Inflasi Melonjak, The Fed Diramal Tahan Suku Bunga Jelang Pemilu AS: Sinyal Apa yang Tersembunyi?
Inforiau – 28 Oktober 2026 | Washington, 28 Oktober 2026 — Keputusan bank federal reserve kembali menjadi pusat perhatian pasar global. Pada Rabu (28/10) pukul 14.00 waktu setempat atau 18.00 GMT, Federal Reserve dijadwalkan mengumumkan hasil rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC), dan mayoritas pelaku pasar meyakini bank federal reserve akan mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,75 hingga 4,00 persen, tepat beberapa hari sebelum pemilihan paruh waktu yang krusial.
Keputusan tersebut menyusul langkah September lalu, ketika bank federal reserve menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir. Instrumen CME FedWatch menunjukkan peluang The Fed menahan suku bunga pada pertemuan Oktober mencapai hampir 92,8 persen, sementara peluang kenaikan pada Desember masih berada di kisaran 84,4 persen.
Ketua The Fed Kevin Warsh dijadwalkan memimpin konferensi pers usai pengumuman. Dalam pidatonya di Bangkok awal bulan ini, Warsh menyatakan kondisi ekonomi Amerika Serikat secara umum telah sesuai dengan perkiraan para pembuat kebijakan, sebuah pernyataan yang memicu spekulasi bahwa bank sentral belum melihat kebutuhan mendesak untuk kembali mengetatkan kebijakan dalam waktu dekat.
Inflasi 3,7 Persen Menekan Rumah Tangga
Tekanan inflasi masih menjadi momok utama. Indeks Harga Konsumen (CPI) September 2026 tercatat lebih tinggi dari perkiraan, mendorong inflasi tahunan AS menyentuh 3,7 persen, mendekati level tertinggi dalam tiga tahun yang tercatat pada Mei. Angka ini masih jauh di atas target inflasi bank federal reserve sebesar dua persen, sebuah target yang gagal dicapai selama lebih dari lima tahun.
Perang yang dilancarkan Presiden Donald Trump terhadap Iran sejak akhir Februari telah mendorong harga energi melonjak dan memicu inflasi domestik, bersamaan dengan kebijakan tarif yang luas. Lonjakan investasi dalam teknologi kecerdasan buatan serta pembangunan pusat data berskala besar turut menambah tekanan harga.
Heather Long, Kepala Ekonom Navy Federal Credit Union, menilai inflasi masih menjadi masalah nomor satu dalam perekonomian AS. “Bagi konsumen, ini berarti biaya pinjaman akan tetap sangat tinggi dalam jangka waktu yang dapat diprediksi,” ujarnya. Namun ia menambahkan, mengingat pemilu sela sudah di depan mata, The Fed kemungkinan besar tidak akan menaikkan suku bunga pada Oktober ini.
Pasar Keuangan Bergolak
Ketidakpastian menjelang keputusan bank federal reserve membayangi pasar keuangan domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 106,96 poin atau 1,99 persen ke level 5.266,13 pada perdagangan Selasa (27/10). Indeks LQ45 juga turun 9,14 poin atau 1,69 persen ke level 533,02.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menjelaskan bahwa tingkat inflasi AS sebesar 3,7 persen secara tahunan menjadi salah satu faktor kekhawatiran pelaku pasar. “Mayoritas pelaku pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,75%–4,00% setelah menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September. Namun, keputusan untuk menahan suku bunga belum tentu menjadi sinyal pelonggaran kebijakan moneter,” jelasnya.
Di pasar valuta asing, pasangan EUR/USD bertahan stabil di sekitar 1,1125 pada awal sesi Asia hari Rabu. Para pedagang memilih menghindari posisi besar menjelang pengumuman The Fed, sebelum mengalihkan fokus ke pertemuan European Central Bank pada Kamis. Euro sendiri berada di jalur menjadi mata uang pasar maju dengan kinerja terburuk pada Oktober, turun 1,70 persen terhadap dolar AS, tertekan biaya energi tinggi, volatilitas obligasi pemerintah Prancis, dan kekhawatiran fiskal.
Analis Bank of America yang dipimpin Mark Cabana menilai risiko dolar condong lebih rendah jika suku bunga ditahan. “Pesan hawkish secara umum netral, sementara penahanan yang dovish berisiko memicu pelemahan USD yang lebih besar,” kata mereka.
Emas dan Energi Ikut Bergulat
Harga emas melonjak ke sekitar US$4.065 per ons pada awal sesi Asia, naik 1,15 persen, didorong harga minyak yang lebih lemah. Peter Grant, wakil presiden dan ahli strategi logam senior di Zaner Metals, menilai harga minyak yang lebih lemah meredakan kekhawatiran inflasi dan sedikit meredam sikap hawkish The Fed.
Namun, para ahli strategi Scotiabank mencatat emas tampak semakin rentan saat mencoba bertahan di level psikologis US$4.000 per ons. Di pasar energi, harga minyak mentah tampak telah menetap dalam kisaran konsolidasi ketat dengan WTI stabil sedikit di atas US$100 per barel dan Brent di atas US$115 per barel.
Pidato Warsh mendapat skor 5,6 dari 10 pada FXS Speechtracker, sedikit lebih lembut dibandingkan rata-rata historis 6,1. Indeks Sentimen Fed FXS tidak berubah di level 127,51 yang secara tegas hawkish, menandakan pasar memandang komentar Warsh sebagai validasi atas bias hawkish saat ini tanpa menambah dorongan baru untuk repricing dolar.
Pakar ekonomi CME Group, Mark Shore, mencatat bahwa dalam empat periode ketika The Fed menaikkan suku bunga menjelang pemilu sela, yakni 1978, 1982, 2018, dan 2022, seluruhnya dipicu oleh lonjakan inflasi yang tidak terkendali. Riset sejarah menunjukkan bank federal reserve umumnya tetap konsisten menjaga arah kebijakannya selama siklus pemilu.
Dengan inflasi yang masih membara, tekanan politik yang meningkat, dan pasar yang gelisah, keputusan Rabu ini bukan sekadar soal angka suku bunga. Keputusan tersebut akan menjadi indikator penting terakhir mengenai laju inflasi AS sebelum pemilih menuju tempat pemungutan suara, sekaligus menentukan arah kebijakan moneter bank federal reserve hingga akhir tahun.
Bagi investor, pesan yang jelas adalah bahwa era biaya pinjaman tinggi belum berakhir. Penahanan suku bunga bukan berarti pelonggaran, melainkan jeda strategis di tengah ketidakpastian global yang masih membayangi perekonomian Amerika Serikat dan pasar keuangan dunia.
