Hasil Pemilu Perdana Menteri Israel: Netanyahu dan Eisenkot Buntu, Nasib Pemerintahan di Ujung Tanduk
Inforiau – 30 Oktober 2026 | Hasil pemilu perdana menteri Israel memasuki babak krusial dengan situasi yang belum menemukan titik terang. Hampir 90 persen suara telah dihitung, namun dua blok politik utama sama-sama gagal menembus ambang 61 kursi dari 120 anggota Knesset yang dibutuhkan untuk membentuk pemerintahan. Blok pendukung Perdana Menteri petahana Benjamin Netanyahu maupun kubu oposisi pimpinan Gadi Eisenkot kini berada dalam posisi buntu yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Komite Pemilihan Umum Pusat Israel melaporkan telah menghitung lebih dari lima juta suara hingga Rabu malam waktu setempat. Proyeksi exit poll yang dirilis dua media ternama Israel, Channel 12 dan Ynet, menempatkan blok Netanyahu hanya mengamankan 53 kursi. Angka tersebut anjlok drastis dibanding capaian 68 kursi pada periode sebelumnya. Meski demikian, Partai Likud yang dipimpin Netanyahu tetap diperkirakan menjadi partai tunggal terbesar di parlemen.
Di sisi lain, gabungan aliansi penantang menguasai mayoritas dengan proyeksi 67 kursi. Namun, kubu oposisi ini terbelah sangat tajam ke dalam faksi kanan, kiri, dan tengah, serta perpecahan ideologis antara partai-partai Yahudi dan partai-partai Arab. Partai Yashar besutan mantan Panglima Militer Gadi Eisenkot muncul sebagai kekuatan utama di blok oposisi dengan proyeksi 21 kursi Knesset.
Kunci 19 Kursi Partai Arab dan Dilema Eisenkot
Untuk mengejar syarat minimal 61 kursi demi membentuk kabinet baru, Eisenkot secara matematis wajib merangkul partai-partai Arab. Partai-partai Arab, termasuk Joint List dan Ra’am, berpotensi mengantongi total 19 kursi. Angka tersebut menjadi pencapaian tertinggi bagi kekuatan politik Arab dalam sejarah pemilu Israel, seiring dengan tingginya tingkat partisipasi komunitas Arab yang merupakan orang Palestina pemegang kewarganegaraan Israel.
Namun, peluang tersebut belum pasti karena Eisenkot sebelumnya menolak membentuk pemerintahan minoritas bersama partai-partai Arab. Situasi ini menciptakan dilema politik yang rumit bagi kubu oposisi, yang harus memilih antara berkompromi dengan faksi Arab atau membiarkan kebuntuan berlanjut.
Hasil pemilu perdana menteri Israel ini menjadi yang pertama sejak serangan 7 Oktober 2023 dan perang Israel di Gaza. Kontestasi politik tersebut secara luas dipandang sebagai referendum terhadap kepemimpinan Netanyahu. Meski belum memperoleh mayoritas, Netanyahu masih memiliki peluang mempertahankan kekuasaan. Ia akan tetap menjabat sebagai perdana menteri sementara hingga pemerintahan baru terbentuk.
Klaim Kecurangan dan Bantahan Kepolisian
Di tengah penghitungan suara yang masih berlangsung, Partai Likud menuduh pemilu telah dicuri oleh partai-partai Arab. Tudingan tersebut langsung dibantah Kepolisian Israel. Seorang sumber kepolisian menyatakan bahwa hari pemilihan berlangsung dengan sangat sedikit insiden yang tidak wajar terkait integritas pemilu, bahkan jika dibandingkan dengan pemilu-pemilu sebelumnya.
Perlu ditekankan bahwa tidak ada bukti pendukung, baik dari hasil penyelidikan maupun intelijen, untuk mendukung klaim tersebut, kata sumber itu. Sehari sebelumnya, klaim mengenai kecurangan tersebut juga telah dibantah oleh seorang pejabat Komite Pemilihan Pusat Israel. Bantahan ini menegaskan bahwa proses demokrasi berjalan sesuai koridor yang berlaku.
Konsultasi Presiden dan Peluang Pemerintahan Persatuan
Presiden Israel Isaac Herzog dijadwalkan memulai konsultasi dengan para pemimpin partai pekan depan setelah hasil resmi diumumkan. Herzog juga meminta seluruh kekuatan politik menghindari pemilu ulang yang berpotensi memperpanjang kebuntuan pemerintahan. Hasil akhir diperkirakan baru diumumkan paling cepat Kamis malam, namun penghitungan lebih dari 500.000 surat suara khusus masih berpotensi mengubah komposisi kursi parlemen.
Surat suara tersebut berasal dari tentara, diplomat, dan pemilih yang memberikan suara di luar TPS tempat mereka terdaftar. Sejumlah analis memperkirakan Netanyahu dapat mengupayakan pemerintahan persatuan, termasuk dengan melibatkan Eisenkot. Namun, peluang tersebut belum pasti mengingat perbedaan ideologis yang tajam antara kedua kubu.
Hasil pemilu perdana menteri Israel kali ini menunjukkan bahwa lanskap politik negara tersebut semakin terfragmentasi. Tidak ada satu pun kubu yang mampu mengklaim kemenangan mutlak, sehingga negosiasi koalisi akan menjadi medan pertempuran berikutnya. Partai-partai Arab yang meraih 19 kursi kini memegang peran strategis sebagai penentu arah pemerintahan, meski keterlibatan mereka masih menjadi kontroversi di kalangan partai Zionis.
Dengan komposisi kursi yang terbelah, Israel menghadapi kemungkinan pemerintahan persatuan yang rapuh atau bahkan pemilu ulang yang kelima dalam beberapa tahun terakhir. Keputusan Herzog dan kesediaan para pemimpin partai untuk berkompromi akan menentukan apakah kebuntuan ini dapat diakhiri atau justru berlarut-larut. Yang pasti, hasil pemilu perdana menteri Israel kali ini menandai babak baru dalam dinamika politik Timur Tengah yang penuh ketidakpastian.
