Trump Buka Suara Soal Surat Vance ke Iran, Biaya Perang AS Tembus Rp799 Triliun
Inforiau – 29 Oktober 2026 | Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran memasuki babak baru yang penuh intrik menjelang pemilihan sela (midterm) AS pada 3 November mendatang. Di tengah ancaman serangan militer baru, Presiden Donald Trump mengonfirmasi bahwa Wakil Presiden JD Vance telah mengirim surat kepada tokoh garis keras Iran, Mohsen Rezaei, sebagai upaya pembukaan negosiasi damai. Namun, Trump sendiri tampak meremehkan peluang kesepakatan, dengan menyatakan bahwa Teheran mungkin hanya ingin menunda hingga pemilu usai.
“Mereka ingin membuat kesepakatan, tapi mungkin mereka menunggu pemilu atau semacamnya. Itu tidak akan membantu mereka,” ujar Trump kepada wartawan, seperti dikutip Fox News. Pernyataan itu muncul setelah laporan The Wall Street Journal mengungkap bahwa Vance mengirim surat kepada Rezaei, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran. Menurut sumber yang dikutip, surat tersebut berisi kerangka baru untuk negosiasi, bukan detail spesifik perdamaian. Trump mengaku tidak memprakarsai langkah itu, tetapi memberi lampu hijau. “Dia (Vance) bertanya apa pendapat saya, dan saya bilang jika kamu ingin melakukannya, tidak masalah,” katanya.
Rezaei dikenal sebagai mantan komandan Garda Revolusi Islam (IRGC) yang berpengaruh dan selama ini menolak bernegosiasi dengan AS. Ia bahkan sempat mengancam akan memperluas serangan Iran ke negara-negara Arab tetangga, termasuk menyasar pusat data dan kabel internet. Meski demikian, surat Vance menjadi sinyal bahwa Washington masih membuka jalur diplomasi di tengah eskalasi militer.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa Teheran “terus memberikan kesempatan kepada diplomasi untuk berhasil” dan sedang bekerja sama dengan mediator untuk meninjau proposal yang diajukan bulan lalu. Proposal itu sebelumnya ditolak mentah-mentah oleh Trump, namun Iran berharap usulan tersebut dapat menjadi dasar untuk kembali ke gencatan senjata. Uni Emirat Arab (UEA) juga mendesak kedua belah pihak untuk “menggunakan kebijaksanaan dan menempuh solusi politik” guna meredakan ketegangan.
Namun, sinyal diplomasi itu dibayangi ancaman militer. Menurut dua diplomat yang berbicara kepada Associated Press dengan syarat anonim, pejabat AS telah memberi tahu sejumlah negara Timur Tengah dan sekutu regional untuk bersiap menghadapi kemungkinan aksi militer baru terhadap Iran setelah pemilu sela. Mereka juga diminta mengantisipasi pembalasan Iran yang mungkin menyasar fasilitas energi dan infrastruktur penting. Trump sendiri belum mengambil keputusan akhir, tetapi berulang kali menyatakan sedang mempertimbangkan opsi militer setelah 3 November. “Kami mungkin melakukan Epic Fury kecil lagi. Atau mereka akan setuju. Jika mereka pintar, mereka akan berkata, mari kita mulai bekerja. Tapi saya ragu mereka akan melakukannya karena mungkin mereka tidak pintar,” kata Trump dalam sebuah rapat umum.
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel dan AS dilaporkan melancarkan perang bersama melawan Iran pada akhir Februari 2026. Konflik tersebut telah mengganggu pengiriman energi dari negara-negara Teluk dan memicu dampak ekonomi global. Iran mulai memblokir Selat Hormuz yang strategis, tempat sekitar seperlima minyak dan gas alam cair dunia biasanya melintas, setelah konflik dimulai. Mereka juga secara rutin menyerang kapal-kapal yang mencoba melintas tanpa izin.
Dampak perang terhadap harga energi global pun menekan dukungan bagi kandidat Partai Republik dan menurunkan tingkat persetujuan terhadap Trump. Partai Republik saat ini hanya memiliki keunggulan tipis di kedua kamar Kongres. Pemilu sela akan menentukan kendali Kongres selama dua tahun ke depan.
Di tengah tekanan politik itu, biaya militer AS untuk perang melawan Iran telah menembus US$47 miliar atau sekitar Rp799 triliun, menurut data Pentagon yang diperoleh Reuters. Angka itu melonjak lebih dari 25% dibandingkan estimasi Pentagon pada Juli lalu yang sebesar US$37,5 miliar. Rinciannya, lebih dari US$29 miliar (Rp493 triliun) dibutuhkan untuk mengganti amunisi yang telah digunakan, sementara lebih dari US$6 miliar (Rp102 triliun) diperlukan untuk mengganti peralatan militer dan aset yang hilang, termasuk pesawat dan sejumlah besar drone. Pentagon belum mempublikasikan estimasi terbaru tersebut secara resmi.
Lonjakan biaya perang muncul ketika Partai Republik menghadapi tekanan politik menjelang pemilu. Sejumlah pejabat AS yang berbicara dengan syarat anonim mengatakan Pentagon telah merencanakan kemungkinan dimulainya kembali pertempuran besar apabila diperintahkan. Besarnya biaya perang berpotensi terus bertambah jika konflik kembali meningkat.
Di kawasan, militer pemerintah Yaman menggelar 749 operasi terhadap kemampuan militer Houthi dalam 24 jam sebagai bagian dari ofensif “Dawn of Yemen”. Houthi yang didukung Iran membalas dengan menyerang Bandara Aden setelah memperingatkan warga untuk mengungsi. Sementara itu, pertahanan udara Arab Saudi mencegat dan menghancurkan rudal balistik yang diluncurkan ke Taif oleh pasukan Houthi. Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga menyatakan Washington sedang melacak dan membekukan aset cryptocurrency rezim Iran yang bergerak.
Di dalam negeri Iran, Pengadilan Revolusi Teheran menjatuhkan hukuman 26 tahun penjara kepada seorang jurnalis foto, menurut kelompok hak asasi manusia HRANA. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menggambarkan arahan Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei untuk mengakhiri keadaan “tidak perang dan tidak damai” dengan Washington sebagai langkah penting dalam membentuk masa depan Iran.
Dengan diplomasi yang masih terbuka namun ancaman militer yang menguat, situasi di Timur Tengah berada di titik kritis. Keputusan Trump setelah pemilu sela akan sangat menentukan arah konflik. Jika negosiasi gagal, perang besar bisa kembali berkobar dan menambah beban biaya yang sudah sangat besar. Sebaliknya, jika Iran dan AS mampu memanfaatkan momen ini untuk berkompromi, setidaknya ada harapan untuk meredakan ketegangan yang telah merugikan banyak pihak.
