Luka Dončić Cetak 23 Poin tapi 11 Turnover, Lakers Tetap Sempurna di Awal Musim
Inforiau – 24 Oktober 2026 | Penampilan Luka Dončić kembali menjadi sorotan dalam laga derby Los Angeles antara Lakers dan Clippers. Meski timnya menang 125-117 dan menjaga rekor sempurna dua kemenangan tanpa kekalahan di awal musim NBA, bintang Slovenia itu tampil di bawah standar efisiensinya sendiri. Luka Dončić menutup pertandingan dengan 23 poin, enam rebound, tujuh asisten, satu blok, serta dua tembakan tiga angka, namun ia juga mencatatkan 11 turnover yang menjadi rekor tertinggi sepanjang kariernya.
Angka tersebut jelas mencoreng statistik apik yang biasanya melekat pada Luka Dončić. Dari lapangan ia hanya memasukkan 8 dari 21 tembakan, termasuk 2 dari 8 dari garis tiga angka, meski sempurna di garis tembakan bebas dengan 5 dari 7. Sebelumnya, pada laga pembuka melawan Golden State Warriors, ia tampil gemilang dengan 28 poin, delapan rebound, tujuh asisten, tiga steal, dan lima tripoin dalam kemenangan 127-105.
Reaves Jadi Pahlawan, Dončić Masih Cari Ritme
Kemenangan Lakers atas Clippers justru banyak ditopang oleh performa impresif Austin Reaves yang mencetak 28 poin, sembilan asisten, dan dua rebound. Walker Kessler juga tampil dominan dengan 22 poin, 10 dari 14 tembakan, delapan rebound, tiga steal, dan enam blok. Kontribusi Luka Dončić tetap penting, tetapi konsistensi dan penguasaan bola menjadi catatan tersendiri bagi pelatih dan para penggemar.
Menariknya, masalah turnover tak hanya dialami Luka Dončić. Darius Garland dari Clippers juga mencatat sembilan turnover, sementara Reaves menambah enam, sehingga total 17 turnover lahir dari dua pemain Lakers saja. Bagi manajer fantasi yang sudah terbiasa dengan gaya bermain agresif Dončić, angka ini mungkin bukan hal baru, tetapi tetap menjadi peringatan akan risiko penguasaan bola yang tinggi.
Kritik Draymond Green soal Peluang MVP
Di tengah performa apiknya, bintang Warriors Draymond Green melontarkan pandangan kontroversial mengenai peluang Luka Dončić meraih gelar MVP. Menurut Green, tidak ada yang bisa dilakukan Dončić untuk memenangkan penghargaan tersebut karena publik basket telah mengalami kelelahan akan kebesarannya. Green membandingkannya dengan LeBron James yang hanya meraih empat MVP meski dianggap pemain terbaik NBA selama satu dekade.
Green menilai jika Lakers finis di posisi empat besar, hal itu tidak akan mengejutkan siapa pun karena kualitas Dončić sudah diakui. Ia menyebut situasi ini sebagai kelelahan akan kebesaran, sebuah bentuk ketidakadilan bagi pemain yang konsisten mencetak angka luar biasa. Musim lalu, Dončić memimpin liga dengan rata-rata 33,5 poin per pertandingan.
Bayang-Bayang Perdagangan dan Kampanye Hitam Mavericks
Isu lain yang kembali mencuat adalah cara Dallas Mavericks menangani kepergian Luka Dončić. Kolumnis The Athletic, Sam Amick, menyebut Mavericks melakukan kampanye hitam di balik layar untuk membenarkan perdagangan pada Februari 2025. Dalam kesepakatan tiga tim yang juga melibatkan Utah Jazz, Mavericks melepas Dončić ke Lakers dengan imbalan paket pemain dan pilihan draf putaran pertama, dengan Anthony Davis sebagai tokoh utama yang pindah ke Dallas.
Pernyataan itu memicu kemarahan publik. Analis CBS, Ashley Nicole Moss, menyebut klaim tersebut sudah sangat jelas. Sebagian penggemar membedakan antara organisasi Mavericks dan mantan manajer umum Nico Harrison yang dianggap sebagai otak perdagangan. Terlepas dari kontroversi itu, Dončić kini menjadi wajah baru Lakers setelah LeBron James memutuskan tidak kembali untuk musim 2026-27.
Jadwal Berikutnya
Lakers akan berusaha mempertahankan rekor sempurna saat bertandang ke markas Utah Jazz pada Minggu. Bagi Luka Dončić, laga tersebut menjadi kesempatan untuk memperbaiki efisiensi tembakan dan menekan angka turnover. Dengan beban kerja yang semakin besar tanpa kehadiran LeBron, performa Dončić akan sangat menentukan arah musim Lakers.
Secara keseluruhan, meski mencatat 11 turnover, kualitas Luka Dončić sebagai salah satu pemain terbaik NBA tidak perlu diragukan. Kritik dan kontroversi yang mengelilinginya justru mencerminkan tingginya ekspektasi terhadap sang bintang. Jika ia mampu menjaga penguasaan bola dan konsistensi tembakan, Lakers berpeluang besar bersaing di papan atas, sementara Dončić sendiri tetap menjadi kandidat kuat dalam perbincangan MVP meski diragukan oleh sebagian pihak.
