Sassuolo Dihancurkan Lazio 2-6, Aquilani: Kami Harus Minta Maaf dan Kehilangan Mentalitas Bertahan
Inforiau – 28 Oktober 2026 | Kekalahan telak harus diterima sassuolo di hadapan pendukung sendiri. Dalam laga pembuka pekan kesembilan Serie A yang digelar di Mapei Stadium, Reggio Emilia, Sassuolo takluk 2-6 dari Lazio, Selasa malam waktu setempat. Hasil ini menjadi pukulan berat bagi tim tuan rumah sekaligus mengukuhkan Lazio di puncak klasemen sementara dengan koleksi 25 poin dari delapan kemenangan dan satu hasil imbang.
Pertandingan berjalan dengan tempo tinggi sejak menit awal. Lazio memanfaatkan rapuhnya lini pertahanan Sassuolo untuk mencetak empat gol hanya dalam 45 menit pertama. Kenneth Taylor, Gustav Isaksen, Romano Floriani Mussolini, dan Mattia Zaccagni bergantian membobol gawang tuan rumah. Sassuolo sempat membalas melalui gol Kristian Thorstvedt dan Sebastiano Esposito, namun petaka datang ketika Thorstvedt menerima kartu merah pada menit ke-31. Bermain dengan sepuluh pemain, perlawanan Sassuolo praktis patah.
Pada babak kedua, Tijjani Noslin menambah dua gol dan memastikan kemenangan besar Lazio. Kemenangan ini menjadi kelanjutan tren positif tim asal Roma tersebut, sementara bagi Sassuolo, kekalahan ini memperlihatkan masalah mendasar yang belum terselesaikan, terutama soal ketahanan dan disiplin bertahan.
Aquilani Akui Kesalahan dan Kritik Mentalitas Tim
Pelatih Sassuolo, Alberto Aquilani, tidak mencari pembenaran atas hasil buruk tersebut. Dalam konferensi pers usai laga, ia menyampaikan permohonan maaf kepada para pendukung dan mengakui bahwa timnya kehilangan sikap bertahan yang agresif.
“Tidak banyak yang bisa dikatakan, kami harus meminta maaf. Kami kurang memiliki sikap untuk mau bertahan dengan agresif,” ujar Aquilani. Ia menegaskan bahwa persoalan ini bisa bersifat mental, taktik, individu, maupun kolektif, namun ia menolak menjadikan kehilangan dua pemain penting sebagai alasan. Menurutnya, berlindung di balik dalih tersebut hanya akan membuatnya tampak sebagai pribadi yang berjiwa kerdil.
Aquilani juga menyoroti lemahnya perlindungan di lini tengah. Ia menilai para pemainnya kurang peka terhadap ancaman lawan dan terlalu percaya bahwa penguasaan bola semata sudah cukup untuk membahayakan lawan. “Ada anggapan bahwa saat menguasai bola, kami toh bisa membahayakan lawan, dan itu kelemahan kami,” tambahnya.
Soal komposisi pemain, pelatih berusia 42 tahun itu menyinggung kondisi Matic yang telah berusia 39 tahun. Menurutnya, manajemen skuad harus mempertimbangkan kemungkinan sang gelandang tidak selalu tersedia. Aquilani juga menyebut nama Lipani dan Bakola sebagai pemain muda yang memiliki potensi besar, meski masih perlu berkembang lebih jauh.
Lazio di Puncak, Sassuolo Dihadapkan pada Ujian Berat
Bagi Lazio, kemenangan ini menjadi modal berharga. Dengan 25 poin, mereka sementara memimpin klasemen Serie A dan akan menanti hasil laga Inter Milan melawan Venezia. Inter yang mengoleksi 22 poin masih memiliki peluang menempel. Lazio sendiri dijadwalkan menjamu Cagliari pada 1 November mendatang.
Sementara itu, sassuolo harus segera berbenah. Kekalahan 2-6 menjadi yang terburuk sejauh musim ini dan menempatkan tim di bawah tekanan besar. Aquilani dituntut menemukan solusi cepat, terutama dalam memperbaiki organisasi pertahanan dan menumbuhkan kembali mentalitas bertarung para pemainnya.
Dalam turnamen yang kompetitif seperti Serie A, kualitas individu saja tidak cukup. Konsistensi, disiplin, dan kepekaan terhadap bahaya menjadi kunci untuk bertahan di level tertinggi. Kekalahan dari Lazio seharusnya menjadi cermin bagi sassuolo untuk mengevaluasi diri secara menyeluruh, mulai dari pendekatan taktik hingga mental bertanding.
Pekan kesembilan Serie A masih bergulir. Rabu malam akan tersaji laga Milan melawan Bologna, Parma melawan Udinese, serta Venezia menjamu Inter. Genoa akan menghadapi Juventus dan Monza bertemu Napoli. Turnamen tengah pekan ditutup Kamis dengan Frosinone melawan Lecce dan Fiorentina menghadapi Atalanta.
Bagi sassuolo, jalan keluar dari krisis harus dimulai dari kesadaran diri. Permintaan maaf Aquilani adalah langkah awal yang jujur, namun yang lebih penting adalah respons di lapangan. Pendukung berhak melihat tim yang kembali bertarung dengan gigih, bukan sekadar bermain cantik saat menguasai bola. Tanpa perubahan sikap dan mentalitas, sassuolo berisiko terus terpuruk di kompetisi yang menuntut ketangguhan di setiap laga.
