Pyramids FC Melaju Kencang di Liga Mesir, Rulani Mokwena Bikin Al Ahly Waspada
Inforiau – 30 Oktober 2026 | Pyramids FC tengah menjadi sorotan utama di kancah sepak bola Mesir. Klub yang berbasis di Kairo Baru itu tampil perkasa di Liga Premier Mesir dengan catatan tujuh kemenangan beruntun, mengumpulkan 21 poin dari tujuh laga, dan masih memiliki satu pertandingan tunda. Dominasi Pyramids FC ini membuat mereka kokoh di puncak klasemen, unggul dua poin atas Zamalek yang berada di posisi kedua, sementara Al Ahly tertahan di peringkat ketiga dengan 17 poin.
Kebangkitan Pyramids FC tak lepas dari tangan dingin pelatih asal Afrika Selatan, Rulani Mokwena. Sejak meninggalkan Mamelodi Sundowns pada Juli 2024, Mokwena sempat menangani Wydad Athletic Club di Maroko, namun situasi finansial klub membuatnya tak bertahan lama. Kini, di Pyramids FC, ia menemukan lingkungan yang tepat untuk menerapkan ide-idenya. “Ketika saya meninggalkan Afrika Selatan, saya mengatakan ingin memiliki masa singkat, semacam safari di kawasan Afrika Utara,” ujar Mokwena dalam wawancara dengan media Afrika Selatan.
Kepercayaan diri Mokwena berbuah hasil nyata. Pyramids FC tidak hanya mendominasi liga domestik, tetapi juga telah memastikan tempat di babak 16 besar Liga Champions Afrika. Dalam undian yang digelar pekan ini, Pyramids FC tergabung di Grup 4 bersama Al Hilal dari Sudan, Horoya Conakry dari Guinea, dan Maghreb Fes dari Maroko. Pengamat sepak bola Mesir, Ahmed Shobier, memprediksi Pyramids FC akan mengamankan posisi puncak grup. “Pyramids akan lolos sebagai juara grup, dan persaingan untuk satu tempat tersisa ada di antara Maghreb Fes dan Al Hilal,” kata Shobier dalam pernyataannya di radio Mesir.
Ancaman Pyramids FC pun diakui oleh mantan bintang Al Ahly, Mohamed Abdel-Galil. Ia secara terbuka menyebut bahwa satu-satunya tim yang membuatnya khawatir terhadap mantan klubnya adalah Pyramids FC asuhan Rulani Mokwena. “Saya tidak khawatir Al Ahly melawan Zamalek, karena Al Ahly mampu mengalahkan mereka lagi, tetapi saya khawatir Al Ahly melawan Pyramids,” ujar Abdel-Galil kepada televisi Mesir. Kedua tim dijadwalkan bertemu pada 23 November mendatang dalam laga yang diprediksi menjadi penentu arah persaingan gelar.
Di sisi lain, Al Ahly harus fokus pada kompetisi Piala Konfederasi Afrika setelah tersingkir dari Liga Champions. Undian menempatkan Al Ahly di Grup 1 bersama Raja Casablanca dari Maroko, ASKO Kara dari Togo, dan Primeiro de Agosto dari Angola. Shobier menilai grup Al Ahly tidak bisa dianggap remeh. “Al Ahly di Piala Konfederasi bukan main-main. Selama Al Ahly masuk turnamen, ia akan bermain untuk gelar juara. Ini turnamen yang berisi banyak klub berat. Orang-orang membicarakan bebek Kenya atau angsa Kenya dan anak-anak ayam Kenya, tidak ada anak ayam maupun angsa, tidak ada tim kecil dari negara mana pun,” tegasnya.
Sementara itu, Zamalek yang juga mewakili Mesir di Liga Champions Afrika tergabung di Grup 2 bersama Young Africans (Tanzania), Mouloudia Alger (Aljazair), dan Club Africain (Tunisia). Shobier menyebut grup Zamalek sebagai “grup neraka” karena keempat tim merupakan juara liga domestik masing-masing pada musim lalu. “Grup Zamalek adalah satu-satunya grup yang berisi empat klub juara liga. Ini grup yang panas dan sangat sulit,” tambahnya.
Dengan performa impresif Pyramids FC, persaingan di Liga Premier Mesir semakin menarik. Al Ahly yang selama ini mendominasi harus ekstra waspada. Pertemuan 23 November nanti akan menjadi ujian sesungguhnya bagi ambisi Pyramids FC untuk meruntuhkan hegemoni Al Ahly dan Zamalek. Jika mampu mempertahankan konsistensi, bukan tidak mungkin Pyramids FC akan menorehkan sejarah baru dalam sepak bola Mesir.
