Lo Kheng Hong Borong Saham ABMM 8 Kali, Laba Emiten Meledak 141%
Inforiau – 02 November 2026 | Investor kawakan Lo Kheng Hong kembali menjadi sorotan pasar modal Tanah Air. Sepanjang Oktober 2026, pria yang dijuluki “Warren Buffett Indonesia” itu tercatat delapan kali membeli saham PT ABM Investama Tbk (ABMM), emiten batu bara yang selama ini menjadi salah satu portofolio andalannya. Aksi akumulasi tersebut membuat kepemilikan Lo Kheng Hong di ABMM naik menjadi 156,79 juta saham atau setara 5,70% dari total saham beredar.
Berdasarkan data transaksi kepemilikan saham, pembelian terbaru dilakukan pada Jumat, 23 Oktober 2026, sebanyak 35.700 saham. Transaksi itu menambah kepemilikan dari sebelumnya 156.762.700 saham atau 5,69% menjadi 156.798.400 saham atau 5,70%. Sebelumnya, pada Senin, 19 Oktober 2026, Lo Kheng Hong membeli 275.000 saham, yang menjadi pembelian terbesar dalam rangkaian akumulasi bulan lalu.
Rangkaian pembelian lainnya terjadi pada 16 Oktober sebanyak 93.200 saham, 15 Oktober sebanyak 120.400 saham, dan 14 Oktober sebanyak 10.000 saham. Pada awal Oktober, tepatnya 7 Oktober, ia tercatat dua kali membeli saham ABMM masing-masing 40.000 saham dan 10.000 saham, sedangkan pada 5 Oktober ia membeli 50.000 saham. Secara total, delapan transaksi tersebut mengakumulasi 634.300 saham ABMM sepanjang Oktober 2026, dengan kepemilikan awal periode 156.164.100 saham.
Aksi borong saham yang dilakukan Lo Kheng Hong berbarengan dengan kinerja keuangan ABMM yang terus membaik. Pada semester I 2026, perseroan membukukan laba bersih US$ 39,4 juta, naik 41,9% dibandingkan US$ 27,7 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan konsolidasian tercatat US$ 506,2 juta atau turun tipis 0,1% dari US$ 506,9 juta, sementara adjusted EBITDA meningkat 6,4% menjadi US$ 346,9 juta dari US$ 326 juta.
Dari sisi operasional, volume coal getting atau pengambilan batu bara naik 14% menjadi 17,9 juta ton dibandingkan 15,7 juta ton pada semester I 2025. Namun, volume overburden removal atau pemindahan lapisan tanah penutup turun 12,7% menjadi 98 juta bcm dari 112,2 juta bcm, dan penjualan bahan bakar menyusut 26,5% menjadi 141,9 juta liter dari 193 juta liter.
Memasuki kuartal IV 2026, momentum positif semakin terlihat. Hingga sembilan bulan pertama 2026 (9M26), pendapatan konsolidasian ABMM mencapai US$ 818,5 juta atau naik 4,7% dibandingkan 9M25. LTM Adjusted EBITDA melonjak 42,4% year on year (YoY) menjadi US$ 399,9 juta, sedangkan laba bersih mencapai US$ 102,3 juta atau tumbuh 141,4% YoY. Peningkatan signifikan ini terutama didorong oleh kinerja bisnis kontraktor pertambangan.
Direktur ABM Investama, Hans Manoe, menyatakan bahwa perseroan terus memaksimalkan output operasional dan menerapkan pengendalian biaya yang disiplin di seluruh entitas anak. “Bagi kami, keberhasilan adalah ketika pertumbuhan dan peningkatan nilai perusahaan dapat memberikan manfaat dan meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat luas dalam kerangka lingkungan yang berkelanjutan,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Faktor cuaca juga menjadi penopang kinerja. Selama 9M26, persentase jumlah jam hujan di lokasi operasional bisnis kontraktor pertambangan perseroan lebih rendah 30% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini berdampak pada peningkatan produktivitas, terlihat dari volume pemindahan lapisan tanah penutup pada kuartal III 2026 yang naik 27,5% quarter on quarter (QoQ) serta volume coal getting yang meningkat 9,6% QoQ dibandingkan kuartal II 2026.
Di sisi lain, keputusan Lo Kheng Hong menambah porsi kepemilikan di ABMM dinilai pasar sebagai sinyal kepercayaan terhadap prospek emiten batu bara tersebut. Sebelumnya, investor legendaris ini juga dikenal meraup untung besar dari saham PT United Tractors Tbk (UNTR), yang memperkuat rekam jejaknya dalam memilih saham sektor energi dan pertambangan.
Dengan fundamental yang solid, arus kas yang kuat, serta strategi ekspansi yang terukur, ABMM optimistis dapat mencapai target tahun buku 2026. Dukungan kondisi musim kemarau yang diperkirakan masih berlangsung di sebagian besar wilayah operasional menjadi katalis tambahan bagi bisnis kontraktor pertambangan pada kuartal IV 2026.
Secara keseluruhan, kombinasi antara aksi akumulasi saham oleh Lo Kheng Hong dan lonjakan laba bersih ABMM sebesar 141,4% YoY mencerminkan keyakinan investor terhadap keberlanjutan kinerja emiten tersebut. Bagi pelaku pasar, langkah Lo Kheng Hong menjadi indikator penting dalam menilai prospek saham sektor pertambangan di tengah dinamika regulasi dan fluktuasi harga komoditas global.
