Lavelli, Sang Kejutan 19 Tahun yang Bikin Chivu Angkat Topi di Serie A
Inforiau – 26 Oktober 2026 | Panggung Serie A kembali melahirkan kisah menarik dari bangku cadangan. Matteo Lavelli, pemain berusia 19 tahun yang sehari-harinya memperkuat tim Under 23 di Serie C, menjadi sosok tak terduga yang menyelamatkan Inter Milan dari situasi sulit saat menghadapi Fiorentina. Masuk sebagai pemain pengganti lima menit sebelum laga usai, pemuda kelahiran Bernareggio itu menyundul bola pada detik-detik terakhir yang kemudian berujung pada hadiah penalti. Zielinski yang mengeksekusi titik putih pada menit ke-97 pun memastikan kemenangan dramatis bagi tim asuhan Chivu.
Bagi Lavelli, akhir pekan tersebut terasa luar biasa padat. Pada hari Sabtu ia masih bermain sekitar satu jam bersama tim Under 23 melawan Sorrento dalam laga imbang 1-1, lalu keesokan harinya ia sudah berdiri di tepi lapangan untuk pertandingan Serie A melawan Fiorentina. “Saya tidak menyangka akan bermain,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca usai laga. “Saya hanya berusaha memberi kontribusi. Saya tidak terlalu melihat jalannya situasi penalti, tetapi yang terpenting kami menang.”
Perjalanan Lavelli menuju panggung elite sepak bola Italia bukan kisah instan. Sebelum laga melawan Fiorentina, ia baru sekali tampil di Serie A, yakni sekitar sepuluh menit melawan Bologna pada Januari 2026. Musim itu ia menutup tahun dengan 30 penampilan di Serie C bersama tim Under 23, di mana ia mencetak satu gol dalam sepuluh pertandingan sebagai penyerang sayap yang lincah dan cepat. Dua tahun sebelumnya, ia turut mengantar tim Primavera meraih gelar juara dengan empat gol serta satu assist krusial di partai final.
Chivu sendiri tidak ragu memuji mentalitas pemain mudanya. “Saya tidak melihat kartu identitas, baik untuk Mkhitaryan maupun untuk Lavelli. Tidak mudah masuk ke dalam tim yang sudah terbentuk dengan nilai-nilai tertentu,” kata Chivu di ruang pers. “Mungkin Selasa nanti ia akan bermain lagi dengan Under 23, tetapi melihatnya bertahan di lemparan ke dalam pada menit ke-90 itu sudah luar biasa.”
Di balik senyumnya, Lavelli menyimpan sejarah hidup yang berat. Pada 2024 ia nyaris kehilangan nyawa akibat meningitis dan harus dirawat di rumah sakit selama sebulan penuh, membuatnya terlambat memulai sesi latihan pramusim bersama tim Primavera. Kini ia menikmati momen di Serie A dengan penuh syukur. Julukan “Pocho” melekat padanya karena kemiripan bunyi dengan nama Lavezzi, sementara ayahnya, Diego, pernah bermain di Serie C dan kini bekerja sebagai pemandu bakat. Di antara idola yang ia kagumi, selain Ronaldo, ada nama Marcus Thuram yang bahkan sempat memberinya pujian langsung.
Persaingan Papan Atas Serie A Memanas
Kisah Lavelli menjadi salah satu warna dari ketatnya kompetisi musim ini. Berdasarkan klasemen sementara, Inter Milan masih kokoh di puncak Serie A dan menjadi kandidat utama perebutan gelar. Tim asuhan Chivu itu menempati zona Liga Champions bersama Lazio, Roma, dan Milan, diikuti Como di posisi Liga Europa serta Frosinone di jalur play-off Conference League. Sementara itu, Fiorentina, Parma, dan Venezia masih berkutat di zona degradasi.
Menariknya, Inter tercatat sebagai tim paling produktif dengan jumlah gol terbanyak, sedangkan Fiorentina menjadi yang paling rapuh di lini belakang. Lazio justru tampil mengejutkan sebagai tim dengan pertahanan terbaik. Di ranah individu, Gustavo Varela memimpin daftar top skor, Andy Diouf menjadi raja assist, sementara Lorenzo Lucchesi dan Gabriele Bracaglia masing-masing memuncaki koleksi kartu merah dan kuning.
Lazio sendiri tengah menikmati periode emas. Kemenangan 2-1 atas Parma di Stadio Olimpico menjadi kemenangan ketujuh dalam delapan jornada, sekaligus menorehkan start terbaik sepanjang sejarah klub di kasta tertinggi, melampaui era keemasan Sven-Goran Eriksson. Dengan 22 poin dari 24 poin maksimal, pasukan Gennaro Gattuso menempel ketat Inter di puncak klasemen. Rekor tak terkalahkan mereka mencakup kemenangan atas Juventus, Bologna, dan Genoa, serta hasil imbang kontra Milan. Dengan 16 gol dan hanya lima kebobolan, Lazio kini memiliki salah satu pertahanan terkuat di Eropa.
“Tim ini dalam performa hebat, secara fisik di puncak. Saya suka semangat mereka,” ujar Gattuso. “Klasemen bukan urusan kami. Kami akan terus melangkah dan lihat saja nanti di akhir.” Ia juga menyoroti pentingnya pemulihan fisik karena timnya hanya bermain sekali sepekan, memungkinkan latihan intensitas tinggi tanpa jadwal padat di tengah pekan.
Namun, keberhasilan di lapangan berbanding kontras dengan situasi di tribun. Sebagian pendukung Lazio masih memboikot laga kandang sebagai bentuk protes terhadap manajemen presiden Claudio Lotito yang dinilai kurang berinvestasi. Meski begitu, dukungan tetap mengalir saat tim bermain di kandang lawan, dan jumlah penonton yang hadir di Olimpico dilaporkan terus bertambah dari laga ke laga.
Dengan persaingan yang kian sengit, setiap pekan Serie A menyajikan drama baru, baik dari bintang mapan maupun pemain muda seperti Lavelli yang membuktikan bahwa kesempatan sekecil apa pun bisa berubah menjadi momen besar. Bagi Inter dan Lazio, konsistensi akan menjadi kunci, sementara bagi Lavelli, penampilan singkatnya telah membuka pintu menuju masa depan yang lebih cerah.
