Kanada Kepincut Teknologi Militer Turki, Mark Carney: Kami Sangat Membutuhkan Ankara!
Inforiau – 24 Oktober 2026 | Hubungan militer Kanada Turki memasuki babak baru yang mengejutkan banyak pihak. Setelah bertahun-tahun sempat berselisih akibat pembatasan ekspor teknologi drone, Ottawa kini justru menunjukkan ketertarikan besar terhadap kemajuan industri pertahanan Ankara. Perdana Menteri Kanada Mark Carney secara terbuka mengakui bahwa negaranya sangat membutuhkan keahlian Turki untuk memperkuat kemampuan militernya. Pengakuan itu disampaikan setelah pertemuannya dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Ankara pada Kamis (22/10/2026), yang menghasilkan peluncuran Kemitraan Strategis Kanada–Turki. Dalam konteks militer Kanada Turki, pernyataan Carney menjadi sinyal perubahan arah kebijakan yang signifikan.
“Terus terang, saat ini kami berada dalam posisi yang lebih membutuhkan keahlian Turki untuk memperkuat kemampuan yang diperlukan guna melindungi warga Kanada dan menjalankan peran sepenuhnya sebagai sekutu NATO,” kata Carney kepada wartawan pada Jumat (23/10/2026), sebagaimana dikutip Anadolu Agency. Pernyataan tersebut kontras dengan kebijakan Kanada beberapa tahun sebelumnya yang justru membatasi ekspor teknologi kamera dan sistem penargetan yang digunakan pada pesawat nirawak Turki. Kini, Ottawa menjajaki kemitraan dengan industri pertahanan Ankara, termasuk peluang pengembangan teknologi dan kemampuan produksi bersama.
Ketertarikan Kanada terhadap teknologi militer Turki terlihat dalam rangkaian kunjungan Carney ke Ankara dan Istanbul pada 22–23 Oktober 2026. Media pertahanan Turki Envanter Medya melaporkan bahwa Carney bertemu sejumlah eksekutif senior Baykar dan Aselsan pada Jumat (23/10/2026). Pertemuan tersebut berlangsung dalam rangkaian pembicaraan yang dikoordinasikan otoritas industri pertahanan Turki. Pemerintah Kanada mengonfirmasi adanya pertemuan dengan kalangan bisnis dan investor Turki, tetapi tidak merinci seluruh perusahaan yang terlibat. Dua perusahaan pertahanan terkemuka Turki, Baykar dan Aselsan, menjadi perhatian utama dalam penjajakan kerja sama industri militer antara Ottawa dan Ankara. Baykar dikenal sebagai produsen pesawat nirawak tempur kelas dunia, sementara Aselsan merupakan pemain kunci dalam sistem elektronik militer dan teknologi otonom.
Menurut laporan Anadolu Agency dan media pertahanan Turki, pemerintah Kanada juga mempelajari pendekatan Turki dalam membangun industri pertahanan nasional yang dikoordinasikan Presidency of Defence Industries atau Savunma Sanayii Başkanlığı (SSB). Namun, ketertarikan terhadap model kelembagaan tersebut masih berdasarkan keterangan sumber-sumber industri pertahanan. Pemerintah Kanada belum mengumumkan keputusan resmi untuk mengadopsi sistem yang sama. Dalam konteks militer Kanada Turki, langkah ini menunjukkan bahwa Ottawa tidak hanya tertarik pada produk, tetapi juga pada tata kelola industri pertahanan yang dinilai efektif.
Perubahan hubungan kedua negara juga tercermin dari kesepakatan tingkat tinggi. Dalam konferensi pers bersama di Ankara, Erdogan menyatakan bahwa Turki dan Kanada meningkatkan hubungan bilateral mereka menjadi kemitraan strategis. “Kami meningkatkan hubungan kami dengan Kanada ke tingkat kemitraan strategis,” kata Erdogan, seraya menggambarkan langkah tersebut sebagai awal era baru dalam hubungan bilateral setelah bertahun-tahun keterlibatan yang terbatas. Kedua belah pihak juga telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) mengenai kerja sama pertahanan dan akan berupaya mengembangkan proyek-proyek baru di bidang energi, transportasi, perdagangan, dan industri pertahanan. Kunjungan Carney merupakan kunjungan resmi pertama seorang perdana menteri Kanada ke Turki, dan berlangsung saat Ottawa berupaya mendiversifikasi kemitraan ekonominya di tengah ketegangan perdagangan dengan Amerika Serikat.
