Zuckerberg Terancam Pajak Miliaran Dolar, Meta Siapkan Strategi Khusus Demi Tahan Sang CEO di California
Inforiau – 26 Oktober 2026 | Mark Zuckerberg terancam pajak miliaran dolar, Meta siapkan strategi khusus untuk memastikan pendiri sekaligus CEO-nya itu tetap tinggal dan memimpin perusahaan dari California. Ancaman itu muncul setelah Proposition 40, usulan pajak kekayaan bagi para miliarder di negara bagian tersebut, dijadwalkan menjalani pemungutan suara pada 3 November 2026. Jika disahkan, kebijakan itu akan membebani Zuckerberg dengan kewajiban pajak sekali bayar sebesar 5 persen dari total kekayaannya.
Bloomberg Billionaires Index menaksir kekayaan bersih Zuckerberg mencapai sekitar 246 miliar dolar AS, atau setara lebih dari Rp4.400 triliun dengan kurs Rp18.060 per dolar AS. Angka itu menempatkannya sebagai salah satu orang terkaya di dunia. Namun, kekayaan tersebut tidak seluruhnya berbentuk uang tunai, sehingga pembayaran pajak dalam jumlah besar berpotensi memaksanya menjual sebagian aset, termasuk saham dengan hak suara.
Ancaman Relokasi dan Negosiasi yang Memanas
Dalam dokumen yang diajukan kepada Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC), Zuckerberg menyatakan sedang mempertimbangkan untuk menetapkan tempat tinggal di luar California. Ia bahkan mengaku telah mendapat saran untuk pindah sebelum pemungutan suara November berlangsung. Situasi ini memicu negosiasi berbulan-bulan antara Zuckerberg dan komite khusus dewan direksi Meta yang sempat memanas sebelum akhirnya mencapai kesepakatan.
Isu utamanya bukan sekadar pajak. Zuckerberg saat ini menguasai sekitar 60,6 persen hak suara Meta, meskipun kepemilikan ekonominya hanya sekitar 13,4 persen. Saham Class B yang dipegangnya memberikan 10 suara per lembar, sedangkan saham Class A yang diperdagangkan di Nasdaq hanya memberikan satu suara. Jika ia menjual saham Class B untuk membayar pajak, saham tersebut otomatis berubah menjadi Class A, dan ia memperingatkan bahwa hak suaranya bisa tergerus hingga sekitar 53 persen.
Saham Class C Tanpa Hak Suara Jadi Jalan Keluar
Untuk mencegah skenario itu, pada 21 Oktober 2026 Meta mengumumkan penerbitan saham Class C tanpa hak suara. Setiap pemegang saham Class A dan Class B akan menerima satu saham Class C untuk setiap saham yang dimiliki. Perdagangan saham baru tersebut dijadwalkan mulai Januari 2027. Skema inilah yang menjadi inti dari langkah Zuckerberg terancam pajak miliaran dolar, Meta siapkan strategi khusus agar sang pendiri tetap memegang kendali.
Melalui saham tanpa hak suara itu, Zuckerberg dapat memperoleh likuiditas tanpa mengurangi dominasi suaranya. Berdasarkan perjanjian, ia dapat segera menjual 20 persen dari saham Class C yang diterimanya, yang setara dengan 10 persen dari total kepemilikan ekonominya. Sementara itu, 80 persen sisanya pada awalnya dibatasi, tetapi batasan tersebut akan berakhir secara bertahap selama delapan tahun dengan syarat ia tetap memimpin perusahaan.
Sebagai imbalannya, Zuckerberg berkomitmen tetap menjadi penduduk California atau yurisdiksi lain tempat kantor pusat Meta berada selama delapan tahun, sepanjang ia masih memegang peran kepemimpinan penuh waktu. Meta menyebut tujuan kesepakatan ini adalah agar Zuckerberg terus memimpin perusahaan dari California dan tetap dekat dengan Meta Superintelligence Labs.
Bukan Sekadar Soal Pajak, Ini soal Ambisi AI
Penerbitan saham baru juga berkaitan erat dengan strategi bisnis Meta. Perusahaan dapat menggunakan Class C untuk membayar karyawan, membiayai akuisisi, dan menghimpun modal tanpa mengurangi dominasi suara Zuckerberg. Keleluasaan ini penting karena kebutuhan investasi kecerdasan buatan (AI) meningkat tajam.
Pada kuartal III 2026, pendapatan Meta naik 26 persen menjadi 64,6 miliar dolar AS, tetapi belanja modal mencapai 34,9 miliar dolar AS. Arus kas bebas perusahaan bahkan berbalik negatif 2,1 miliar dolar AS, dari sebelumnya positif 10,6 miliar dolar AS setahun lalu. Meta memperkirakan belanja modal 2026 mencapai 135 miliar hingga 140 miliar dolar AS, dengan proyeksi pendapatan kuartal IV sebesar 73 miliar hingga 76 miliar dolar AS.
Sebelumnya, Meta mengandalkan pembelian kembali saham untuk menjaga proporsi hak suara Zuckerberg ketika menerbitkan saham baru. Pada 2025, perusahaan membeli kembali saham Class A senilai 26,3 miliar dolar AS. Namun, Meta tidak melakukan pembelian kembali saham selama empat kuartal berturut-turut karena dana tersebut kini dialihkan untuk membiayai infrastruktur AI. Penerbitan Class C pun menjadi jalan keluar tanpa mengorbankan kendali pendiri.
Dampak bagi Miliarder Lain
Keputusan pajak California berpotensi memengaruhi langkah miliarder lainnya. Zuckerberg disebut sebagai miliarder kesekian yang mengancam meninggalkan California karena Proposition 40, yang dijuluki sebagai pajak orang kaya. Jika aturan ini lolos, orang kaya di California dengan kekayaan di atas 1 miliar dolar AS akan dikenai pajak 5 persen dari total kekayaan yang dibayarkan sekali. Dana pajak itu rencananya dipakai untuk membiayai layanan kesehatan umum dan pendidikan di negara bagian tersebut.
Dengan skema saham khusus ini, Zuckerberg terancam pajak miliaran dolar, Meta siapkan strategi khusus yang tidak hanya melindungi kendali pendirinya, tetapi juga menjaga stabilitas arah perusahaan di tengah ekspansi AI yang mahal. Langkah tersebut memperlihatkan bagaimana kebijakan pajak dapat memengaruhi keputusan pribadi seorang miliarder sekaligus strategi bisnis perusahaan teknologi raksasa.
Pada akhirnya, hasil pemungutan suara Proposition 40 akan menjadi penentu. Jika disetujui, Meta telah menyiapkan jalan agar Zuckerberg tetap di California tanpa kehilangan kendali. Jika ditolak, skema Class C tetap memberi perusahaan fleksibilitas pendanaan untuk ambisi AI-nya. Apa pun hasilnya, kisah Zuckerberg terancam pajak miliaran dolar, Meta siapkan strategi khusus menjadi contoh nyata betapa erat kaitan antara kebijakan fiskal dan masa depan raksasa teknologi global.
