Houthi Klaim Hantam Bandara dan Fasilitas Minyak Saudi, Eskalasi Baru di Yaman
Inforiau – 25 Oktober 2026 | Pemberontak Houthi kembali mengguncang panggung konflik Yaman dengan klaim serangan terbaru mereka. Dalam pernyataan yang beredar, Houthi klaim hantam bandara dan fasilitas minyak Saudi, menandai babak baru eskalasi militer di kawasan. Klaim ini muncul di tengah laporan serangan drone dan rudal balistik yang menghantam sejumlah lokasi strategis, termasuk Bandara Al-Rayyan di Hadramaut dan Bandara Internasional Aden, serta fasilitas minyak di Arab Saudi. Serangan tersebut menambah ketegangan yang telah berlangsung lebih dari satu dekade antara kelompok Houthi dan koalisi pimpinan Arab Saudi.
Media pemerintah Yaman melaporkan bahwa tiga drone diduga milik Houthi menghantam landasan pacu dan administrasi listrik Bandara Al-Rayyan di Mukalla, Hadramaut, pada Rabu (21/10/2026). Serangan ini merupakan yang pertama sejak eskalasi militer kembali bergulir pada Juli lalu. Meski demikian, belum ada laporan korban jiwa, dan pihak Houthi belum merilis pernyataan resmi terkait insiden tersebut. Bandara Al-Rayyan dikenal sebagai salah satu bandara sipil terpenting di Yaman yang melayani mobilitas jutaan orang di Hadramaut dan provinsi sekitarnya.
Di sisi lain, Houthi klaim hantam bandara dan fasilitas minyak Saudi melalui juru bicara militer mereka, Yahya Saree. Dalam keterangan di Telegram, Saree menyatakan bahwa serangan rudal balistik menyasar “ruang operasi Saudi di kamp Badr di Aden”. Warga setempat mengonfirmasi mendengar ledakan keras di dekat area bandara. Sementara itu, televisi pemerintah Saba melaporkan bahwa Houthi membidik Bandara Internasional Aden dengan rudal balistik, tanpa merinci lebih lanjut. Klaim Houthi klaim hantam bandara dan fasilitas minyak Saudi ini menjadi perhatian internasional karena berpotensi memperluas konfrontasi.
Eskalasi ini bukanlah hal baru. Konflik bermula pada 2014 ketika Houthi mengambil alih Sanaa dan menggulingkan pemerintahan Presiden Abdrabbuh Mansur Hadi. Pada Maret 2015, Arab Saudi memimpin koalisi militer untuk mendukung pemerintah yang diakui internasional, yang berujung pada operasi udara dan pembatasan akses ke Yaman. Sejak itu, Houthi kerap melancarkan serangan rudal dan drone, termasuk terhadap kapal-kapal di Laut Merah dan fasilitas minyak Saudi. Serangan terbaru ke bandara Riyadh pada 10 Oktober 2026 yang menyebabkan korban luka-luka semakin memanaskan situasi.
Pemerintah Yaman yang diakui internasional terus melancarkan operasi militer terhadap Houthi. Pada Selasa (20/10/2026), militer Yaman mengklaim telah melakukan 744 serangan dalam 24 jam yang melumpuhkan sekitar 200 anggota Houthi dan merusak 90 aset militer. Bentrokan senjata berat juga kembali terjadi di Taiz, tepatnya di kawasan bandara lama dan sekitar Gunung Han. Serangan udara menyasar posisi Houthi di timur Mokha, meski belum ada laporan korban.
Meskipun Houthi klaim hantam bandara dan fasilitas minyak Saudi, verifikasi independen masih sulit dilakukan. Sejumlah laporan menyebutkan bahwa serangan terhadap fasilitas minyak Saudi belum terkonfirmasi secara luas. Namun, klaim ini menunjukkan kemampuan Houthi dalam melakukan serangan jarak jauh yang dapat mengganggu stabilitas kawasan dan pasar energi global. Masyarakat internasional mendesak agar konflik tidak semakin meluas dan menyerukan dialog damai.
Situasi di Yaman semakin kompleks dengan keterlibatan berbagai pihak. Houthi menguasai sebagian besar wilayah utara dan barat, sementara pemerintah Yaman dan sekutunya menguasai Aden serta sebagian besar provinsi selatan dan timur. Perebutan Pelabuhan Hodeidah, yang menjadi jalur masuk bantuan kemanusiaan, juga menjadi titik konflik. Tuduhan penyelundupan senjata melalui pelabuhan tersebut dibantah oleh laporan PBB, menambah rumit upaya penyelesaian konflik.
Serangan terbaru ini diperkirakan akan memicu respons dari koalisi pimpinan Arab Saudi. Jika Houthi klaim hantam bandara dan fasilitas minyak Saudi terbukti, maka eskalasi militer dapat meningkat tajam. Masyarakat Yaman yang telah lama menderita akibat perang dan krisis kemanusiaan kini menghadapi ancaman baru. Upaya gencatan senjata dan perundingan damai yang telah lama digagas tampaknya masih jauh dari kata berhasil.
Dengan klaim serangan yang terus bermunculan, Houthi tampaknya ingin menunjukkan bahwa mereka masih memiliki kapasitas militer yang signifikan. Namun, dampak dari eskalasi ini akan sangat dirasakan oleh rakyat Yaman yang telah lama hidup dalam ketidakpastian. Dunia internasional diharapkan dapat mendorong penyelesaian konflik secara damai sebelum situasi semakin memburuk.
