Saham TLKM Jadi Magnet di Tengah Badai MSCI: Diserok Domestik Rp 1,31 Triliun Saat Asing Kabur
Inforiau – 25 Oktober 2026 | Di tengah gejolak pasar modal Indonesia yang dipicu usulan reklasifikasi MSCI, saham TLKM justru mencuri perhatian. Sepanjang periode 16 hingga 23 Oktober 2026, saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) membukukan aksi beli bersih secara keseluruhan atau net buy sebesar Rp 1,31 triliun, meski investor asing mencatatkan net sell Rp 663 miliar pada periode yang sama. Fenomena ini mengindikasikan bahwa saham TLKM justru menjadi salah satu buruan utama investor domestik ketika tekanan jual asing melanda pasar.
Kondisi tersebut terjadi setelah lembaga penyedia indeks global MSCI mengumumkan pembukaan konsultasi untuk menurunkan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market, melewati kategori Frontier Market. Pengumuman pada 15 Oktober 2026 atau dini hari 16 Oktober waktu Indonesia itu langsung memicu kepanikan di lantai bursa.
Pada 16 Oktober 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka anjlok 8,01 persen ke level 5.393,92. Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat menghentikan sementara perdagangan selama 30 menit atau trading halt. Namun tekanan tak terbendung, IHSG akhirnya ditutup melemah 11,57 persen ke level 5.185,11. Pada hari yang sama, tekanan jual investor asing mencapai sekitar Rp 3,40 triliun.
Dalam enam hari perdagangan pada 16-23 Oktober 2026, investor asing membukukan jual bersih sekitar Rp 11,40 triliun. Saham perbankan berkapitalisasi besar menjadi sasaran utama pelepasan. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat jual bersih asing terbesar Rp 5,23 triliun, disusul PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) Rp 3,26 triliun dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) Rp 1,37 triliun. Akumulasi jual bersih ketiga saham tersebut mencapai Rp 9,86 triliun atau sekitar 86,5 persen dari total jual bersih asing.
Menariknya, di tengah aksi jual tersebut, sejumlah saham unggulan justru diserok investor domestik. Selain BBCA yang mencatat net buy keseluruhan Rp 4,36 triliun dan BBRI Rp 1,33 triliun, saham TLKM meraup net buy keseluruhan Rp 1,31 triliun. Pola ini menunjukkan adanya strategi investor dalam negeri memanfaatkan harga saham TLKM yang dinilai sudah murah akibat tekanan sentimen global.
Pengamat pasar modal Hendra Wardana menilai langkah Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) masuk ke pasar saham usai pengumuman MSCI berpotensi menjadi katalis positif bagi saham BUMN, termasuk saham TLKM. Menurutnya, aksi beli Danantara dapat membantu memperbaiki sentimen, meningkatkan kepercayaan investor, dan memberikan tambahan permintaan terhadap saham-saham yang dinilai memiliki valuasi menarik.
“Namun, penguatan ini perlu dilihat secara proporsional. Keberlanjutan kenaikan harga tetap bergantung pada fundamental perusahaan, prospek laba, arus kas, kebijakan dividen, serta kondisi pasar secara keseluruhan,” ujar Hendra dalam keterangannya, Sabtu (24/10/2026).
Ia mengingatkan investor perlu membedakan antara kenaikan yang didorong sentimen dan kenaikan yang ditopang perbaikan kinerja bisnis. Jika aksi beli diikuti peningkatan kinerja keuangan dan perbaikan tata kelola, dampaknya akan lebih berkelanjutan. Sebaliknya, jika penguatan hanya mengandalkan ekspektasi terhadap Danantara, harga saham TLKM tetap berisiko terkoreksi ketika minat beli mereda.
Meski demikian, gejolak pasar tidak dapat sepenuhnya dikaitkan dengan usulan reklasifikasi MSCI. Pengumuman tersebut merupakan pembukaan konsultasi, bukan keputusan final. MSCI membuka konsultasi hingga 30 April 2027, sementara keputusan akhir dijadwalkan paling lambat 30 Juni 2027. MSCI menyoroti kekhawatiran investor mengenai transparansi pasar, dugaan perdagangan terkoordinasi, dan efektivitas penegakan aturan.
Bagi investor global, persoalan ini menyangkut aksesibilitas, keterbukaan informasi, kejelasan struktur kepemilikan saham, serta keyakinan bahwa mekanisme perdagangan berlangsung secara adil. Klasifikasi Standalone Market digunakan MSCI untuk pasar yang tidak dikelompokkan dalam tiga kategori utamanya, seperti yang terjadi pada Argentina, Bulgaria, Nigeria, dan Rusia.
Di sisi lain, IHSG perlahan bangkit dan pada 23 Oktober 2026 ditutup pada level 5.439. Rebound ini turut ditopang aksi serok saham-saham unggulan, termasuk saham TLKM, oleh investor dalam negeri. Data menunjukkan bahwa saham TLKM menjadi salah satu dari tiga saham yang paling banyak diserok selama periode petaka MSCI, bersama BBCA dan BBRI.
Bagi investor, saham TLKM dinilai menarik karena merupakan emiten telekomunikasi berkapitalisasi besar dengan bisnis yang relatif mapan, arus kas stabil, dan rekam jejak pembagian dividen yang konsisten. Namun, investor tetap disarankan mencermati valuasi seperti price to earnings ratio (PER), price to book value (PBV), return on equity (ROE), serta prospek pertumbuhan bisnis digital dan infrastruktur telekomunikasi ke depan.
Secara keseluruhan, dinamika saham TLKM dalam sepekan terakhir mencerminkan tarik-menarik antara tekanan sentimen global dan kepercayaan investor domestik. Selama fundamental perusahaan terjaga dan perbaikan tata kelola pasar berjalan, saham TLKM berpotensi tetap menjadi pilihan menarik di tengah ketidakpastian. Namun, investor perlu waspada terhadap risiko koreksi apabila euforia aksi beli mereda tanpa diikuti perbaikan kinerja yang nyata.
