Di Balik Rugi Rp881 Miliar Bukalapak BUKA: Pendapatan Naik, Tapi Investasi Jadi Biang Keroknya
Inforiau – 25 Oktober 2026 | Kinerja keuangan Bukalapak BUKA pada sembilan bulan pertama 2026 menyimpan cerita yang menarik untuk dicermati. Di satu sisi, emiten dengan kode saham BUKA ini membukukan pendapatan yang tumbuh positif, namun di sisi lain harus menelan rugi bersih yang cukup dalam. Kondisi ini menjadi sorotan pelaku pasar yang mencermati pergerakan Bukalapak BUKA di tengah dinamika sektor ekonomi digital Tanah Air yang penuh tantangan.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian interim per 30 September 2026 yang dipublikasikan perseroan pada Jumat, 23 Oktober 2026, PT Bukalapak.com Tbk mencatat rugi bersih sebesar Rp881,06 miliar pada periode Januari–September 2026. Angka ini berbalik arah dari laba bersih yang diraih pada periode yang sama tahun 2025 sebesar Rp2,91 triliun. Dengan demikian, Bukalapak BUKA mencatat pembalikan kinerja yang sangat signifikan dalam kurun satu tahun terakhir.
Menariknya, penurunan tajam tersebut justru terjadi ketika pendapatan bersih perseroan mencatatkan pertumbuhan. Sepanjang Januari–September 2026, pendapatan bersih Bukalapak meningkat 19,34% menjadi Rp5,64 triliun, dibandingkan Rp4,73 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Artinya, kenaikan pendapatan belum mampu menahan penurunan kinerja secara keseluruhan.
Rugi Nilai Investasi Jadi Pemicu Utama
Salah satu faktor utama yang menekan kinerja Bukalapak BUKA adalah perubahan hasil investasi dari keuntungan menjadi kerugian. Perseroan membukukan rugi nilai investasi sebesar Rp2,04 triliun pada sembilan bulan pertama 2026. Padahal, pada periode yang sama tahun sebelumnya, perseroan masih mencatatkan keuntungan nilai investasi sebesar Rp2,32 triliun. Pergeseran inilah yang menjadi biang keladi utama di balik pembalikan laba menjadi rugi.
Perubahan tersebut turut menekan kinerja operasional perseroan. Bukalapak mencatatkan rugi usaha sebesar Rp1,14 triliun, berbalik dari laba usaha Rp2,33 triliun pada Januari–September 2025. Dari sisi beban operasional, pendapatan operasi lainnya melonjak 591% menjadi Rp962,99 miliar dari Rp139,32 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, beban pokok pendapatan naik 19% menjadi Rp5,18 triliun dari Rp4,35 triliun, dan beban penjualan serta pemasaran meningkat 34,51% menjadi Rp200,93 miliar dari Rp149,37 miliar.
Sebaliknya, beban umum dan administrasi tercatat turun menjadi Rp324,45 miliar dari Rp361,34 miliar pada sembilan bulan 2025. Dari sisi keuangan, pendapatan keuangan Bukalapak turun 49,71% menjadi Rp325,74 miliar dari Rp647,76 miliar, sementara beban keuangan meningkat menjadi Rp8,44 miliar dari Rp7,43 miliar. Perseroan juga mencatatkan bagian atas rugi entitas asosiasi sebesar Rp37,58 miliar, sedikit lebih rendah dari Rp38,73 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sebelum memperhitungkan beban pajak penghasilan, Bukalapak membukukan rugi sebesar Rp859,90 miliar, berbalik dari laba sebelum pajak Rp2,93 triliun pada Januari–September 2025.
Adjusted EBITDA Tetap Positif, Fondasi Profitabilitas Menguat
Di tengah tekanan pada laba bersih, terdapat sisi positif yang layak dicatat dari kinerja operasional Bukalapak BUKA. Perseroan berhasil membukukan Adjusted EBITDA positif sebesar Rp1 miliar pada kuartal III 2026, membaik dari negatif Rp18 miliar pada kuartal III 2025. Sepanjang sembilan bulan pertama 2026, Adjusted EBITDA tercatat positif Rp11 miliar, meningkat Rp64 miliar dibandingkan negatif Rp53 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pendapatan perseroan pada kuartal III 2026 tercatat sebesar Rp1,6 triliun, konsisten dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Laba kotor meningkat menjadi Rp158 miliar pada kuartal III 2026 dari Rp123 miliar pada kuartal III 2025. Secara kumulatif, laba kotor mencapai Rp459 miliar dibandingkan Rp376 miliar pada sembilan bulan 2025. Pertumbuhan laba kotor yang melampaui kenaikan biaya pemasaran menunjukkan bahwa investasi pemasaran tidak hanya tertutupi, tetapi juga memberikan kontribusi positif terhadap posisi laba-rugi perusahaan.
