Bitcoin Tertekan di Bawah US$80 Ribu, Sinyal Pasar Berubah di Tengah Keputusan Fed
Inforiau – 30 Oktober 2026 | Harga btc kembali menjadi sorotan pasar global setelah sempat anjlok di bawah level US$80.000 pada perdagangan Kamis pagi waktu setempat. Penurunan ini terjadi tak lama setelah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) memutuskan untuk menahan suku bunga acuan pada kisaran 3,75–4,00 persen. Meski keputusan tersebut sudah diperkirakan, kejutan datang dari dua dari dua belas anggota pemungutan suara yang justru mendorong kenaikan suku bunga. Pernyataan keras Ketua Fed yang menegaskan kewaspadaan terhadap inflasi membuat pelaku pasar menyesuaikan ekspektasi, dan btc pun merosot dari US$81.715 menjadi US$79.974 dalam waktu singkat.
Meski demikian, arus dana ke produk exchange-traded fund (ETF) kripto tetap mencatatkan inflow selama tiga hari berturut-turut. Fenomena ini menunjukkan bahwa sentimen investor institusional masih relatif kokoh di tengah gejolak jangka pendek. Di sisi lain, muncul laporan bahwa sebuah kerentanan pada jaringan Bitcoin tengah diinvestigasi, termasuk dugaan peran kecerdasan buatan dalam penemuan celah tersebut. Pasar masih menunggu konfirmasi lebih lanjut mengenai ada tidaknya dampak langsung terhadap harga btc.
Tekanan pada Perusahaan Pemegang Bitcoin
Penurunan harga btc turut memberikan tekanan pada emiten yang memiliki eksposur besar terhadap aset digital, salah satunya Metaplanet. Saham perusahaan yang tercatat dengan kode 3350 itu ditutup melemah dari 272 yen menjadi 264 yen. Nilai valuasi Bitcoin yang dipegang perseroan menyusut, meskipun jumlah kepemilikan dan rasio BTC per saham tidak mengalami perubahan. Indikator mNAV masih berada di bawah level 1 kali, namun para analis mengingatkan bahwa angka tersebut tidak bisa dijadikan satu-satunya dasar untuk menilai murah atau mahalnya saham.
Secara teknikal, pergerakan saham Metaplanet masih menunjukkan kecenderungan turun pada grafik harian. Namun, ada peluang pembalikan arah apabila harga mampu bertahan di atas garis rata-rata bergerak jangka pendek dan menembus awan Ichimoku. Jika kondisi itu terpenuhi, target kenaikan berada di kisaran 330 hingga 340 yen. Sebaliknya, bila level support jangka pendek jebol, potensi pelemahan menuju 240 yen perlu diwaspadai.
Inovasi ETF dan Proyeksi Siklus Pasar
Di tengah tekanan harga, industri keuangan terus berinovasi. Franklin Templeton resmi meluncurkan dua ETF bertema saham Amerika Serikat plus Bitcoin dengan mekanisme dividend reinvestment plan (DRIP). Produk bernama FBEQ dan FIBT ini akan diperdagangkan di Nasdaq dengan komposisi awal sekitar 95 persen saham dan 5 persen eksposur Bitcoin. Uniknya, dividen dari saham tidak dibelikan kembali ke saham, melainkan dialirkan secara sistematis ke eksposur btc. Langkah ini membuka jalur pasif bagi investor untuk menambah porsi aset digital melalui rekening saham biasa.
Sementara itu, riset DWF Labs menyoroti pola historis menjelang pemilihan tengah periode Amerika Serikat. Dalam tiga siklus sebelumnya, harga btc selalu naik dalam 12 bulan setelah pemilu, meski median kenaikannya lebih rendah dibandingkan tahun-tahun non-pemilu. Untuk 2026, DWF Labs menilai kondisi pasar berada dalam posisi yang berbeda karena harga hanya sekitar 36 persen di bawah puncaknya, tidak sedalam siklus sebelumnya. Jika titik terendah sudah terbentuk pada Juni, jalur pemulihan bisa menyerupai pola 2022.
Transparansi dan Keamanan Aset
Di sisi infrastruktur, OKX merayakan empat tahun program Proof of Reserves. Laporan menunjukkan total aset on-chain yang tercakup mencapai US$36,36 miliar untuk 22 jenis aset kripto, dengan rasio cadangan btc sebesar 110 persen dan USDT 105 persen. Perusahaan juga memperluas perlindungan melalui OKX Shield yang telah diaktifkan oleh hampir 45 persen klien VIP di Eropa dalam beberapa minggu sejak peluncuran. Langkah ini menjadi penanda bahwa isu transparansi dan keamanan semakin menjadi standar industri.
Dengan kombinasi tekanan makro, inovasi produk, dan penguatan tata kelola, pergerakan btc ke depan akan sangat bergantung pada respons pasar terhadap data inflasi dan sinyal kebijakan suku bunga. Investor disarankan mencermati perkembangan indikator ekonomi serta arus institusional sebelum mengambil keputusan.
