Kurs Dolar AS di BCA dan Bank Mandiri: Rupiah Bertahan di Kisaran Rp18.000
Inforiau – 07 November 2026 | Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah masih menjadi sorotan pasar menjelang akhir 2026. Pada pembukaan perdagangan 29 September 2026, rupiah sempat menguat 60 poin atau 0,33% ke Rp17.921 per dolar AS, sementara indeks mata uang AS (DXY) berada di 101,382. Meski begitu, kurs belum lepas dari tekanan sehingga bertahan di sekitar Rp18.000.
Di bank besar, Rabu 30 September 2026, BCA mematok harga beli dolar AS Rp17.905 dan jual Rp17.925 di e-rate. Untuk TT counter dan bank notes, BCA menetapkan beli Rp17.795 dan jual Rp18.075. Bank Mandiri memakai special rate beli Rp17.915 dan jual Rp17.945; TT counter serta bank notes beli Rp17.750 dan jual Rp18.050.
| Bank | Layanan | Beli (Rp) | Jual (Rp) |
|---|---|---|---|
| BCA | E-rate | 17.905 | 17.925 |
| BCA | TT counter/bank notes | 17.795 | 18.075 |
| Mandiri | Special rate | 17.915 | 17.945 |
| Mandiri | TT counter/bank notes | 17.750 | 18.050 |
Pergerakan kurs dolar AS juga terlihat di pasar Asia. Pada 30 Oktober 2026, mata uang AS melemah ketika DXY turun 0,28% ke 101,744. Ringgit Malaysia memimpin penguatan 0,27%, sedangkan rupiah naik 0,14% ke Rp18.100 per USD. Tekanan datang dari turunnya imbal hasil obligasi pemerintah AS setelah aksi jual saham perusahaan kecerdasan buatan.
Namun, pada awal November 2026, mata uang Paman Sam kembali menguat ke Rp18.100 dan sempat menyentuh Rp18.162. Sejumlah proyeksi menilai rupiah dapat melemah hingga Rp18.350 per USD pada akhir 2026. Faktor eksternal seperti harga minyak di atas US$100 per barel dan ketidakpastian kebijakan moneter AS, serta faktor internal berupa defisit transaksi berjalan, menjadi penekan utama.
Kepala Ekonom Bank Danamon Irman Faiz memperkirakan defisit transaksi berjalan Indonesia sekitar 1,5% terhadap PDB pada 2026 dan melebar menjadi 1,6% pada 2027, dari hanya 0,1% pada 2025. Defisit ini menunjukkan kebutuhan dolar AS untuk pembiayaan luar negeri masih tinggi. Di sisi lain, sepanjang 2026 rupiah sempat menembus rekor Rp18.038 per USD, level tertinggi dalam sejarah.
Dengan kombinasi penguatan jangka pendek dan tekanan struktural, kurs diperkirakan tetap fluktuatif. Masyarakat dan pelaku usaha perlu mencermati spread kurs bank, kebutuhan valas, serta risiko geopolitik dan suku bunga global. Rupiah berpotensi bertahan di kisaran Rp18.000-Rp18.100, tetapi ruang pelemahan hingga Rp18.350 masih terbuka bila tekanan eksternal berlanjut.
Editor: Sukri Mustakim
