Spalletti di Ujung Tanduk: Juventus Tegang, Carnevali Panggil Pemain, Deschamps Menanti
Inforiau – 30 Oktober 2026 | Posisi Luciano Spalletti sebagai pelatih Juventus kembali menjadi sorotan tajam setelah rentetan hasil buruk yang membuat tensi di lingkungan Bianconeri berada di titik tertinggi. Meski manajemen klub masih menyatakan kepercayaan kepada sang pelatih, tekanan eksternal maupun internal terus membesar seiring performa tim yang belum kunjung konsisten sepanjang musim ini.
Kekalahan 0-2 dari Genoa di Stadion Luigi Ferraris menjadi pukulan telak terbaru. Hasil tersebut memperpanjang catatan buruk Juventus yang kini tertahan di peringkat kedelapan klasemen Serie A, terpaut sembilan hingga sebelas poin dari puncak klasemen yang ditempati Inter Milan dan Lazio. Jarak dengan posisi keempat yang menjadi tiket Liga Champions pun kian melebar, sebuah kondisi yang sangat riskan bagi klub sebesar Juventus.
Carnevali Turun Tangan, Pemain Diminta Bertanggung Jawab
Kondisi tersebut memicu reaksi dari jajaran direksi. Administrator Delegasi sekaligus Direktur Jenderal Juventus, Giovanni Carnevali, dikabarkan turun langsung menemui para pemain dalam sebuah pertemuan bernada tegas. Dalam pertemuan itu, Carnevali menempatkan setiap anggota skuad di hadapan tanggung jawab masing-masing, mengingatkan komitmen mereka terhadap pemilik klub, klub, dan para pendukung.
Meski kembali menegaskan dukungan kepada staf teknis dan tim, Carnevali menyampaikan ketidakpuasan secara tegas terhadap tren yang ada saat ini. Pesan kepada ruang ganti tidak menyisakan ruang tafsir lain: situasi tidak boleh terus berlanjut seperti ini. Manajemen menuntut perubahan nyata yang harus segera diwujudkan dalam bentuk penampilan meyakinkan dan hasil positif.
Keputusan klub memberlakukan pemusatan latihan (ritiro) juga dinilai tepat oleh sejumlah pihak. Mantan presiden Juventus, Giovanni Cobolli Gigli, menilai langkah tersebut sebagai respons yang lebih dari pantas di tengah situasi yang serius. Menurutnya, ini bukan momen untuk berpikir mengganti pelatih, melainkan momen bagi para pemain untuk menyadari bahwa keadaan sudah genting.
Kritik Komunikasi dan Bayang-Bayang Deschamps
Cobolli Gigli menyoroti pula gaya komunikasi Spalletti yang dinilai terlalu sofistikated dan kurang mudah dipahami oleh para pemain. Ia mengingatkan adanya persoalan komunikasi serupa saat pelatih asal Certaldo itu menangani tim nasional Italia, dan menilai aspek inilah yang harus diperbaiki. “Pelatih tidak diragukan kualitasnya, tetapi ia harus membuat dirinya lebih mudah dipahami,” ujarnya.
Jika situasi memburuk, Cobolli Gigli menegaskan hanya satu nama yang layak dipertimbangkan sebagai pengganti: Didier Deschamps. Ia mengenang masa indah Deschamps di Turin dan menilai pelatih asal Prancis itu pantas mendapat kontrak tiga tahun penuh kepercayaan. Sementara itu, nama Antonio Conte justru ia kesampingkan karena dianggap memiliki karakter yang sulit ditebak.
Di sisi lain, laporan dari Italia menyebutkan bahwa kontak awal dengan Deschamps sudah dilakukan. Mantan pelatih timnas Prancis tersebut kini berstatus bebas tugas setelah 14 tahun menangani Les Bleus dan disebut tengah menantikan proyek yang tepat untuk kembali berkarier.
Tiga Laga Menentukan Nasib Spalletti
Masa depan Spalletti disebut bakal ditentukan oleh hasil dalam waktu dekat. Tiga pertandingan berikutnya, dimulai dari laga kandang melawan Napoli, kemudian AZ Alkmaar di kompetisi Eropa, dan Fiorentina, menjadi ujian berat bagi sang pelatih. Laga melawan Napoli bahkan disebut sebagai titik penentu yang bisa menentukan kursi pelatih.
Jika manajemen memutuskan berpisah, Juventus memiliki dua opsi: segera membangun era baru bersama pelatih ternama seperti Conte atau Deschamps, atau menunjuk pelatih sementara hingga akhir musim. Untuk opsi terakhir, nama Stefano Pioli dan Paulo Sousa disebut-sebut sebagai kandidat, keduanya mantan pemain Juventus yang tengah mencari peluang baru.
Namun, sosok yang diimpikan Carnevali untuk jangka panjang disebut adalah Simone Inzaghi, mantan pelatih Lazio dan Inter yang kini terikat kontrak dengan Al-Hilal hingga Juni 2027. Hal ini memunculkan spekulasi bahwa Carnevali mungkin kurang antusias terhadap Conte, mengingat kehadiran pelatih karismatik itu berpotensi mengurangi kekuasaannya di dalam klub.
Di tengah pusaran isu tersebut, ada pula pandangan bahwa kesuksesan Spalletti meraih scudetto bersama Napoli justru berdampak buruk bagi kepercayaan dirinya. Ia disebut sempat merasa telah menguasai dunia sepak bola, sebelum akhirnya berhadapan dengan rangkaian kegagalan bersama tim nasional Italia dan kini Juventus. Terlepas dari semua spekulasi, satu hal yang pasti: kepercayaan kepada Spalletti masih ada, tetapi kini disertai tuntutan akan tanggung jawab kolektif. Kini giliran para pemain untuk membuktikan di atas lapangan bahwa mereka telah memahami pesan manajemen.
