schenkhuizen, juga mengikuti jejak sang kakak dengan bergabung di Fortuna Sittard U-16 sebagai bek kanan. Jika konsisten, peluang Tristan menembus skuad senior Fortuna Sittard terbuka lebar.
Persaingan Ketat di Level Klub bagi Pemain Timnas
Kemenangan atas Excelsior menjadi angin segar bagi Hubner dan Romeny yang sebelumnya disebut media Vietnam, Tuoitre, kesulitan menembus tim utama klub masing-masing. Bersama Maarten Paes yang harus bersaing dengan Marc-André ter Stegen di Ajax Amsterdam, ketiganya sempat minim menit bermain setelah membawa Timnas Indonesia menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026. Namun, penampilan solid keduanya bersama Fortuna Sittard membuktikan bahwa persaingan ketat di Eropa justru menjadi motivasi untuk terus berkembang.
Secara keseluruhan, Fortuna Sittard menunjukkan bahwa mereka bukan sekadar tim papan tengah biasa. Kombinasi antara performa apik pemain diaspora Indonesia, ketajaman pemain pengganti seperti Ihattaren, serta bibit muda berbakat seperti Tristan Schenkhuizen menjadikan klub asal Limburg ini sebagai salah satu tim yang layak diperhitungkan di Eredivisie musim ini. Dengan posisi kelima di klasemen, Fortuna Sittard berpeluang besar mengukir prestasi lebih tinggi, sambil terus menjadi jembatan bagi talenta-talenta keturunan Indonesia yang bercita-cita menembus pentas sepak bola Eropa.
