Mathew Baker Teguh Hati Tolak Godaan Australia, Pilih Membela Timnas Indonesia Selamanya
Inforiau – 03 November 2026 | Pemain muda keturunan Indonesia-Australia, Mathew Baker, kembali menjadi sorotan publik setelah muncul kabar bahwa Federasi Sepak Bola Australia berusaha membujuknya untuk bergabung dengan Timnas Australia. Namun, bek sayap Melbourne City tersebut menunjukkan keteguhan hati dengan mempertahankan komitmennya untuk terus membela Timnas Indonesia, meskipun upaya perayu dari negara kelahirannya itu terus berlanjut.
Informasi mengenai pendekatan Australia terhadap Mathew Baker disampaikan melalui akun penggemar sepak bola Australia, Futbol Australia, via media sosial pada Senin, 2 November 2026. Menariknya, upaya membujuk ini dilakukan ketika pemain berusia 17 tahun tersebut sudah memiliki pengalaman mengenakan seragam Merah Putih di level internasional senior.
“Sepertinya Australia mencoba mendekati Mathew Baker untuk mencoba meyakinkannya bermain bersama mereka meskipun bek sayap Melbourne City itu sudah debut bersama Indonesia,” tulis akun Futbol Australia dalam postingannya. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa Australia tidak menyerah dalam upaya merekrut pemain berbakat ini, meskipun telah terjadi komitmen resmi dengan PSSI.
Mathew Baker sendiri telah resmi melakukan debut bersama Timnas Indonesia pada Juni 2026 lalu. Ia tampil sebagai pemain pengganti dalam laga uji coba internasional melawan Oman di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Dalam pertandingan tersebut, Mathew Baker bermain selama 10 menit untuk mempertahankan keunggulan 3-0 Timnas Indonesia atas Oman dan mendapatkan pujian atas penampilannya yang apik.
Meskipun Australia terus berupaya merayu, respons Mathew Baker terhadap pendekatan tersebut tetap konsisten dan tidak berubah. Pemain kelahiran Melbourne itu masih ingin melanjutkan perjalanan karier internasionalnya bersama Indonesia dan tidak tertarik untuk berpindah asosiasi ke Timnas Australia.
Perlu diketahui bahwa Mathew Baker memiliki ikatan dengan dua negara sekaligus. Ia lahir dan besar di Australia, tetapi memiliki darah Indonesia dari ibunya yang berasal dari keluarga Batak, Medan. Sementara itu, ayahnya merupakan warga keturunan Australia. Kombinasi latar belakang ini membuat Mathew Baker menjadi sosok yang unik dengan koneksi kuat ke kedua negara.
Sikap tegas Mathew Baker terhadap komitmennya pada Indonesia sebenarnya sudah pernah disampaikan secara terbuka sebelumnya. Dalam wawancara dengan media Australia, SBS, pada Juli 2026, ia dengan jelas menegaskan tidak memiliki keinginan untuk berpindah asosiasi dan membuka peluang membela Timnas Australia. Pada kesempatan itu, Mathew Baker mengaku sangat bersyukur atas sambutan yang diterimanya sejak memutuskan mengenakan seragam Merah Putih.
“Saya merasa diterima dan dicintai oleh masyarakat Indonesia sehingga semakin yakin untuk meneruskan pilihanku. Ini bukan pilihan antara Indonesia atau Australia. Saya anak Indonesia, saya anak Australia, dan saya mencintai kedua negara. Namun, saya merasa sangat dicintai dan diterima di sana, sehingga tidak ada alasan bagi saya untuk pindah,” ungkap Mathew Baker kepada SBS.
Ia juga menjelaskan bahwa keputusannya membela Indonesia bukan berarti dirinya tidak mencintai Australia. Mathew Baker bangga dengan kedua latar belakang keluarganya dan tidak pernah menganggap pilihannya sebagai persoalan harus meninggalkan salah satu negara. Perspektif matang ini menunjukkan kedewasaan pemain muda dalam memahami situasi kompleks yang dihadapinya.
Kedekatan Mathew Baker dengan Indonesia sudah terbangun sejak usia muda. Ia mulai memperkuat tim-tim kelompok umur Indonesia ketika berusia 15 tahun, jauh sebelum debut seniornya. Pengalaman tersebut membuat ikatan emosionalnya dengan sepak bola Indonesia semakin kuat dan mendalam. Bahkan, sebelumnya Mathew Baker pernah menolak panggilan Timnas Australia U-17 pada 2024 untuk fokus melanjutkan karier bersama Garuda Muda.
Status kewarganegaraan Mathew Baker yang belum sepenuhnya terkunci menjadi salah satu alasan Australia terus merayunya. Regulasi FIFA mengizinkan pemain di bawah usia 21 tahun untuk berpindah asosiasi sekali seumur hidup, yang memberikan celah hukum bagi pemain dengan paspor ganda untuk mengubah komitmen mereka. Namun, Mathew Baker telah menunjukkan bahwa regulasi tersebut tidak akan mengubah tekadnya.
Kasus Mathew Baker berbeda dengan pemain Indonesia lainnya seperti Noha Pohan Simangunson, yang memanfaatkan celah regulasi FIFA tersebut untuk pindah dari PSSI ke Federasi Sepak Bola Finlandia pada akhir September 2026. Hal ini membuat komitmen Mathew Baker pada Indonesia semakin bermakna karena merupakan pilihan yang benar-benar didorong oleh hati nurani dan ikatan emosional, bukan sekadar kebetulan administratif.
Dengan keteguhan hatinya ini, Mathew Baker diharapkan dapat terus berkontribusi bagi perkembangan sepak bola Indonesia di masa depan. Komitmennya yang kuat terhadap Timnas Indonesia menunjukkan bahwa pemain muda berbakat masih ada yang memilih jalan yang lebih sulit namun lebih bermakna secara emosional. Dukungan masyarakat Indonesia yang luar biasa terhadap Mathew Baker tampaknya menjadi motivasi utama dalam mempertahankan keputusannya yang matang dan penuh pertimbangan ini.
