Ledakan Data Sydney: Pusat Data Rp8 Triliun hingga Perlawanan Warga di Balik Ambisi AI Australia
Inforiau – 28 Oktober 2026 | Gelombang pembangunan infrastruktur digital di Australia terus bergulir, dan data Sydney menjadi salah satu pusat perhatian utama. Dari kontrak raksasa pembangunan pusat data hingga perlawanan warga terhadap tiang listrik raksasa, dinamika seputar data Sydney kini mencerminkan betapa besarnya taruhan ekonomi dan sosial di balik revolusi kecerdasan buatan. Bukan hanya soal teknologi, melainkan juga soal daya listrik, uang triliunan rupiah, dan suara masyarakat yang mulai bersuara keras.
Salah satu kabar terbaru datang dari SHAPE Australia (ASX: SHA), spesialis konstruksi dan fitout yang berhasil mengantongi kontrak senilai sekitar 800 juta dolar Australia dari DigiCo Infrastructure REIT (ASX: DGT). Kontrak ini mencakup tahap berikutnya dari proyek pusat data SYD1, setelah SHAPE menuntaskan peningkatan Stage 1 berkapasitas 20 megawatt di lokasi tersebut. Kesepakatan itu langsung mendongkrak backlog proyek SHAPE di atas 1,5 miliar dolar Australia, dengan tambahan pendapatan sekitar 200 juta dolar Australia pada FY27 dan FY28.
Momentum ini sebenarnya sudah terlihat sejak kuartal pertama FY27. SHAPE mencatat kemenangan proyek senilai 504,6 juta dolar Australia pada kuartal September, melonjak dibandingkan 336 juta dolar Australia pada periode yang sama tahun sebelumnya. Backlog perseroan tercatat 762,7 juta dolar Australia per 30 September, naik 21 persen dari 628,4 juta dolar Australia pada akhir Juni. Kontrak DigiCo yang diumumkan pada Oktober kemudian mendorong total kemenangan proyek melewati 1,4 miliar dolar Australia dan backlog di atas 1,5 miliar dolar Australia per 19 Oktober.
Yang menarik, prosesnya menggunakan skema early contractor involvement untuk menyusun lingkup, desain, dan harga sebelum akhirnya disepakati sebagai kontrak biaya tetap. DigiCo memastikan kontrak pelanggan telah dieksekusi, dengan kapasitas jaringan listrik, akses air, dan persetujuan State Significant Development sudah tersedia. Pendanaan pun diklaim aman melalui likuiditas yang ada, fasilitas utang, serta hasil penjualan aset di Amerika Serikat. Tim khusus berisi lebih dari 50 orang telah dibentuk untuk menggarap proyek ini.
Bukan hanya SHAPE yang bergerak. AirTrunk dikabarkan telah mengamankan pembiayaan hijau senilai 4,25 miliar dolar Australia untuk kampus pusat data SYD3 di Eastern Creek. Di atas lahan 8,3 hektare, fasilitas ini akan menampung 70.000 meter persegi ruang data hall teknis serta 9.600 meter persegi area kantor dan penyimpanan. Konstruksi sedang berjalan dengan target rampung pada pertengahan 2028. Pinjaman tersebut didukung konsorsium 32 lembaga keuangan Australia dan internasional. AirTrunk yang didukung Blackstone kini memiliki lima kampus di Australia dengan kapasitas lebih dari 1,2 gigawatt, dan total pendanaan utang globalnya mencapai sekitar 38,4 miliar dolar Australia. Sementara itu, CDC Data Centres yang berbasis di Canberra memperoleh persetujuan pengembangan bersyarat untuk Beard 2, pusat data tiga lantai senilai 203,5 juta dolar Australia di ACT.
Di sisi lain, kebutuhan daya listrik yang masif mulai memicu gesekan. Data Centres Australia, kelompok pelobi industri pusat data, menyerukan agar perusahaan utilitas dikenai sanksi atas keterlambatan proyek. Seruan ini muncul setelah NextDC mengalami penurunan tajam di bursa ASX akibat tertundanya infrastruktur listrik dari Jemena di Melbourne, yang diperkirakan menunda pemenuhan kontrak pelanggan hingga FY28. CEO Data Centres Australia, Belinda Dennett, dalam konferensi All-Energy 2026 di Melbourne menyatakan perlunya mekanisme reformasi, baik berupa model operasional, pertukaran informasi yang lebih baik, maupun regulasi.
Tekanan dari masyarakat sipil juga kian nyata. Pembangunan tiang listrik besar di jalan-jalan pinggiran Melbourne untuk memasok daya ke pusat data M3 milik NextDC memicu resistensi warga. Gelombang protes tersebut berujung pada anjloknya harga saham NextDC yang menghapus sekitar 3 miliar dolar Australia dari valuasi perusahaan, hampir memangkas separuh nilai pasarnya. Fenomena ini menunjukkan bahwa ekspansi data Sydney dan kota-kota lain tidak lagi semata persoalan bisnis, tetapi juga menyentuh kehidupan warga sehari-hari.
Di tengah hiruk-pikuk itu, dunia riset pun ikut memanfaatkan gelombang infrastruktur ini. DDN, pemain global solusi kecerdasan buatan dan data, terpilih oleh University of New South Wales (UNSW Sydney) untuk menyediakan lingkungan penyimpanan data riset baru dalam program Research Data Experience. Bersama pengembang perangkat lunak Australia, Arcitecta, DDN akan memadukan file system paralel EXAScaler dengan platform manajemen data Mediaflux, sehingga peneliti dapat lebih fokus menggunakan data ketimbang mengelolanya. Langkah ini menegaskan bahwa data Sydney tidak hanya menjadi bahan bakar industri, tetapi juga tulang punggung riset akademik.
Secara keseluruhan, lanskap pusat data di Australia, khususnya di kawasan data Sydney, tengah berada di titik krusial. Di satu sisi, aliran investasi miliaran dolar dan kontrak konstruksi raksasa menunjukkan keyakinan pasar terhadap masa depan AI. Di sisi lain, keterlambatan jaringan listrik, protes warga, dan skeptisisme investor global menjadi peringatan bahwa pertumbuhan ini harus dikelola dengan hati-hati. Keseimbangan antara ambisi teknologi, kesiapan infrastruktur energi, dan penerimaan publik akan menentukan apakah ledakan data Sydney menjadi motor pertumbuhan berkelanjutan atau justru memicu gejolak baru. Tanpa perencanaan yang matang dan dialog terbuka dengan masyarakat, gelombang pembangunan ini berisiko kehilangan momentum yang telah susah payah dibangun.
