Rentetan Aksi Geng Motor di Makassar dalam 22 Hari: Pemuda Tewas hingga Motor Dibakar Massa
Inforiau – 26 Oktober 2026 | Rentetan aksi geng motor di Makassar dalam 22 hari, berujung pemuda tewas dan motor dibakar [titlebase] menjadi sorotan serius di Kota Daeng. Sejak awal Oktober hingga akhir Oktober 2026, sederet insiden kekerasan yang melibatkan kelompok pemuda bersenjata tajam, busur panah, hingga petasan terus mewarnai sejumlah kawasan di Makassar, Sulawesi Selatan. Puncaknya, seorang pemuda berinisial AMN (24) yang berprofesi sebagai pengemudi ojek online tewas mengenaskan, sementara sejumlah sepeda motor milik pelaku menjadi sasaran amukan warga dan dibakar.
Rentetan aksi geng motor di Makassar dalam 22 hari, berujung pemuda tewas dan motor dibakar [titlebase] itu terekam dalam rangkaian peristiwa yang terjadi di berbagai titik, mulai dari Jalan Perintis Kemerdekaan, Jalan Gunung Bawakaraeng, hingga Jalan Metro Tanjung Bunga. Polisi mencatat setidaknya tiga insiden besar yang saling berkaitan dengan pola serupa: konvoi kelompok pemuda, penyerangan terhadap warga atau pengendara lain, serta perlawanan balik dari masyarakat yang berujung pada pembakaran kendaraan.
Tawuran di Perintis Kemerdekaan, Ojol Tewas
Peristiwa paling mematikan terjadi di Jalan Perintis Kemerdekaan Kilometer 19, Sudiang, Kecamatan Biringkanaya, pada 4 Oktober 2026. Kapolda Sulsel Irjen Pol Awal Chairuddin mengungkapkan bahwa tawuran terjadi sekitar pukul 02.30 WITA di Jalan Daeng Ramang, Kelurahan Pai. Kelompok Tabik 22 menyerang Kelompok Warmen 27 dengan saling lempar batu dan anak panah. Kelompok Warmen membalas menggunakan air soft gun hingga lawannya mundur ke arah Kabupaten Maros.
Namun, kelompok Warmen 27 justru mengejar menggunakan dua sepeda motor sambil melepaskan tembakan dan anak panah. Motor mereka bertabrakan di simpang lima perbatasan Bandara Sultan Hasanuddin dan saling terjatuh. Korban AMN (24) dan MFS (16) tertinggal setelah menghantam pembatas jalan. Tiga anggota Tabik 22, yakni MW, MA, dan IL, mendatangi korban yang tak berdaya. MW menebas, menyayat, dan menembak MFS dua kali serta AMN satu kali di bagian belakang kepala. AMN meninggal dunia akibat kehabisan darah dengan anak panah masih tertancap, sedangkan MFS selamat meski mengalami luka berat.
Polisi menetapkan 19 orang tersangka, mayoritas di bawah umur, dengan rentang usia 15 hingga 17 tahun. Sebanyak tiga pelaku lain berinisial P, AI, dan IL masih buron. Rentetan aksi geng motor di Makassar dalam 22 hari, berujung pemuda tewas dan motor dibakar [titlebase] ini pun memantik perhatian publik atas keterlibatan anak di bawah umur dalam kekerasan jalanan.
Serangan ke Permukiman, Yamaha Aerox Dibakar
Pada Minggu dini hari, 25 Oktober 2026, insiden serupa kembali terjadi di Jalan Gunung Bawakaraeng, Kecamatan Makassar. Sekitar pukul 04.10 WITA, sekelompok orang yang diduga anggota geng motor melempari permukiman warga dengan batu dan meledakkan petasan ke dalam Lorong 1. Kasi Humas Polrestabes Makassar AKP Jaffar Ahmad menyatakan bahwa aksi tersebut memicu kemarahan warga yang kemudian melakukan perlawanan dan mengejar kelompok tersebut.
