Saham Telkom Jadi Sorotan: Percepatan Buyback Rp4 Triliun hingga Komitmen Keberlanjutan Global
Inforiau – 25 Oktober 2026 | Saham Telkom kembali mencuri perhatian pasar modal Indonesia. Di tengah gejolak yang sempat menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akibat pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk justru bergerak aktif memperkuat nilai perusahaan melalui sejumlah langkah strategis. Mulai dari percepatan program pembelian kembali saham (buyback) hingga penguatan komitmen keberlanjutan global, saham Telkom dinilai memiliki fondasi yang kokoh untuk jangka panjang.
Langkah paling signifikan datang dari rencana percepatan pelaksanaan buyback senilai maksimal Rp4 triliun yang telah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 8 Juni 2026. Program tersebut masih berjalan dalam periode 12 bulan, yakni sejak 9 Juni 2026 hingga 8 Juni 2027. Hingga 19 Oktober 2026, sisa alokasi buyback yang telah disetujui masih lebih dari Rp3 triliun, memberi ruang besar bagi perseroan untuk mengeksekusi program tersebut secara lebih agresif.
Direktur Utama Telkom, Nanang Hendarno, menegaskan bahwa evaluasi pelaksanaan buyback dilakukan dengan tetap mengedepankan disiplin alokasi modal. Menurutnya, langkah ini mencerminkan keyakinan manajemen terhadap fundamental bisnis yang solid dan prospek jangka panjang perseroan.
“Kami meyakini Telkom memiliki fundamental bisnis yang kuat dan potensi pertumbuhan jangka panjang. Pelaksanaan buyback merupakan salah satu wujud keyakinan kami terhadap nilai Perseroan, seiring transformasi TelkomGroup melalui strategi TLKM 30 yang diarahkan untuk mengoptimalkan potensi bisnis dan meningkatkan nilai perusahaan,” ujar Nanang.
Senada dengan itu, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Telkom, Angelo, menjelaskan bahwa program buyback didanai dari kas internal perseroan. Pelaksanaannya memperhatikan kebutuhan likuiditas serta prioritas alokasi modal guna menjaga fleksibilitas keuangan.
“Pelaksanaan buyback merupakan bagian dari keputusan alokasi modal yang kami pertimbangkan secara disiplin, dengan melihat fundamental Perseroan dan prospek bisnis ke depan. Kami memastikan setiap keputusan penggunaan modal tetap sejalan dengan prioritas strategis TelkomGroup, sekaligus menjaga kesehatan keuangan Perseroan agar mampu mendukung pertumbuhan secara berkelanjutan,” pungkas Angelo.
Langkah ini sejalan dengan transisi Telkom menuju Strategic Holding dengan model Holding Company–Operating Company (HoldCo–OpCo). Telkom terus mengakselerasi penataan portofolio dan efisiensi untuk memperkuat kinerja operasional, yang diarahkan untuk memperkuat margin EBITDA dan mendukung pertumbuhan bisnis berkelanjutan sebagai fondasi penciptaan nilai bagi pemegang saham.
Ditopang Momentum Pasar dan Langkah BUMN
Pergerakan saham Telkom juga tak lepas dari momentum pemulihan pasar. Analis saham Muhammad Nafan Aji menyebutkan bahwa rebound sejumlah saham BUMN berkontribusi terhadap penguatan IHSG pada perdagangan Kamis, 22 Oktober 2026, terutama dari sektor perbankan, telekomunikasi, dan pertambangan.
Sentimen positif ini turut diperkuat oleh langkah Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) yang mulai mengakumulasi saham-saham BUMN saat harganya jatuh. Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir, menyatakan pihaknya melihat peluang dari sisi risk-reward yang dinilai cukup menarik, mengingat saham-saham BUMN memiliki fundamental dan prospek pertumbuhan yang baik. Danantara tercatat memiliki 39 saham emiten di portofolionya, seluruhnya merupakan emiten pelat merah.
Bagi investor, kombinasi antara aksi buyback yang dipercepat, disiplin alokasi modal, serta dukungan sentimen pasar membuat saham Telkom tetap menarik untuk dicermati. Program buyback yang dipercepat berpotensi memberikan efek stabilisasi harga sekaligus menegaskan keyakinan manajemen terhadap nilai intrinsik perseroan.
Komitmen Keberlanjutan yang Memperkuat Nilai Jangka Panjang
Selain dari sisi finansial, Telkom juga memperkuat posisinya melalui agenda keberlanjutan. Perseroan resmi menerima sertifikat keanggotaan United Nations Global Compact (UNGC) pada Kamis, 22 Oktober 2026, dan meluncurkan program Zero Waste to Landfill bersama Waste4Change di kawasan The Telkom Hub, Jakarta.
Nanang Hendarno menegaskan bahwa keberlanjutan merupakan bagian penting dari transformasi perusahaan untuk membangun bisnis yang bertanggung jawab dan berdaya saing dalam jangka panjang.
“Di TelkomGroup, keberlanjutan bukan hanya tentang memenuhi standar atau menjalankan inisiatif lingkungan, tetapi juga tentang bagaimana prinsip-prinsip tersebut menjadi bagian dari strategi bisnis dan budaya kerja,” ujarnya.
Melalui program Zero Waste to Landfill, Telkom menerapkan pemilahan sampah sejak dari sumber agar sampah yang masih dapat dimanfaatkan tidak berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA). Program ini melibatkan karyawan, petugas housekeeping, dan Waste4Change dalam proses pemilahan, pengangkutan, hingga pengolahan sampah sesuai prosedur, sejalan dengan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah serta Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026.
Dengan berbagai langkah tersebut, saham Telkom menunjukkan daya tarik tersendiri di mata investor. Percepatan buyback, disiplin alokasi modal, dukungan sentimen pemulihan pasar, serta komitmen keberlanjutan global menjadi kombinasi yang memperkuat prospek jangka panjang perseroan.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati realisasi buyback serta dampaknya terhadap pergerakan saham Telkom. Namun satu hal yang jelas, manajemen Telkom konsisten menempatkan penciptaan nilai bagi pemegang saham sebagai prioritas utama, seiring transformasi yang terus berjalan menuju perusahaan telekomunikasi digital yang tangguh dan berkelanjutan.
