Sampah Bukan Sekadar Limbah: Ketika PSEL dan Pemilahan Serentak Mengubah Wajah Pengelolaan Sampah Nasional
Inforiau – 20 Oktober 2026 | Persoalan sampah di Indonesia tak lagi bisa diselesaikan dengan cara konvensional. Pemerintah kini menempatkan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) sebagai salah satu instrumen utama dalam menangani timbulan sampah yang terus meningkat, sembari menegaskan bahwa pemilahan sampah dari rumah tangga tetap menjadi kunci yang tak bisa ditawar.
Melalui skema ini, sampah yang memenuhi persyaratan pengolahan dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku energi. Fasilitas PSEL diharapkan mengurangi beban tempat pemrosesan akhir (TPA) sekaligus menekan dampak lingkungan akibat penumpukan sampah. Namun, pemerintah menyadari bahwa pengembangan PSEL tidak dapat berdiri sendiri. Diperlukan pengurangan sampah dari sumbernya, pemilahan di tingkat rumah tangga, serta penerapan teknologi yang sesuai dengan karakteristik sampah.
Kapasitas PSEL Baru Menjangkau Sebagian Kecil
Meski sejumlah fasilitas direncanakan di kawasan perkotaan yang menghadapi timbulan besar, kapasitas pengolahan PSEL secara nasional diperkirakan baru mampu menangani sekitar 22,5 persen dari total timbulan sampah apabila seluruh fasilitas yang direncanakan beroperasi. Angka tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan fasilitas pengolahan harus berjalan beriringan dengan program pengurangan sampah.
Di sisi lain, pemanfaatan sampah menjadi energi perlu ditempatkan sebagai salah satu pilihan dalam sistem pengelolaan sampah, bukan sebagai pengganti upaya pencegahan dan pengurangan. PSEL juga membutuhkan pasokan sampah yang memadai, infrastruktur pendukung, serta sistem pengelolaan terintegrasi agar manfaatnya benar-benar tercapai.
Denera Siapkan Ekosistem Hulu-Hilir di 17 Lokasi
Untuk mengakselerasi proyek PSEL, pemerintah melalui Danantara Indonesia membentuk entitas khusus bernama Denera. Entitas ini hadir sebagai layanan terpadu yang membangun ekosistem pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir. Saat ini, Denera tengah menyiapkan penguatan armada dan fasilitas logistik guna mendukung 17 lokasi fasilitas PSEL di seluruh Indonesia.
Setiap lokasi ditargetkan mampu mengolah lebih dari 1.000 ton sampah per hari, yang hasilnya dikonversi menjadi energi bersih untuk memasok listrik bagi sekitar 100.000 rumah warga.
“PSEL merupakan satu core fokus, tetapi ini akan membantu kita melakukan pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi dari hulu sampai hilir, jadi tidak hanya di PSEL saja tapi beyond PSEL, termasuk di antaranya collections, logistik, dan juga pemilahan di hulu,” kata CEO Denera, Fadli Rahman.
Pendanaan Mengalir, Minat Melebihi Kebutuhan
Dari sisi pembiayaan, Danantara Indonesia melalui PT Danantara Investment Management (DIM) dan PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera) menjaring 34 institusi keuangan domestik dan internasional. Minat pembiayaan indikatif yang terkumpul mencapai lebih dari tiga kali estimasi kebutuhan utang program tersebut.
Panel pemberi pinjaman itu mencakup lembaga pembiayaan proyek internasional, bank pembangunan multilateral, lembaga pembiayaan pembangunan bilateral, lembaga pembiayaan infrastruktur, pengelola dana iklim, hingga bank-bank besar dalam negeri, termasuk anggota Himbara, bank swasta nasional, bank syariah, dan bank internasional yang beroperasi di Indonesia.
“Respons dari berbagai institusi keuangan ini menunjukkan bahwa program PSEL memiliki daya tarik yang nyata bagi pasar pembiayaan,” ujar Chief Financial Officer Denera, M. Ramadhan Harahap. Opsi pendanaan yang dijajaki mencakup pinjaman, fasilitas nontunai, dan berbagai solusi pembiayaan lainnya, dengan struktur yang disesuaikan kebutuhan masing-masing proyek.