Saat melarikan diri, satu unit sepeda motor Yamaha Aerox berwarna biru kehijauan terjatuh dan tertinggal di lokasi. Warga yang tersulut emosi langsung membakar kendaraan itu. Personel Polsek Makassar yang menerima laporan segera mendatangi tempat kejadian perkara. Pada pukul 04.50 WITA, kondisi di sekitar lokasi dilaporkan kembali aman dan kondusif. Peristiwa ini menambah panjang daftar Rentetan aksi geng motor di Makassar dalam 22 hari, berujung pemuda tewas dan motor dibakar [titlebase] yang meresahkan masyarakat.
Ancam Ojol dengan Busur Panah, Motor Pelaku Dibakar Massa
Belum reda, insiden berikutnya terjadi pada Minggu malam, 25 Oktober 2026, di kawasan perumahan Jalan Metro Tanjung Bunga. Kapolsek Tamalate Kompol Muhammad Idris menjelaskan, peristiwa bermula ketika seorang pengemudi ojek online baru saja mengantar penumpang di depan Hotel Colonial dan berbalik arah menuju Trans Studio Mall. Dalam perjalanan, korban berpapasan dengan sekelompok pemuda yang diperkirakan menggunakan lima sepeda motor dan membentangkan busur panah ke arah pengendara yang melintas.
Merasa terancam, pengemudi ojol itu melarikan diri ke arah TSM, namun kelompok tersebut mengejarnya hingga ke depan sebuah warung kopi di Jalan Metro Tanjung Bunga. Saat lalu lintas macet, salah satu pemuda berusaha memutar arah melawan arus dan menabrak pengendara sepeda motor lain hingga terjatuh. Warga di sekitar lokasi bereaksi dan menghadang kelompok tersebut. Satu orang berhasil diamankan, sementara sepeda motornya menjadi sasaran amukan massa hingga dibakar. Seorang pelaku lain dilaporkan melarikan diri dengan membawa busur panah.
Motif Balas Dendam dan Perseteruan Antarkampung
Selain tiga insiden tersebut, polisi juga mengungkap kasus pertikaian antarkelompok yang berujung pembunuhan terhadap HR (22) di depan Gereja AKBP, Jalan Rajawali, Kecamatan Mariso. Kapolda Sulsel menyebut motifnya adalah balas dendam karena saudara korban tidak diberikan sisa uang penjualan anjing liar senilai Rp 1 juta. Tujuh orang ditetapkan tersangka, dengan barang bukti berupa samurai, dua ketapel, dan empat anak panah.
Rangkaian peristiwa ini menunjukkan pola perseteruan antarkampung yang berulang, seperti antara kelompok Rajawali Rusun dan Kokolojia yang sering bersitegang. Rentetan aksi geng motor di Makassar dalam 22 hari, berujung pemuda tewas dan motor dibakar [titlebase] pun menjadi cermin bahwa konflik kecil dapat dengan cepat berkembang menjadi kekerasan massal yang memakan korban jiwa.
Respons Kepolisian dan Imbauan kepada Masyarakat
Kepolisian telah melakukan sejumlah langkah, mulai dari pengamanan tempat kejadian perkara, penetapan tersangka, hingga pengejaran pelaku yang masih buron. Polisi juga mengimbau masyarakat agar tidak main hakim sendiri dan menyerahkan penanganan kepada aparat. Namun, aksi pembakaran kendaraan oleh warga menunjukkan bahwa kepercayaan publik terhadap penegakan hukum masih menjadi tantangan tersendiri.
- Polrestabes Makassar mengamankan sejumlah barang bukti, termasuk kendaraan terbakar dan senjata tajam.
- Polda Sulsel menetapkan 19 tersangka tawuran Perintis Kemerdekaan, mayoritas anak di bawah umur.
- Warga diminta segera melapor jika melihat konvoi atau kelompok pemuda bersenjata.
Dengan rentang waktu hanya 22 hari, Kota Makassar menghadapi ujian besar dalam menjaga keamanan publik. Rentetan aksi geng motor di Makassar dalam 22 hari, berujung pemuda tewas dan motor dibakar [titlebase] harus menjadi momentum bagi semua pihak, baik kepolisian, pemerintah daerah, tokoh masyarakat, maupun keluarga, untuk bersinergi mencegah keterlibatan generasi muda dalam kekerasan jalanan. Tanpa penanganan menyeluruh, kekerasan serupa berpotensi terus berulang dan merenggut korban-korban baru.
