Lazio Melaju Tanpa Tergoyahkan: Noslin Pimpin Serangan, Gattuso Waspadai Jebakan Parma di Olimpico yang Sepi
Inforiau – 25 Oktober 2026 | Ambisi Lazio untuk terus menancapkan kukunya di puncak klasemen Serie A kembali diuji malam ini. Di Stadio Olimpico, Roma, pasukan Gennaro Gattuso menjamu Parma pada laga pekan kedelapan Serie A, Sabtu (24/10) pukul 20.45 waktu setempat. Laga ini menjadi krusial bagi Lazio yang tengah menikmati start terbaik sepanjang sejarah klub di kasta tertinggi dengan raihan 19 poin dari tujuh pertandingan—enam kemenangan dan satu hasil imbang.
Pelatih Gennaro Gattuso memilih Tijjani Noslin sebagai ujung tombak, memenangkan persaingan dengan Andrea Pinamonti yang harus puas duduk di bangku cadangan, bahkan masuk tribun penonton. Noslin akan ditopang duet Isaksen di sayap kanan dan kapten Mattia Zaccagni di sisi kiri. Di lini tengah, Belahyane dipercaya sebagai pengatur serangan didampingi Taylor dan Frattesi, sementara lini belakang dipercayakan kepada Mandas di bawah mistar dengan kuartet Floriani Mussolini, Sutalo, Provstgaard, dan Tavares.
Keputusan menurunkan Sutalo sejak menit pertama menjadi salah satu sorotan. Bek asal Kroasia itu mengaku senang bisa membela Lazio, yang ia sebut sebagai pilihan utamanya. “Lazio adalah pilihan pertama saya, begitu juga Serie A,” ujarnya. Sutalo menilai gaya sepak bola Italia yang menekankan taktik dan organisasi pertahanan sangat cocok dengan karakteristiknya. Ia juga memuji intensitas latihan ala Gattuso yang menuntut kerja keras dan lari cepat, meski hubungan personal dengan para pemain tetap hangat.
Di kubu Parma, pelatih Gilardino menghadapi beberapa keraguan. Lini belakang kemungkinan dipercayakan kepada Corvi dengan trio Diego Carlos, Troilo, dan Trobnic, sementara Delprato, Keita, Ordonez, Sierro, dan Valeri mengisi lini tengah. Duet Touré dan Romero menjadi andalan di lini depan. Parma sendiri tengah terpuruk dengan lima kekalahan dari tujuh laga, serta catatan buruk lima kekalahan beruntun di laga tandang.
Meski di atas kertas Lazio lebih diunggulkan, Gattuso enggan jemawa. Ia menekankan pentingnya menjaga intensitas dan tidak meremehkan lawan. “Kesalahan terbesar adalah meremehkan, hari ini itu tidak bisa dilakukan dengan siapa pun. Pertandingan tidak pernah selesai,” tegasnya. Ia juga menyinggung filosofi permainannya yang tidak terpaku pada volume data atletik, melainkan pada intensitas dan puncak performa maksimal.
Menariknya, laga ini digelar di hadapan tribun yang kembali sepi. Hanya sekitar 4.000 tiket terjual dengan proyeksi kehadiran sekitar 10.000 penonton, sejalan dengan tren protes suporter di sepanjang musim ini. Situasi ini kontras dengan euforia kemenangan 3-0 atas Juventus di Allianz Stadium pekan lalu, yang disebut Sutalo sebagai penampilan luar biasa berkat kemampuan tim bergerak sebagai satu blok utuh.
Secara statistik, Lazio memiliki rekor impresif melawan Parma. Tim Biancoceleste tak terkalahkan dalam 15 dari 16 pertemuan terakhir di Serie A dan selalu mencetak gol dalam 14 laga beruntun kontra Parma. Di kandang, mereka juga tak terkalahkan dalam 10 pertemuan terakhir. Gattuso pun tercatat sebagai pelatih pertama dalam sejarah klub yang memenangi enam dari tujuh laga pertamanya di Serie A.
Dengan modal kepercayaan diri tinggi dan komposisi yang solid, Lazio berpeluang besar mempertahankan posisi puncak. Namun, kewaspadaan tetap menjadi kunci agar ambisi meraih hasil maksimal tidak berubah menjadi bumerang. Laga melawan Parma bukan sekadar soal tiga poin, melainkan ujian konsistensi bagi sebuah tim yang tengah membangun mental juara.