Pemilahan Sampah Tetap Menjadi Kunci
Selain pembangunan fasilitas, pemerintah mendorong masyarakat membiasakan pemilahan sampah sejak dari rumah. Langkah ini diperlukan agar sampah organik, material yang dapat didaur ulang, dan residu dapat diarahkan ke metode pengolahan yang tepat.
- Sampah organik dapat diolah melalui pengomposan atau teknologi pengolahan biologis.
- Material yang masih memiliki nilai ekonomi dapat masuk ke rantai daur ulang.
- Residu dan sampah yang memenuhi persyaratan tertentu ditangani melalui fasilitas pengolahan lanjutan.
- Untuk timbunan sampah lama, teknologi seperti pirolisis dapat dipertimbangkan sesuai karakteristik material dan kelayakan penerapannya.
Inovasi Desa: Gold Trash di Kulon Progo
Di tingkat akar rumput, inovasi pengolahan sampah menjadi energi juga tumbuh. Warga Dusun Pantog Kulon, Desa Banjaroyo, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengembangkan sistem PSEL menggunakan teknologi bernama Gold Trash untuk mengoperasikan pompa air desa.
Operator alat tersebut, Saryanta, menjelaskan bahwa mesin memproses sampah kering seperti ranting, daun, kertas, hingga plastik dengan tingkat kelembapan maksimal 20 persen. Sampah diproses melalui teknik gasifikasi pada suhu sekitar 300 derajat Celsius guna menghasilkan gas sintetik yang menjadi substitusi bahan bakar solar untuk menggerakkan mesin diesel.
“Awalnya kita nyalakan diesel dengan solar dan membakar sampah di tungku. Setelah panas, tungku menghasilkan uap yang akan mengurangi pengeluaran solar. Energi ini lalu kita gunakan untuk menyalakan pompa yang menarik air dari sungai ke bak penampungan,” jelas Saryanta. Teknologi ini diklaim menghemat pemakaian solar hingga 70 persen, dengan emisi partikulat sebesar 90 mg/m³, jauh di bawah ambang batas 120 mg/m³.
Kolaborasi Internasional untuk Ekonomi Sirkular
Di Sulawesi Selatan, Universitas Hasanuddin (Unhas) mengembangkan proyek pengelolaan sampah terpadu menggunakan teknologi maggot dan ayam Alope. Proyek yang didukung program Low Carbon Development Initiative Innovation and Technology Fund (LCDI-ITF) ini mengolah sampah organik menjadi maggot, kompos, hingga cacing yang bernilai tambah.
Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Dominic Jermey, saat mengunjungi Unhas pada Senin (19/10/2026), menyebut kolaborasi rendah karbon sebagai salah satu bidang utama Kemitraan Strategis Inggris-Indonesia. “Itu tentang mendukung perlindungan hutan, mendukung para pembela hutan, mendukung inisiatif rendah karbon seperti inisiatif yang baru saja kita dengar dari Pak Rektor di sini, yang semuanya tentang ekonomi sirkular,” katanya. Inggris menargetkan emisi nol bersih pada 2050, sementara Indonesia menargetkan 2060 atau lebih cepat.
Proyek pengolahan sampah Unhas telah mencapai sekitar 60 persen dan ditargetkan beroperasi pada Februari 2027, dengan harapan memberi manfaat lingkungan dan ekonomi bagi masyarakat.
Transformasi Menuju Sistem yang Berkelanjutan
Penyelesaian persoalan sampah tidak cukup hanya dengan menambah fasilitas pengolahan. Perubahan perilaku masyarakat, penguatan sistem pengumpulan, pemanfaatan material, dan pengembangan teknologi perlu dilakukan secara bersamaan. Dengan menggabungkan pengurangan sampah, daur ulang, dan pemanfaatan energi, PSEL diharapkan menjadi bagian dari transformasi pengelolaan sampah nasional menuju sistem yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Ke depan, keberhasilan program ini akan sangat bergantung pada konsistensi lintas sektor, mulai dari kesadaran rumah tangga memilah sampah, kesiapan infrastruktur logistik, hingga kepastian pembiayaan yang telah menunjukkan minat besar dari puluhan lembaga keuangan. Jika seluruh rangkaian itu berjalan selaras, sampah tak lagi dipandang sebagai beban, melainkan sebagai sumber daya yang memberi manfaat ekonomi, energi, dan lingkungan bagi masyarakat luas.