Pada kuartal III 2026, segmen Gaming dan Mitra Bukalapak menjadi dua kontributor laba kotor terbesar, diikuti Retail dan Investment. Segmen Gaming yang mengoperasikan gaming marketplace seperti Itemku dan Lapakgaming mencatatkan pendapatan konsisten sebesar Rp1,4 triliun, dengan laba kotor yang tumbuh menjadi Rp65 miliar dari Rp49 miliar. Secara kumulatif, pendapatan Gaming naik 27% YoY menjadi Rp4,9 triliun, sementara laba kotor melonjak menjadi Rp193 miliar dari Rp144 miliar. Adjusted EBITDA segmen ini menguat tajam 111% YoY menjadi Rp11 miliar pada kuartal III 2026 dan naik 50% menjadi Rp48 miliar pada sembilan bulan 2026.
Mitra Bukalapak, yang berfokus memberdayakan UMKM, mencatatkan pendapatan Rp160 miliar pada kuartal III 2026 atau turun 6% YoY, dan Rp487 miliar pada sembilan bulan 2026 atau turun 21% YoY. Meski secara nominal turun seiring peralihan model dari first-party ke third-party, profitabilitas Mitra justru mencatat tren positif berkat fokus pada produk bermargin lebih tinggi. Laba kotor kuartal III 2026 naik menjadi Rp42 miliar dari Rp36 miliar, dan Adjusted EBITDA berbalik positif menjadi Rp5 miliar.
Respons Pasar dan Prospek ke Depan
Kinerja keuangan yang bercampur ini hadir di tengah kondisi pasar saham yang sedang bergejolak. Indeks Harga Saham Gabungan pada pembukaan perdagangan Kamis, 22 Oktober 2026, tercatat melemah 1,47% atau turun 77,36 poin ke level 5.247,98. Dari 797 emiten yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, hanya sebagian yang mencatatkan penguatan, sementara mayoritas bergerak stagnan hingga melemah. Kondisi makro yang menantang ini tentu turut memengaruhi sentimen investor terhadap saham Bukalapak BUKA.
Perlu dipahami bahwa rugi bersih yang dialami perseroan bukan semata-mata mencerminkan melemahnya bisnis inti. Rugi nilai investasi sebesar Rp2,04 triliun menjadi faktor dominan yang membalikkan posisi laba menjadi rugi. Jika melihat kinerja operasional, tren Adjusted EBITDA yang positif sejak awal tahun justru menunjukkan perbaikan fundamental yang nyata. Segmen Gaming yang terus berekspansi ke pasar internasional menjadi motor pertumbuhan yang menjanjikan, sementara Mitra Bukalapak berhasil memperbaiki kualitas margin melalui peralihan model bisnis.
Bagi investor, laporan ini memberikan gambaran bahwa Bukalapak BUKA tengah berada dalam fase transisi. Di satu sisi, tekanan dari sisi investasi masih membayangi kinerja bottom line. Di sisi lain, perbaikan pada level operasional dan pertumbuhan pendapatan yang solid menjadi sinyal bahwa fondasi bisnis perseroan masih memiliki ruang untuk tumbuh. Ke depan, kemampuan manajemen dalam mengelola portofolio investasi sekaligus mempertahankan momentum pertumbuhan segmen Gaming dan Mitra akan menjadi kunci utama dalam menentukan arah kinerja perseroan.
Dengan pendapatan yang terus meningkat dan Adjusted EBITDA yang konsisten positif, Bukalapak memiliki bekal untuk memperkuat fondasi profitabilitas berkelanjutan. Namun, volatilitas hasil investasi tetap menjadi variabel yang perlu dicermati, mengingat dampaknya yang sangat besar terhadap laba bersih perseroan. Pelaku pasar tentunya akan menantikan langkah strategis manajemen dalam menyeimbangkan pertumbuhan bisnis dengan pengelolaan risiko investasi di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi global.
