Michele Di Gregorio Bicara Terbuka Usai Bournemouth Hancurkan Milan 3-0: Soal Dingin, Palladino, dan Intensitas Liga Inggris
Inforiau – 23 Oktober 2026 | Kiper Bournemouth, Michele Di Gregorio, menjadi salah satu sosok yang mencuri perhatian setelah The Cherries membantai AC Milan dengan skor telak 3-0 pada matchday ketiga Liga Europa di Vitality Stadium, Jumat (23/10/2026) dini hari WIB. Dalam laga tersebut, Michele Di Gregorio nyaris tidak pernah diuji karena Milan sama sekali tidak mencatatkan tembakan tepat sasaran. Performa solid sang penjaga gawang bersama lini pertahanan Bournemouth pun menjadi fondasi kemenangan bersejarah atas raksasa Italia itu.
Kemenangan Bournemouth atas Milan seluruhnya lahir dari situasi bola mati. Bournemouth mendapat hadiah penalti pada menit kedelapan setelah bek Milan, Koni De Winter, melakukan handball saat memblok tandukan Evanilson. Justin Tavernier yang maju sebagai algojo sukses mengecoh Mike Maignan dan membawa tim tuan rumah unggul 1-0. Situasi kemudian memburuk bagi Milan ketika kiper Mike Maignan diganjar kartu merah langsung pada menit ke-27 setelah menampar wajah Tyler Adams di depan gawang. Wasit menunjuk titik putih, dan kali ini Marcus Tavernier menuntaskan eksekusi untuk menggandakan keunggulan menjadi 2-0 hingga turun minum.
Di babak kedua, Milan yang bermain dengan sepuluh orang berusaha membatasi kerugian. Ruben Amorim terpaksa menarik Omari Hutchinson untuk memasukkan kiper cadangan, namun organisasi permainan Rossoneri tetap kacau. Milan hanya mencatatkan 36 persen penguasaan bola dan gagal melepaskan satu pun tembakan tepat sasaran sepanjang 90 menit. Penderitaan mereka bertambah pada menit ke-83 ketika Amine Adli mencetak gol ketiga bagi Bournemouth, memastikan kemenangan 3-0 yang membuat kiprah Milan di Liga Europa berada dalam posisi genting.
Usai pertandingan, Michele Di Gregorio berbicara terbuka kepada Sky tentang malam yang relatif tenang baginya. Dengan nada bercanda, kiper asal Italia itu mengaku sempat kedinginan karena hampir tidak pernah dilibatkan dalam pertandingan. “Apakah saya kedinginan? Ya, malam ini sedikit, tapi itu ‘masalah’ yang harus saya syukuri kepada rekan-rekan setim,” ujarnya sambil tersenyum. Menurut Michele Di Gregorio, ketika seorang kiper tidak dipanggil bekerja, itu berarti seluruh tim telah menjalankan tugas dengan sangat baik. “Semua ini adalah kerja kolektif, saya hanya perlu berterima kasih kepada mereka,” tegasnya.
Michele Di Gregorio juga menegaskan bahwa mentalitas timnya tidak berubah meski menghadapi lawan sekelas Milan. Ia menyebut Bournemouth tetap ingin tampil agresif terlepas dari jalannya pertandingan. “Kami tahu ini laga penting melawan lawan berkualitas tinggi, tetapi kami ingin agresif dan akan tetap seperti itu apa pun yang terjadi,” jelasnya.
Kiper berusia 29 tahun itu juga menutup rapat spekulasi soal masa depannya. Michele Di Gregorio membantah kabar yang mengaitkannya dengan Bologna, klub yang kini dilatih mantan pelatihnya di Monza, Raffaele Palladino. “Tidak, fakta bahwa kami pernah bersama tidak berarti apa-apa. Kami punya hubungan yang baik secara profesional maupun personal, itu tidak perlu diperdebatkan. Dia akan menonton pertandingan para mantan pemain Monza, dan kami akan mengikuti pertandingannya karena kami menyayanginya sebagai pelatih dan sebagai pribadi. Tapi persoalannya berhenti sampai di sini,” tegas Michele Di Gregorio dengan nada pasti.
Lebih lanjut, Michele Di Gregorio membeberkan perbedaan mendasar antara sepak bola Italia dan Inggris. Menurutnya, perbedaan terbesar terletak pada pendekatan mental dan intensitas permainan. “Di sini semua tim ingin memainkan pertandingan dengan memaksakan ide-ide mereka sendiri, dengan intensitas yang sangat berbeda dari Italia. Ini membuat pertandingan jauh lebih terbuka dan spektakuler,” paparnya. Ia juga menyoroti kerasnya Premier League, di mana sebuah tim bisa kalah bahkan melawan tim juru kunci jika tidak tampil seratus persen. “Setiap pertandingan adalah pertempuran,” tambahnya.
Bagi Michele Di Gregorio, kepindahan ke Inggris merupakan lompatan besar dalam kariernya. Hal yang paling mengejutkannya adalah intensitas luar biasa, kegigihan, dan agresi dalam merebut bola lepas yang belum pernah ia lihat di level setinggi itu. Meski kini berkarier di Inggris, ia tetap mengikuti perkembangan sepak bola Italia dan mengaku prihatin melihat sejumlah hal yang tak kunjung berubah atau membaik. Namun, ia menegaskan tidak ada yang kurang dari kehidupannya di Britania Raya. “Bersyukur, di sini tidak ada yang kurang bagi saya maupun keluarga. Klub dan rekan-rekan menyambut kami dengan luar biasa, jadi semuanya baik-baik saja,” tutup Michele Di Gregorio.
Kemenangan 3-0 ini tidak hanya menjadi momen pembuktian bagi Bournemouth di kancah Eropa, tetapi juga panggung bagi Michele Di Gregorio untuk menunjukkan kematangan sebagai kiper dan pribadi. Di tengah spekulasi transfer dan tekanan menghadapi klub besar, ia tampil tenang, loyal pada proyek barunya, dan tetap menghormati masa lalunya di Italia. Bagi Milan, kekalahan ini menjadi pukulan berat yang memaksa mereka segera berbenah jika ingin menjaga asa di Liga Europa, sementara Bournemouth membuktikan bahwa intensitas dan agresi ala Inggris masih terlalu sulit dibendung Rossoneri malam itu.
