CGV Arthouse Merambah Jogja dan Bandung, Panggung Baru Sineas Muda Indonesia
Inforiau – 24 Oktober 2026 | Industri perfilman Indonesia kembali mendapat angin segar. Jaringan bioskop CGV Cinemas Indonesia resmi memperluas program CGV Arthouse ke dua kota baru, yakni Yogyakarta dan Bandung, mulai Sabtu, 10 Oktober 2026. Langkah ini menjadikan CGV JWalk Mall Yogyakarta dan CGV Bandung Electronic Center (BEC) sebagai rumah baru bagi film-film alternatif, setelah sebelumnya program serupa sukses berjalan di CGV fX Sudirman, Jakarta.
Kehadiran CGV Arthouse di dua kota tersebut bukan sekadar penambahan layar. Program ini dirancang sebagai wadah bagi film festival, film independen, film klasik, hingga karya pelajar dan mahasiswa yang selama ini kesulitan menembus bioskop komersial. Lewat inisiatif ini, CGV berupaya menjembatani kesenjangan antara karya sineas muda dan penonton bioskop tanah air.
Ruang bagi Filmmaker Muda
Head of Movie Programming CGV Cinemas, Lulu Fahrullah, menegaskan bahwa tujuan utama program ini adalah membuka ruang bagi para filmmaker muda Indonesia. Menurutnya, CGV Arthouse tidak hanya menghadirkan film-film internasional, tetapi juga memberi kesempatan bagi karya yang benar-benar dibuat oleh generasi baru sineas.
Lulu menjelaskan bahwa sineas yang ingin mengajukan karya tidak harus memiliki film panjang dengan biaya produksi besar. Film pendek pun berpeluang ditayangkan melalui konsep omnibus, yaitu menggabungkan beberapa film pendek dalam satu rangkaian pemutaran. CGV Arthouse menargetkan durasi pemutaran minimal 60 menit, sehingga filmmaker dapat menggabungkan tiga hingga empat film pendek bertema serupa untuk diajukan kepada tim kurator.
“Kalau ada film-film pendek dan memang saya tahu juga banyak film pendek di Indonesia atau di Yogyakarta, punya tiga, empat film pendek yang dirasa secara tematik sama, tolong submit. Nanti kami akan kurasi,” ujar Lulu saat menyampaikan program CGV Arthouse di CGV JWalk, Jumat (23/10/2026).
Selain film pendek, film panjang yang belum pernah tayang di bioskop atau baru diputar di festival juga dapat diajukan untuk dikurasi. CGV Arthouse membuka ruang diskusi bagi sineas untuk membahas kemungkinan penayangan sekaligus mengembangkan program pemutaran berdasarkan tema tertentu.
Peluang Lintas Kota
Salah satu daya tarik utama program ini adalah skema penayangan lintas kota. Kesempatan tersebut tidak terbatas pada satu wilayah saja. Film karya sineas Yogyakarta, misalnya, berpeluang diputar di Bandung, begitu pula sebaliknya. Skema penayangan akan disesuaikan dengan hasil kurasi dan respons penonton di masing-masing kota.
“Memang itu tujuan kami. Kami ingin memberikan kesempatan buat filmmaker di kota itu,” tambah Lulu. Dengan begitu, ekosistem perfilman daerah diharapkan tumbuh lebih hidup dan saling terhubung.
Dukungan dari Festival Film
Festival Manager JAFF 2026, Intan Nadya Maulida, menyambut baik kehadiran CGV Arthouse. Menurutnya, program ini menjadi peluang untuk memperluas keberagaman film yang dapat diakses masyarakat. Kehadiran ruang pemutaran alternatif dinilai penting agar karya-karya yang tak masuk jalur distribusi mainstream tetap bisa bertemu penontonnya.
Program CGV Arthouse sepanjang akhir Oktober hingga November 2026 menghadirkan beragam film Indonesia dan internasional. Tiket dapat diperoleh mulai Rp28.000 melalui aplikasi CGV, situs resmi, maupun langsung di bioskop. Harga yang terjangkau ini diharapkan menarik minat penonton untuk menjelajahi film-film di luar arus utama.
Jangkauan CGV yang Semakin Luas
Ekspansi CGV Arthouse menambah panjang daftar inovasi jaringan bioskop asal Korea Selatan tersebut di Indonesia. Di Surabaya, misalnya, CGV BG Junction dan CGV Marvell City rutin menayangkan beragam judul dengan harga tiket mulai Rp26.000 hingga Rp40.000, bahkan menyediakan format 4DX seharga Rp70.000. Sementara di tingkat regional, CGV juga menjadi mitra eksklusif penayangan film spesial Detective Conan: The Counterfeit Case of Ultra 30 di Korea Selatan mulai 5 November 2026, lengkap dengan versi sulih suara Korea.
Langkah CGV memperluas program Arthouse menunjukkan komitmen untuk tidak hanya berfokus pada film komersial besar, tetapi juga merawat ekosistem film alternatif. Bagi sineas muda, kehadiran CGV Arthouse di Yogyakarta dan Bandung menjadi pintu masuk berharga menuju layar bioskop yang selama ini terasa jauh.
Dengan kurasi yang terbuka, dukungan lintas kota, serta harga tiket yang ramah kantong, CGV Arthouse berpotensi menjadi katalis bagi lahirnya generasi baru pembuat film Indonesia. Kini tantangannya ada pada para sineas muda untuk memanfaatkan ruang yang telah disediakan dan membuktikan bahwa karya mereka layak mendapat tempat di hati penonton bioskop.
