Ironi Komando Pasukan Khusus: Jerman Siaga Perang, Kopassus Diuji Insiden Senjata
Inforiau – 29 Oktober 2026 | Dunia komando pasukan khusus kembali menjadi sorotan melalui dua peristiwa yang saling bertolak belakang. Di Eropa, Komando Pasukan Khusus Jerman tengah bersiap menghadapi kemungkinan konfrontasi dengan Rusia. Sementara di Tanah Air, satuan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI Angkatan Darat harus menghadapi ujian internal setelah insiden kelalaian penggunaan senjata api yang merenggut nyawa seorang prajurit terbaiknya.
Kepala Komando Pasukan Khusus Jerman, Andreas Kuhne, mengungkapkan bahwa pihaknya kini mengarahkan latihan untuk menghadapi konfrontasi dengan Rusia. Pernyataan tersebut disampaikannya kepada surat kabar Bild, Selasa (27/10). Menurut Kuhne, terjadi pergeseran mendasar dalam pola operasi pasukannya.
Jika sebelumnya operasi komando pasukan khusus berlangsung sekitar tiga hari sebelum personel kembali ke pangkalan, kini para prajurit dilatih untuk menjalankan operasi dalam jangka waktu panjang. Pasukan disiapkan menghadapi kemungkinan bahwa operasi pada tahap awal konflik tidak memiliki batas waktu penyelesaian yang pasti.
Komando Pasukan Khusus Jerman disebut memiliki sekitar 1.500 personel. Namun, hanya sepertiga dari jumlah tersebut yang merupakan prajurit pasukan khusus, sedangkan sisanya menjalankan tugas administratif. Kuhne mengakui bahwa jumlah personel yang mengisi posisi di komando tersebut baru mencapai 70-80 persen dari kebutuhan ideal.
Selain persoalan kekurangan personel, satuan elit Jerman itu juga memiliki catatan kelam. Beberapa skandal pernah mencoreng nama komando pasukan khusus tersebut, mulai dari penggunaan salam Nazi, hilangnya amunisi, hingga penemuan tempat penyimpanan senjata dan bahan peledak yang dikuasai salah seorang personel. Pada 2020, salah satu kompi di satuan tersebut bahkan dibubarkan.
Duka di Kartasura
Di sisi lain dunia, insiden tragis terjadi di lingkungan Komando Pasukan Khusus Indonesia. Seorang prajurit Kopassus berinisial Letda Inf. AG ditetapkan sebagai tersangka oleh Polisi Militer setelah terbukti lalai menggunakan senjata api. Kelalaiannya menyebabkan Letda Inf. Jihad Ahmad Al-Rasyid meninggal dunia di Gudang Senjata Grup 2 Kopassus Kartasura, Sabtu (24/10).
Kepala Penerangan Kopassus Kolonel Inf. Indra Mardianto menyampaikan bahwa tersangka saat ini ditahan di Denpom IV/4 Surakarta guna proses penyidikan lebih lanjut. Barang bukti yang diamankan meliputi satu pucuk senjata pistol, satu magasin, satu butir kelongsong peluru, serta rekaman CCTV di sekitar tempat kejadian perkara.
Hasil penyelidikan awal menyebutkan bahwa tersangka diduga melanggar prosedur operasional standar (SOP). AG membiarkan bagian kamar peluru tetap terisi amunisi saat mengokang pistol, dan jarinya diduga masuk ke bagian sensitif pistol, yaitu pelatuk, sehingga memicu tembakan. Peluru tersebut menembus pintu dan mengenai korban yang berada di luar hingga tewas.
Pihak Kopassus telah melakukan olah tempat kejadian perkara, memeriksa sejumlah saksi, dan mengumpulkan rekaman kamera pengawas. Seluruh hasil penyelidikan diserahkan kepada Polisi Militer untuk penindakan hukum lebih lanjut. Sebagai bentuk tanggung jawab dan pembinaan, satuan juga menjatuhkan tindakan administratif berupa pencabutan tanda kualifikasi para, komando, dan antiteror terhadap oknum yang terlibat.
Atas perbuatannya, tersangka terancam dijerat Pasal 474 ayat (3) KUHP tentang kelalaian yang mengakibatkan kematian orang lain, dengan ancaman pidana maksimal lima tahun penjara. Indra menegaskan komitmen satuan untuk transparan dan memastikan tersangka dihukum seberat-beratnya sesuai hukum yang berlaku. Keluarga almarhum pun mendesak TNI dan Kopassus mengusut kronologi serta proses hukum perkara secara terbuka.
Refleksi bagi Satuan Elit
Dua peristiwa ini menunjukkan bahwa eksistensi komando pasukan khusus selalu berada di bawah sorotan. Di satu sisi, satuan elit dituntut memiliki kesiapan operasi tinggi menghadapi ancaman geopolitik. Di sisi lain, disiplin internal, pengawasan prosedur, dan pengelolaan senjata menjadi fondasi yang tidak bisa ditawar.
Bagi Jerman, modernisasi dan perpanjangan durasi operasi menjadi langkah antisipatif terhadap ketegangan dengan Rusia. Bagi Kopassus, insiden di Kartasura menjadi pukulan sekaligus momentum evaluasi menyeluruh terhadap standar keselamatan personel. Kualitas sebuah komando pasukan khusus tidak hanya diukur dari kemampuan tempurnya, tetapi juga dari ketertiban prosedur dan akuntabilitas di dalam barak.
Publik kini menanti hasil penyidikan yang transparan, sementara pengamat militer menilai pembenahan internal satuan elit harus menjadi prioritas agar kepercayaan terhadap institusi pertahanan tetap terjaga.
