Trump Gertak Iran dengan Serangan Militer Baru: Peringatkan Operasi 'Epic Fury' Jilid Dua
Inforiau – 25 Oktober 2026 | Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memanaskan tensi geopolitik Timur Tengah dengan menggertak Iran melalui ancaman serangan militer baru. Dalam pernyataannya kepada wartawan pada Sabtu (24/10) waktu AS, Trump secara eksplisit mengisyaratkan bahwa operasi militer lanjutan, yang disebut sebagai kelanjutan dari ‘Operation Epic Fury’, dapat diluncurkan dalam waktu dekat. “Kami sedang memikirkan untuk melakukannya, mungkin besok,” ujar Trump, seperti dikutip Anadolu Agency dan Al Jazeera. Pernyataan itu menjadi sinyal kuat bahwa Donald Trump gertak Iran dengan serangan militer baru: peringatkan operasi ‘Epic Fury’ jilid dua sebagai bagian dari strategi tekanannya.
Trump menegaskan bahwa keputusan akhir tetap berada di tangannya dan tidak akan diumumkan secara terbuka. “Apakah Anda benar-benar berpikir saya akan memberi tahu Anda jika saya akan melakukannya?” tambahnya, sembari menegaskan bahwa hanya ada dua opsi yang tersedia: tindakan militer atau kesepakatan negosiasi. Ia juga menyebut bahwa Iran masih memiliki peluang menghindari serangan jika mau mencapai kesepakatan dengan AS, namun ia meragukan komitmen Teheran. “Mereka ingin membuat kesepakatan, tetapi masalahnya, apakah mereka akan mematuhi kesepakatan itu?” kata Trump.
Tujuan utama dari ancaman ini, menurut Trump, adalah mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir secara permanen. Ia menilai operasi sebelumnya yang melibatkan pesawat pengebom B-2 belum cukup untuk menjamin hasil yang langgeng. “Saya harus membuatnya permanen. Itulah satu-satunya alasan saya melakukan ini,” tegasnya. Pernyataan tersebut memperkuat narasi bahwa Donald Trump gertak Iran dengan serangan militer baru: peringatkan operasi ‘Epic Fury’ jilid dua sebagai langkah untuk menuntaskan ambisi nuklir Teheran.
Di sisi lain, Duta Besar AS untuk Turki, Tom Barrack, yang juga menangani urusan AS di Suriah, turut melontarkan kerangka waktu yang lebih spesifik. Dalam wawancara dengan podcast Mario Nawfal pada Jumat (23/10), Barrack menyatakan bahwa serangan akhir pekan ini sangat mungkin terjadi. “Apakah mungkin ada serangan akhir pekan ini? Tentu saja,” ujarnya. Meski tidak memiliki peran langsung terkait Iran, pernyataan Barrack menambah bobot spekulasi bahwa operasi militer memang sedang dipertimbangkan serius. Trump sendiri menanggapi pernyataan Barrack dengan santai, bahkan berpura-pura tidak mengetahui rencana tersebut. “Apakah itu Duta Besar saya? Sepertinya dia orang yang cukup berpengaruh. Jika memang begitu, saya sama sekali tidak tahu apa-apa soal itu,” kata Trump.
Namun, dalam pidato kampanye pemilu sela Partai Republik di Florida pada Jumat (23/10), Trump justru secara terbuka menyinggung dua operasi militer besar terhadap Iran, yaitu ‘Operation Midnight Hammer’ dan ‘Operation Epic Fury’. Ia mengklaim kedua operasi tersebut telah merusak parah kemampuan nuklir Teheran. Isyarat ini semakin memperjelas bahwa Donald Trump gertak Iran dengan serangan militer baru: peringatkan operasi ‘Epic Fury’ jilid dua sebagai kelanjutan dari operasi sebelumnya yang disebutnya belum tuntas.
Di tengah ketegangan, Trump juga mengklaim bahwa pengiriman minyak melalui Selat Hormuz telah meningkat dibandingkan kondisi sebelum perang dimulai, meskipun ia tidak memberikan angka spesifik. Klaim ini tampaknya digunakan untuk menunjukkan bahwa tekanan militer AS tidak mengganggu jalur pelayaran strategis dunia. Namun, pernyataan tersebut belum dapat diverifikasi secara independen. Yang jelas, Trump tidak memberikan keputusan tegas mengenai langkah selanjutnya. Ia hanya menyatakan bahwa hasil akhirnya bisa berupa tindakan militer penuh atau kesepakatan dengan Iran. “Mungkin saya harus menuntaskannya, atau mungkin mereka akan menyepakati sebuah perjanjian. Namun, saya tidak yakin. Apa pun yang terjadi, kita tetap menang,” pungkasnya.
Ancaman terbaru ini menempatkan dunia pada posisi waspada. Jika benar-benar diluncurkan, operasi ‘Epic Fury’ jilid dua akan menjadi eskalasi signifikan dalam konflik AS-Iran yang telah berlangsung lama. Masyarakat internasional pun menanti apakah diplomasi masih menjadi jalan keluar, atau justru Donald Trump gertak Iran dengan serangan militer baru: peringatkan operasi ‘Epic Fury’ jilid dua akan segera berubah menjadi kenyataan di medan perang.
