Bangkai Kapal Turki Berusia 4.700 Tahun Ditemukan, Sementara KMP Batumandi di Merak Siap Diangkat
Inforiau – 25 Oktober 2026 | Penemuan bangkai kapal Turki berusia 4.700 tahun di perairan Pulau Kekova, Provinsi Antalya, menjadi sorotan dunia arkeologi sekaligus membuka jendela baru tentang jalur perdagangan laut kuno di Mediterania timur. Temuan yang diumumkan Menteri Kebudayaan Turki Mehmet Nuri Ersoy melalui akun X pada Rabu (14/10) itu disebut sebagai salah satu penemuan maritim paling penting dari Zaman Perunggu Awal. Menariknya, kabar tentang bangkai kapal Turki ini muncul bersamaan dengan peristiwa pengangkatan bangkai kapal KMP Batumandi di Pelabuhan Merak, Banten, yang tengah dipersiapkan otoritas pelayaran nasional.
Guci Keramik Jadi Bukti Perdagangan Laut Kuno
Meski badan kapal yang terbuat dari kayu sudah tidak lagi bertahan, tim arkeolog berhasil menemukan sejumlah guci keramik penyimpanan yang diperkirakan berusia 4.700 tahun. Guci-guci tersebut diyakini digunakan untuk mengangkut minyak zaitun atau anggur. Analisis tanah liat menunjukkan bahwa wadah-wadah itu dibuat di bengkel-bengkel Lembah Yordan, sesuai dengan gaya wadah serupa yang sebelumnya ditemukan di Mesir, Turki, dan Yunani.
Para peneliti meyakini kapal tersebut sedang berlayar dari pesisir Levant menuju wilayah Hisarlik, yang kini berada di Turki, atau Pulau Kreta di Yunani, ketika terbalik dan tenggelam. Satu wadah menjadi perhatian khusus karena desainnya unik, dengan sembilan tanda dan dua lubang pada bagian badannya. Ciri-ciri ini menunjukkan bahwa wadah tersebut mungkin digunakan untuk mengolah susu menjadi mentega atau keju. Penggalian bawah laut yang dimulai awal tahun ini dipimpin oleh Hakan Oniz, associate professor arkeologi di Universitas Akdeniz.
Temuan bangkai kapal Turki ini menjadi bukti nyata luasnya jalur perdagangan laut dan pertukaran budaya sejak masa awal di kawasan Mediterania timur. Bagi dunia ilmu pengetahuan, penemuan ini memperkuat teori bahwa peradaban kuno telah memiliki jaringan perdagangan maritim yang kompleks jauh sebelum era modern.
KMP Batumandi di Merak Siap Diangkat
Di sisi lain, Indonesia tengah menangani persoalan bangkai kapal domestik. Ditjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan mengaku telah berkoordinasi dengan PT ASDP Indonesia Ferry untuk mempersiapkan proses pengangkatan KMP Batumandi melalui operasi salvage. Plt. Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kemenhub Lollan Panjaitan menyatakan bahwa pembahasan lebih lanjut tengah dilakukan terkait rencana pelaksanaan operasi salvage, termasuk penunjukan perusahaan penyedia jasa salvage.
“Persiapan tersebut dilakukan agar proses pengangkatan kapal dapat segera dilaksanakan dengan memperhatikan aspek keselamatan, keamanan, serta kondisi perairan di sekitar lokasi kejadian,” ungkap Lollan dalam keterangan resmi, Kamis (22/10).
Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry Heru Widodo menegaskan dukungannya terhadap operasi pengangkatan guna menjaga kelancaran operasional di Pelabuhan Merak. Menurutnya, ASDP telah melakukan pengamanan lokasi kapal, pemasangan buoy dan oil boom, serta persiapan operasi salvage. Operasional penyeberangan di Pelabuhan Merak dilaporkan tetap berjalan normal pascatenggelamnya KMP Batumandi, dengan pengaturan alur pelayaran oleh KSOP Kelas I Banten dan pemantauan Vessel Traffic Service Merak.
KSOP Kelas I Banten juga berkoordinasi dengan Pertamina, VTS Merak, dan Pangkalan Penjagaan Laut dan Pantai Kelas I Tanjung Priok untuk mengantisipasi potensi pencemaran minyak di sekitar lokasi tenggelamnya kapal. Selain itu, proses pendinginan kapal yang terbakar masih terus dilakukan petugas untuk memastikan kondisi benar-benar aman sebelum tahapan selanjutnya.
Pelajaran dari Dua Peristiwa Kelautan
Baik penemuan bangkai kapal Turki maupun penanganan KMP Batumandi sama-sama menyoroti pentingnya tata kelola laut yang baik. Jika penemuan bangkai kapal Turki memberi nilai sejarah dan budaya yang tinggi, penanganan bangkai kapal modern menuntut kesigapan operasional, keselamatan pelayaran, dan perlindungan lingkungan. Publik menantikan hasil akhir operasi salvage KMP Batumandi agar arus penyeberangan Selat Sunda tetap aman dan lancar.
Dengan koordinasi lintas lembaga yang terus berjalan, penanganan pascakejadian diharapkan berlangsung terencana dan sesuai ketentuan. Sementara itu, dunia arkeologi internasional terus menanti publikasi ilmiah lengkap atas penemuan bangkai kapal Turki tertua di dunia tersebut, yang berpotensi menulis ulang sejarah perdagangan maritim Zaman Perunggu.
