Kementerian ESDM Dorong Hilirisasi Bauksit dan Tembaga Kurangi Ketergantungan pada Nikel
Inforiau – 06 November 2026 | Upaya Kementerian ESDM Dorong Hilirisasi Bauksit dan Tembaga Kurangi Ketergantungan pada Nikel kini masuk tahap yang lebih konkret. Bersama holding pertambangan MIND ID, pemerintah menyiapkan peta jalan pengembangan mineral kritis agar industri pengolahan nasional tidak lagi bertumpu pada satu komoditas saja.
Department Head of Downstream & Mineral Ecosystem MIND ID, Novi Muharam, menyatakan bahwa pihaknya tidak hanya mengelola sumber daya di sektor hulu. Penguatan hilirisasi dan pengembangan produk bernilai tambah menjadi prioritas agar rantai industri mineral nasional berdiri lebih kokoh.
Nikel Masih Dominan, Potensi Lain Menyusul
Catatan Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM hingga September 2026 memperlihatkan bijih nikel masih memimpin dengan produksi 225,3 juta ton. Meski demikian, cadangan komoditas lain juga besar dan siap menjadi penopang industri teknologi.
| Komoditas | Produksi hingga September 2026 | Arah Pengolahan |
|---|---|---|
| Bijih nikel | 225,3 juta ton | Baterai dan baja tahan karat |
| Bijih tembaga | 114,9 juta ton | Jaringan kelistrikan |
| Bijih bauksit | 23,43 juta ton | Alumina dan aluminium |
| Bijih timah | 57,24 ribu ton | Manufaktur elektronik |
Koordinator Kerja Sama dan Investasi Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Yan Abrar, menegaskan bahwa keragaman sumber daya harus dimanfaatkan secara optimal. Pembangunan komoditas diarahkan hingga level pengolahan lanjutan, penciptaan material maju, sampai pabrikasi manufaktur.
“Keberhasilan tidak hanya diukur dari besarnya volume mineral yang dimiliki, tetapi juga dari kemampuan mengolah sumber daya tersebut menjadi produk bernilai tambah,” ujar Novi melalui keterangan tertulis.
Teknologi Korea Selatan dan Pemulihan Limbah
Permintaan global terhadap mineral kritis diproyeksikan melonjak menjelang 2030 seiring percepatan peralihan ke kendaraan listrik dan energi terbarukan. Pemerintah pun menjajaki perluasan kerja sama dengan Korea Selatan untuk memadukan kekayaan alam domestik dengan kecakapan teknologi manufaktur serta sistem daur ulang.
Yan menambahkan bahwa mendongkrak produksi tambang saja tidak cukup. Evaluasi kualitas cadangan, kesiapan fasilitas teknologi, pasokan energi, dan efisiensi logistik harus berjalan seiring analisis kebutuhan pasar.
Strategi hilirisasi juga menyentuh pemanfaatan limbah operasional tambang. Lewat teknologi pemulihan yang tepat, material sekunder yang masih bernilai ekonomi dapat diselamatkan sehingga pasokan bertambah dan buangan emisi mengecil.
Dengan langkah ini, pemerintah berharap struktur industri mineral nasional menjadi lebih seimbang, tidak bergantung pada nikel, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok mineral kritis dunia.
Editor: Ahmad Syafwan