Di sisi lain, Turki sendiri tengah mempercepat upaya memperkuat armada jet tempurnya. Ankara memburu tambahan 24 pesawat Eurofighter Typhoon dari Qatar dan Oman, ketika sedang mengembangkan jet tempur generasi kelima buatan sendiri, KAAN, yang diproyeksikan menjadi tulang punggung kekuatan udara Turki pada masa mendatang. Kementerian Pertahanan Turki menyatakan pihaknya masih menunggu rancangan kontrak penjualan dan program pelatihan dari Qatar. Turki sebelumnya telah menandatangani kesepakatan pembelian 20 Eurofighter Typhoon baru dari Inggris pada Oktober 2025. Apabila seluruh rencana terealisasi, Turki berpotensi mengoperasikan 44 Eurofighter Typhoon, memberikan tambahan kekuatan signifikan bagi angkatan udara yang selama beberapa dekade bergantung pada jet tempur F-16 buatan Amerika Serikat. Langkah ini menunjukkan ambisi Turki untuk mandiri di bidang pertahanan, sekaligus memperlihatkan tantangan yang dihadapi dalam menjaga kesiapan militer sebelum KAAN mencapai kesiapan tempur penuh.
Sementara itu, di kawasan Asia, Indonesia bersama Turki, Qatar, dan Pakistan menandatangani Memorandum Badr di Doha pada Rabu (21/10/2026) untuk memperkuat kerja sama pertahanan dan industri militer. Kesepakatan ini mencakup pengembangan produksi persenjataan, pertukaran teknologi, penelitian, serta pelatihan militer. Memorandum Badr bukan perjanjian pertahanan kolektif yang secara otomatis mewajibkan keempat negara saling membantu secara militer jika salah satunya diserang. Fokus utamanya adalah pengembangan kapabilitas pertahanan melalui produksi bersama, pertukaran teknologi, penelitian dan pengembangan, serta pelatihan teknis militer. Penandatanganan dilakukan oleh Menteri Pertahanan Nasional Turki Yasar Guler, Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Negara Urusan Pertahanan Qatar Sheikh Saud bin Abdulrahman bin Hasan Al Thani, Wakil Menteri Pertahanan Indonesia Yusuf Jauhari, dan Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Muhammad Asif. Kepala Sekretariat Industri Pertahanan Turki Haluk Gorgun juga turut menandatangani memorandum tersebut. Kerja sama ini memiliki sasaran ekonomi melalui penggabungan kapasitas produksi industri pertahanan masing-masing negara, yang diharapkan meningkatkan integrasi industri dan memenuhi kebutuhan pertahanan negara-negara peserta, sekutu, serta mitra mereka.
Bagi Kanada, ketertarikan terhadap teknologi militer Turki menandai pergeseran strategis. Sebelumnya, Ottawa membatasi ekspor komponen yang digunakan dalam drone Turki, yang sempat menegangkan hubungan kedua negara. Kini, dengan adanya Kemitraan Strategis, Kanada berharap dapat mengakses keahlian Turki dalam bidang pesawat nirawak tempur, sistem elektronik militer, dan teknologi otonom. Kolaborasi militer Kanada Turki ini juga dipandang sebagai upaya Kanada memperkuat posisinya di NATO, terutama dalam menghadapi tantangan keamanan global yang semakin kompleks. Carney menegaskan bahwa kemampuan yang diperlukan untuk melindungi warga Kanada dan menjalankan peran sebagai sekutu NATO sangat membutuhkan kontribusi keahlian Turki.
Dengan segala dinamika yang ada, kemitraan militer Kanada Turki berpotensi menjadi model kerja sama lintas kawasan yang saling menguntungkan. Kanada mendapatkan akses teknologi dan pengalaman industri pertahanan Turki yang telah teruji, sementara Turki memperoleh mitra strategis di NATO dan pasar baru bagi produk pertahanannya. Namun, masih terdapat beberapa tantangan, seperti perbedaan standar teknologi, kerangka regulasi ekspor, serta dinamika politik internal di kedua negara. Meski demikian, arah hubungan kedua negara saat ini menunjukkan optimisme baru setelah bertahun-tahun hubungan yang terbatas. Perkembangan ini juga sejalan dengan upaya Turki memperluas jejaring kerja sama pertahanan global, termasuk dengan Indonesia, Qatar, dan Pakistan melalui Memorandum Badr. Bagi Kanada, diversifikasi kemitraan pertahanan menjadi langkah penting di tengah ketidakpastian hubungan dagang dengan Amerika Serikat. Ke depan, publik akan menantikan apakah kerja sama militer Kanada Turki ini akan menghasilkan proyek konkret, seperti produksi bersama drone atau sistem elektronik militer, yang dapat memperkuat kapabilitas pertahanan kedua negara.
