Buyback Saham Salim Rp2,25 Triliun: Jurus Anthoni Salim Redam Gejolak Pasar Usai Badai MSCI
Inforiau – 25 Oktober 2026 | Aksi korporasi besar kembali mewarnai bursa saham Indonesia. Buyback saham Salim menjadi sorotan utama setelah tiga emiten yang terafiliasi dengan konglomerat Anthoni Salim menyiapkan dana hingga Rp2,25 triliun untuk membeli kembali saham yang beredar di pasar modal. Langkah ini muncul tak lama setelah pengumuman MSCI yang mengguncang pasar dan memicu gejolak harga saham sejumlah emiten besar.
Ketiga perusahaan tersebut adalah PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP). Berdasarkan keterbukaan informasi pada Jumat, 23 Oktober 2026, masing-masing perusahaan menetapkan anggaran maksimal Rp750 miliar, sehingga total dana yang disiapkan mencapai Rp2,25 triliun. Program buyback saham Salim ini dijadwalkan berlangsung mulai 26 Oktober hingga 31 Desember 2026 dengan menggunakan dana internal perusahaan.
Respons Cepat atas Gejolak Pasar
Langkah buyback saham Salim ini tidak bisa dilepaskan dari kondisi pasar yang sedang bergejolak. Konglomerat Anthoni Salim disebut tak tinggal diam melihat tekanan yang menekan harga saham emiten kelompok usahanya. Saham INDF tercatat turun 2,53% dan ICBP melemah 10,15% dalam satu bulan terakhir, divergensi yang justru menjadi petunjuk paling informatif dari keterbukaan informasi tersebut.
Anthoni Salim yang menempati posisi direktur utama di kedua perusahaan menegaskan bahwa keputusan alokasi modal ini diambil dari satu meja yang sama, bukan dua korporasi yang bergerak independen. Efek konsolidasinya pun berlapis karena ICBP berada dalam grup yang dikonsolidasikan ke INDF, sehingga dana yang digelontorkan pada dasarnya berasal dari kantong grup yang sama.
Dampak terhadap Laba per Saham
Rencana buyback saham Salim berpotensi memengaruhi sejumlah indikator keuangan perusahaan, salah satunya laba per saham atau earnings per share (EPS). Apabila jumlah saham beredar menyusut setelah pembelian kembali, laba perusahaan akan terbagi ke jumlah saham yang lebih sedikit. Berikut proyeksi kenaikan EPS ketiga emiten:
| Emiten | EPS Sebelum Buyback | EPS Setelah Buyback |
|---|---|---|
| LSIP | Rp131 | Rp141 |
| INDF | Rp538 | Rp545 |
| ICBP | Rp317 | Rp321 |
Meski demikian, proyeksi tersebut tetap bergantung pada realisasi buyback dan perkembangan kinerja masing-masing perusahaan. Kenaikan EPS juga tidak serta-merta menjamin kenaikan harga saham di pasar. Di sisi lain, penggunaan dana untuk buyback akan mengurangi kas yang tersedia bagi perusahaan, dan saham yang dibeli kembali akan dicatat sebagai saham treasuri sehingga komposisi aset dan ekuitas mengalami perubahan.
Skala Keuangan dan Ruang Fiskal Emiten
Besarnya alokasi dana perlu dilihat berdasarkan skala keuangan masing-masing emiten. Hingga akhir Juni 2026, LSIP memiliki total aset Rp16,29 triliun dan ekuitas Rp14,32 triliun. INDF tercatat membukukan aset Rp231,24 triliun dengan ekuitas Rp124,71 triliun. Adapun ICBP memiliki aset Rp143,97 triliun dan ekuitas Rp75,27 triliun. Ketiga perusahaan menyatakan kondisi permodalan dan arus kas masih mencukupi untuk mendukung kegiatan operasional setelah pelaksanaan buyback saham Salim.
Ada pula dimensi kepatuhan yang jarang disorot. Manajemen secara eksplisit menyebut plafon tidak lebih dari 20% modal disetor dan tetap memperhatikan ketentuan free float. Ini menjadi pengingat bahwa ruang buyback emiten dengan kepemilikan keluarga terkonsentrasi kini dibatasi oleh aturan likuiditas pasar. Setiap pembelian kembali yang agresif berpotensi menurunkan porsi saham beredar di publik, yang berdampak pada bobot indeks dan kelayakan bagi investor institusi.
Konteks Makro yang Menekan
Konteks makro membuat aksi buyback saham Salim ini lebih tepat dibaca sebagai upaya menjaga harga saham ketimbang sinyal undervalue. Rupiah berada di level 18.050 terhadap dolar, Brent diperdagangkan di US$111,70, dan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun di 4,96% dengan indeks dolar broad tertimbang-dagang di 121,4. Kombinasi ini menaikkan biaya bahan baku impor sekaligus menekan selera risiko terhadap aset pasar berkembang. Bagi produsen mi dan makanan kemasan, beban gandum, susu, dan kemasan yang didenominasi dolar naik justru ketika daya beli konsumen belum pulih.
IHSG yang berada di level 5.439 dengan penguatan 0,95% memberi latar bahwa buyback ini berjalan di pasar yang sedang mencoba bangkit, bukan di tengah kepanikan. Namun tekanan MSCI, arus keluar investor asing, dan ketidakpastian pemulihan pasar membuat sejumlah analis memangkas target IHSG akhir 2026. Kiwoom Sekuritas, misalnya, menurunkan target indeks dari sebelumnya 7.000 menjadi 5.700–6.000.
Pilihan instrumen buyback, bukan dividen, juga menjadi sinyal tersendiri. Grup memilih menyerap saham di pasar ketimbang membagikan kas ke pemegang saham. Bagi pemegang saham pengendali, mekanisme ini menaikkan porsi kepemilikan secara proporsional tanpa mengeluarkan dana pribadi dan tanpa menanggung konsekuensi pajak dividen. Aksi ini menunjukkan bahwa grup sebesar Indofood memilih membelanjakan kas untuk mempertahankan valuasi, bukan untuk ekspansi kapasitas atau membagikan dividen lebih besar—sebuah pernyataan tidak langsung tentang kehati-hatian terhadap prospek permintaan domestik.
Sebagai penutup, buyback saham Salim senilai Rp2,25 triliun merupakan langkah defensif yang terukur di tengah tekanan eksternal. Nilainya cukup untuk menopang harga di pasar yang tipis, tetapi tidak cukup untuk mengubah struktur permodalan. Bagi investor, langkah ini menggeser cara membaca fundamental, karena kas internal yang dipakai untuk buyback adalah kas yang sama yang seharusnya menopang dividen tahun depan. Besarnya dana yang benar-benar terserap hingga akhir Desember nanti akan menentukan dampak aktual terhadap posisi keuangan masing-masing emiten dan sentimen pasar secara keseluruhan.
Editor: Sukri Mustakim
