IHSG Menguat ke 5.439 Usai Pekan Bergejolak, Sektor Energi dan Konsumer Jadi Motor Penggerak
Inforiau – 25 Oktober 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan akhir pekan dengan catatan positif. IHSG menguat 0,95 persen atau naik 51,35 poin ke level 5.439,26 pada Jumat, 23 Oktober 2026, meskipun penguatan tersebut lebih rendah dibandingkan posisi akhir sesi pertama yang sempat menyentuh 5.446,74. Pergerakan IHSG menguat ini menjadi sinyal pemulihan lanjutan setelah indeks mengalami koreksi signifikan pada 16 dan 19 Oktober lalu.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG dibuka pada level 5.397,33 dan sempat menyentuh level terendah intraday di 5.366,29 sebelum akhirnya bertahan di zona hijau hingga penutupan. Sepanjang perdagangan, mayoritas saham bergerak menguat dengan 477 saham naik, 187 saham melemah, dan 129 saham tidak mengalami perubahan.
Aktivitas transaksi terpantau ramai. Volume perdagangan mencapai 43,99 juta lot dengan frekuensi sebanyak 1,8 juta kali. Total nilai transaksi tercatat Rp16,202 triliun, sementara kapitalisasi pasar mencapai Rp9.604 triliun. Penguatan IHSG menguat ini juga tercermin dari seluruh sektor di BEI yang ditutup di zona hijau.
Seluruh Sektor Hijau, Energi Jadi Penopang Utama
Analisis Phillip Sekuritas Indonesia menunjukkan sektor konsumer siklikal memimpin kenaikan dengan penguatan 3,13 persen. Posisi berikutnya ditempati sektor industri yang naik 3,12 persen, disusul sektor energi yang menguat 2,48 persen. Dari sisi kontribusi terhadap pergerakan indeks, sektor energi menjadi penopang terbesar dengan kontribusi 13.907, diikuti sektor siklikal 5.588 dan sektor bahan baku 4.445.
| Sektor | Penguatan | Kontribusi |
|---|---|---|
| Konsumer Siklikal | 3,13% | 5.588 |
| Industri | 3,12% | – |
| Energi | 2,48% | 13.907 |
| Bahan Baku | – | 4.445 |
Sejumlah saham mencatat lonjakan signifikan pada perdagangan hari itu. Saham PT Lovina Beach Brewery Tbk (STRK) memimpin penguatan dengan kenaikan 22,628 persen, diikuti PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) yang melesat 21,394 persen, PT Champ Resto Indonesia Tbk (ENAK) naik 18,681 persen, dan PT Folconnectivity Tbk (IRSX) menguat 18,349 persen. Sementara itu, saham PT United Tractors Tbk (UNTR) dan MGLV turut melaju seiring sentimen positif di sektor energi dan industri.
Sentimen Regional dan Kebijakan Regulator
Di kawasan regional, bursa saham Asia ditutup bervariasi. Indeks Nikkei Jepang melemah 0,34 persen, sementara Hang Seng Hong Kong menguat 0,69 persen dan Shanghai Composite China naik 0,89 persen. Pergerakan pasar Asia dipengaruhi sentimen saham berbasis kecerdasan buatan (AI) serta kenaikan harga minyak mentah dunia.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim menilai secara teknikal IHSG berpeluang menguji level resistance 5.400. Jika bertahan di atas level tersebut, indeks berpotensi melanjutkan penguatan, dengan level 5.300 sebagai support terdekat. Namun, ia mengingatkan kenaikan harga minyak berpotensi memperbesar tekanan inflasi global dan membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter.
Dari sisi regulasi, BEI akan mengecualikan saham kategori High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan IHSG mulai 2 November 2026. Saat ini terdapat 80 saham kategori HSC, dan sejumlah di antaranya telah dikenai sanksi akibat pelanggaran pasar modal. BEI juga menyesuaikan batas Auto Rejection Bawah (ARB) menjadi asimetris dari 15 persen menjadi 7 persen hingga 31 Desember 2026, serta menambah keterangan afiliasi saham dengan kepemilikan 1 persen. Langkah ini merupakan respons terhadap pengumuman MSCI yang membuka konsultasi perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia dari Emerging Market ke Standalone Market.
Meski IHSG menguat pada perdagangan harian, indeks masih melemah secara bulanan dan tahunan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan telah memberikan penjelasan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto terkait dinamika IHSG, sementara Badan Pengelola Investasi Danantara mulai melakukan pembelian saham di tengah gejolak pasar.
Secara keseluruhan, penguatan IHSG menguat pada akhir pekan menjadi angin segar bagi investor setelah pekan yang bergejolak. Dukungan seluruh sektor, terutama energi dan konsumer siklikal, serta langkah regulator dalam merespons kekhawatiran pasar menjadi faktor kunci. Namun, investor tetap perlu mencermati risiko eksternal seperti harga minyak dan kebijakan suku bunga global yang dapat memengaruhi kelanjutan momentum positif ini.
