Saham Google Anjlok 13 Persen, Alphabet Kehilangan Rp7.800 Triliun dalam Sehari
Inforiau – 30 Oktober 2026 | Kabar mengejutkan datang dari raksasa teknologi goog. Induk perusahaan Google, Alphabet, mengalami penurunan harga saham terburuk dalam sejarahnya pada perdagangan Kamis (29/10/2026) di bursa Amerika Serikat. Saham goog merosot tajam hingga 13 persen, memicu kepanikan di kalangan investor dan mencatat rekor sebagai salah satu kehancuran nilai pasar terbesar dalam sejarah Wall Street.
Penurunan ini langsung menggerus nilai kapitalisasi pasar Alphabet sebesar 482 miliar dolar AS, atau setara dengan sekitar Rp7.800 triliun (dengan kurs Rp16.200 per dolar). Ini merupakan kerugian harian terbesar kedua bagi satu emiten dalam sejarah pasar saham AS, setelah sebelumnya hanya Nvidia yang pernah mencatat kerugian lebih besar pada Januari 2025 akibat guncangan dari DeepSeek.
Pemicu utama kejatuhan goog adalah laporan keuangan kuartal ketiga 2026 yang mengecewakan. Alphabet melaporkan pendapatan sebesar 127,58 miliar dolar AS, naik 25 persen secara tahunan, namun masih di bawah ekspektasi analis sebesar 128,22 miliar dolar AS. Laba per saham (EPS) tercatat 2,12 dolar AS, jauh merosot dibandingkan 2,87 dolar AS pada periode yang sama tahun lalu. Laba bersih perusahaan juga turun drastis menjadi 26,17 miliar dolar AS dari sebelumnya 34,98 miliar dolar AS.
Yang paling mengkhawatirkan pasar adalah arus kas bebas (free cash flow) Alphabet yang negatif hingga 9,07 miliar dolar AS. Angka ini jauh lebih buruk dari perkiraan analis yang hanya negatif 2,7 miliar dolar AS. Penyebabnya tak lain adalah belanja modal (capital expenditure) yang sangat besar untuk infrastruktur kecerdasan buatan (AI), termasuk pembangunan pusat data dan pengadaan chip canggih. Sepanjang kuartal, Alphabet menggelontorkan 51,36 miliar dolar AS untuk investasi, dan diproyeksikan mencapai 195-205 miliar dolar AS hingga akhir tahun.
Meskipun pendapatan dari layanan cloud Google melonjak 103 persen menjadi 30,7 miliar dolar AS, kinerja tersebut belum mampu menutupi beban investasi AI yang menggunung. CEO Sundar Pichai dalam keterangan resminya menyebut periode ini sebagai “kuartal yang solid” dan mengklaim Gemini sebagai produk dengan pertumbuhan tercepat dalam sejarah Google. Namun, pasar tampaknya tidak terkesan dengan narasi tersebut.
Analis menilai bahwa dominasi goog di mesin pencari mulai tergerus oleh kehadiran chatbot AI generatif seperti ChatGPT dan Claude. Meskipun Google memiliki Gemini yang diintegrasikan ke dalam fitur “Mode AI”, pendapatan dari iklan pencarian hanya mencapai 63 miliar dolar AS, stagnan dibandingkan kuartal sebelumnya dan di bawah estimasi. Situasi ini diperparah dengan rencana perusahaan memperluas penayangan iklan di Mode AI, yang justru dikhawatirkan mengganggu pengalaman pengguna.
Tekanan terhadap goog juga datang dari dalam industri AI itu sendiri. Mantan insinyur Google, Nate Soares, yang kini memimpin Machine Intelligence Research Institute (MIRI), baru-baru ini menyatakan bahwa ia berhenti menabung untuk pensiun karena yakin umat manusia bisa punah dalam 10 tahun akibat perkembangan AI yang tak terkendali. Pernyataan kontroversial ini menambah sentimen negatif terhadap perusahaan yang dianggap terlalu agresif mengejar teknologi AI.
Di sisi lain, pesaing seperti Anthropic tengah bersiap melakukan penawaran umum perdana (IPO) yang berpotensi menjadi yang terbesar dalam sejarah, dengan target dana hingga 100 miliar dolar AS. Anthropic bahkan meniru semangat awal Google dengan semboyan “melakukan hal yang benar”, mencoba meraih simpati publik di tengah kekecewaan terhadap raksasa teknologi yang dianggap melenceng dari nilai-nilainya.
Kejatuhan saham goog ini menjadi pukulan telak bagi Alphabet yang selama 22 tahun terakhir mencatat rata-rata pengembalian tahunan 25,5 persen. Meski demikian, Pichai tetap optimistis bahwa perusahaan akan mampu membukukan pendapatan tahunan setengah triliun dolar AS. Namun, dengan arus kas yang negatif dan ketidakpastian monetisasi AI, investor tampaknya masih perlu waktu untuk melihat bukti nyata.
Sejumlah pengamat pasar memperkirakan volatilitas saham goog akan berlanjut dalam beberapa pekan ke depan, tergantung pada kemampuan Alphabet meyakinkan pasar bahwa investasi besar-besaran di AI akan membuahkan hasil. Sementara itu, para pesaing seperti Amazon juga turut terkena imbas dengan penurunan saham 7 persen di sesi after-market, menandakan bahwa tekanan terhadap sektor teknologi secara keseluruhan masih kuat.
Dengan torehan sejarah kelam ini, Alphabet dihadapkan pada ujian terbesar: membuktikan bahwa strategi AI mereka bukan sekadar mimpi mahal, melainkan mesin pertumbuhan yang berkelanjutan. Publik dan investor kini menanti langkah konkret Sundar Pichai dan tim untuk membalikkan keadaan sebelum kepercayaan pasar benar-benar sirna.
