Lockheed Martin Kunci Kontrak 10 Tahun: 850 Jet F-35 dan Taruhan US$7 Miliar
Inforiau – 25 Oktober 2026 | Kabar besar datang dari industri pertahanan Amerika Serikat. Lockheed Martin resmi menyepakati kerangka kerja jangka panjang selama sepuluh tahun dengan Departemen Perang AS untuk produksi dan pemeliharaan jet tempur siluman F-35 Lightning II. Kesepakatan yang diumumkan pada 22 Oktober 2026 ini menargetkan sedikitnya 850 pesawat bagi militer Amerika, sekaligus mewajibkan Lockheed Martin menggelontorkan investasi minimal US$7 miliar dari dana perusahaan sendiri guna menopang keberlangsungan program tersebut.
Kerangka kerja ini dirancang untuk memberikan kepastian produksi, memperkuat rantai pasokan, serta meningkatkan kesiapan operasional armada F-35. Meski demikian, pelaksanaannya masih bergantung pada persetujuan Kongres AS dan ketersediaan anggaran. Nilai total kontrak, harga per pesawat, dan jadwal pengadaan final pun belum diumumkan secara resmi.
Stabilitas Produksi dan Rantai Pasokan
Dalam kerangka kesepakatan, cakupan kerja mencakup produksi pesawat, pengadaan suku cadang awal, perangkat modifikasi, hingga dukungan pemeliharaan selama satu dekade. Tingkat produksi akan dipertahankan pada 156 pesawat per tahun untuk memenuhi kebutuhan pelanggan Amerika dan luar negeri, mencakup kelompok produksi Lot 21 hingga Lot 30.
Dengan pola pengadaan jangka panjang, pemerintah dan perusahaan berharap perencanaan produksi menjadi lebih stabil dibandingkan proses kontrak tahunan. Kepastian permintaan selama bertahun-tahun memungkinkan produsen dan pemasok merencanakan kebutuhan bahan baku, komponen elektronik, serta suku cadang dengan lebih teratur. Pendekatan itu diyakini dapat mengurangi hambatan produksi dan memperbaiki efisiensi rantai pasokan.
Wakil Menteri Perang AS untuk Akuisisi dan Pemeliharaan, Michael P. Duffey, menilai kesepakatan tersebut mengubah pendekatan pemerintah dalam menciptakan stabilitas bagi industri pertahanan agar mampu memproduksi peralatan dalam skala besar. Sementara itu, Chairman, President and CEO Lockheed Martin, Jim Taiclet, menyebut kerangka kerja ini memperkuat cara perusahaan merencanakan dan berinvestasi. Menurutnya, kepastian dari pemerintah memungkinkan perusahaan melakukan investasi awal untuk memperluas kapasitas, meningkatkan efisiensi, dan membangun rantai pasokan yang lebih tangguh.
Investasi US$7 Miliar Sebagai Insentif Kinerja
Sebagai bagian dari kesepakatan, Lockheed Martin akan mendanai sedikitnya US$7 miliar untuk berbagai inisiatif pendukung program F-35. Departemen Perang AS menyatakan pengaturan tersebut dimaksudkan untuk menyelaraskan insentif keuangan perusahaan dengan hasil kinerja yang dibutuhkan militer. Investasi itu diharapkan membantu memperluas kapasitas industri, meningkatkan efisiensi, dan memperkuat ketahanan rantai pasokan.
Langkah ini juga menjadi sinyal bahwa pemerintah AS ingin memastikan mitra industrinya turut menanggung risiko dan berkomitmen penuh terhadap keberhasilan program strategis. Dengan beban investasi yang dibagi, hasil akhir yang diharapkan adalah ketersediaan pesawat yang lebih tinggi, biaya jangka panjang yang lebih efisien, serta penghematan bagi pembayar pajak.
Kinerja Keuangan dan Pesanan yang Menumpuk
Kabar kesepakatan ini datang bersamaan dengan rilis kinerja kuartal ketiga Lockheed Martin yang mengesankan. Penjualan kuartal ketiga tumbuh 11 persen menjadi US$20,7 miliar, sementara laba per saham mencapai US$7,97, melampaui estimasi Wall Street. Keempat segmen bisnis perusahaan mencatat pertumbuhan, dengan lini Missiles and Fire Control mencatat kenaikan terbesar hingga 14 persen.
Manajemen kini memperkirakan penjualan menembus US$80 miliar dengan arus kas bebas US$7,8 miliar hingga US$8 miliar pada 2026. Perusahaan juga kembali menaikkan dividen, menandai 24 tahun berturut-turut kenaikan pembayaran kepada pemegang saham. Backlog pesanan tercatat tumbuh 27 persen menjadi US$292 miliar, memberikan visibilitas pendapatan yang substansial bagi para investor.
| Indikator | Angka |
|---|---|
| Target pesanan F-35 untuk militer AS | Minimal 850 unit |
| Tingkat produksi per tahun | 156 pesawat |
| Investasi mandiri Lockheed Martin | Minimal US$7 miliar |
| Penjualan kuartal III | US$20,7 miliar |
| Laba per saham kuartal III | US$7,97 |
| Backlog pesanan | US$292 miliar |
Redesain Sistem Navigasi Senilai US$114,6 Juta
Di tengah kesepakatan besar itu, Lockheed Martin Aeronautics Co. juga meraih kontrak senilai US$114,6 juta dari Angkatan Laut AS untuk mendesain ulang, mengintegrasikan, mengualifikasi, dan menguji dua sistem navigasi yang digunakan pada F-35. Pekerjaan berfokus pada Global Positioning System Electronic Unit dan NAV100 Inertial Navigation System.
Perusahaan akan melakukan rekayasa non-berulang dan redesain untuk menggantikan komponen elektronik yang sudah usang, sambil mempertahankan performa dan kompatibilitas sistem dengan pesawat F-35. Departemen Pertahanan AS menyebut upaya ini bertujuan mengatasi berkurangnya sumber manufaktur dan mencegah potensi gangguan terhadap produksi F-35. Sekitar 70,1 persen pekerjaan dilakukan di El Segundo, California, 27,5 persen di Fort Worth, Texas, dan 2,4 persen di Clearwater, Florida, dengan target penyelesaian Januari 2030.
Posisi F-35 di Pasar Global
Hingga kini, Lockheed Martin telah menyerahkan lebih dari 1.375 jet F-35 ke seluruh dunia, dan total armada telah melampaui satu juta jam terbang. F-35 pun tercatat sebagai jet tempur generasi kelima yang paling banyak diproduksi di dunia. Dengan kerangka kerja sepuluh tahun ini, perusahaan berharap dapat menjaga momentum produksi sekaligus memperkuat posisinya sebagai pemasok utama pertahanan udara bagi Amerika Serikat dan negara-negara sekutunya.
Secara keseluruhan, kesepakatan ini menjadi fondasi penting bagi masa depan program F-35. Kepastian permintaan jangka panjang, komitmen investasi yang besar, serta kinerja keuangan yang solid menempatkan Lockheed Martin pada posisi yang kuat untuk menghadapi tantangan industri pertahanan dalam satu dekade mendatang. Namun, semua itu tetap bergantung pada restu Kongres dan ketersediaan anggaran, sehingga dinamika politik di Washington akan menjadi faktor penentu apakah kerangka ambisius ini benar-benar terwujud.
