Harga Emas Bangkit dari Keterpurukan: Sinyal Buy di Tengah Gejolak Minyak Dunia
Inforiau – 26 Oktober 2026 | Pasar logam mulia global dan domestik kembali bergairah pada Senin, 26 Oktober 2026, setelah sepekan terakhir dilanda tekanan jual yang cukup dalam. Pergerakan gold price menjadi sorotan utama para investor, terutama setelah emas spot sempat terpuruk ke level terendah tiga bulan di bawah angka psikologis 4.000 dolar Amerika Serikat per ons. Namun, pembukaan pekan ini menghadirkan angin segar bagi para pemegang aset safe haven tersebut.
Di pasar internasional, harga emas di Comex tercatat menguat sekitar 0,51 persen ke posisi 4.028,40 dolar AS per ons pada perdagangan pagi. Sementara itu, perak turut melesat 0,90 persen menjadi 54,435 dolar AS per ons. Kebangkitan ini terjadi setelah pada Jumat pekan lalu emas spot sempat anjlok 0,6 persen ke 3.998,49 dolar AS per ons, sekaligus mencatatkan penurunan mingguan terburuk dalam lebih dari empat bulan dengan koreksi mencapai 4 persen.
Tekanan Suku Bunga dan Gejolak Energi
Analis menilai koreksi tajam gold price pekan lalu dipicu oleh kekhawatiran inflasi yang kembali menghangat akibat lonjakan harga energi. Kenaikan harga minyak mentah Brent di tengah eskalasi konflik Timur Tengah telah memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi ini secara historis menjadi angin sakal bagi emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Meski demikian, sentimen pasar mulai berbalik memasuki pekan baru. Pelaku pasar kini mencermati perkembangan geopolitik di kawasan Asia Barat serta data ekonomi global yang akan dirilis dalam beberapa hari ke depan. Ketidakpastian inilah yang kembali mendorong minat beli terhadap logam mulia.
Harga Emas Domestik Ikut Menguat
Di dalam negeri, pergerakan gold price juga mencerminkan tren positif serupa. Pada pembukaan perdagangan di Multi Commodity Exchange (MCX), kontrak emas berjangka pengiriman Desember tercatat naik sekitar 600 rupee menjadi 1.42.600 rupee per 10 gram. Sementara itu, perak berjangka melonjak hingga 1.400 rupee ke level 1.97.055 rupee per kilogram.
Berikut gambaran harga emas dan perak di sejumlah kota besar India pada 26 Oktober 2026:
| Kota | Emas 24 Karat (per 10 gram) | Emas 22 Karat (per 10 gram) | Perak 999 (per kg) |
|---|---|---|---|
| New Delhi | 142.300 rupee | 130.442 rupee | 196.330 rupee |
| Mumbai | 142.540 rupee | 130.662 rupee | 197.300 rupee |
| Kolkata | 142.810 rupee | 130.909 rupee | 197.055 rupee |
Untuk emas 18 karat, harga diperdagangkan di kisaran 107.108 rupee per 10 gram. Harga ritel emas di India dipengaruhi oleh tren bullion spot internasional, dinamika kurs rupee terhadap dolar AS, serta permintaan musiman menjelang puncak belanja festival. Pembeli juga perlu memperhitungkan pajak barang dan jasa (GST) sebesar 3 persen atas nilai logam serta 5 persen atas biaya pembuatan perhiasan.
MCX Jadi Lindung Nilai di Tengah Volatilitas Minyak
Di sisi lain, koreksi gold price yang menekan saham MCX justru dipandang sebagai peluang oleh sejumlah analis. Lembaga riset Jefferies mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga 4.000 rupee per saham, berdasarkan estimasi 42 kali laba per saham September 2028. Saham MCX tercatat turun 12 persen dalam sebulan terakhir, sejalan dengan koreksi emas.
Jefferies menilai penurunan tersebut mengabaikan fakta bahwa 60 persen pendapatan transaksi MCX berasal dari kontrak energi, sementara bullion hanya menyumbang 40 persen. Dengan demikian, MCX disebut menawarkan lindung nilai terhadap volatilitas minyak mentah, berbeda dari bursa global lainnya. Kenaikan harga dan volatilitas Brent pada September-Oktober turut mendorong rata-rata turnover harian opsi energi naik 44 persen secara bulanan.
Bursa komoditas India juga dinilai memiliki berbagai pendorong struktural, mulai dari penetrasi pasar yang masih rendah, peluang produk baru, hingga perluasan partisipasi investor asing pada kontrak non-tunai. Jefferies memperkirakan pendapatan MCX tumbuh 25 persen per tahun hingga FY29.
Prospek ke Depan
Ke depan, arah gold price akan sangat bergantung pada keputusan suku bunga Federal Reserve serta perkembangan konflik geopolitik. Selama ketegangan di Timur Tengah belum mereda dan inflasi energi masih menjadi ancaman, emas kemungkinan tetap menjadi aset favorit untuk melindungi nilai kekayaan.
Sementara itu, bagi investor domestik, momentum penguatan ini bisa menjadi kesempatan untuk mencermati ulang strategi portofolio komoditas. Kombinasi antara emas sebagai aset lindung nilai dan instrumen energi yang volatil menawarkan diversifikasi menarik di tengah ketidakpastian global. Pasar logam mulia tampaknya belum kehabisan tenaga untuk kembali bersinar, meski perjalanan menuju level puncak baru masih akan diwarnai gejolak.
