IHSG Anjlok 1,99% ke Level 5.266: Asing Kabur, tapi Sejumlah Saham Malah Melejit 33%
Inforiau – 28 Oktober 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Selasa, 27 Oktober 2026, di zona merah dengan pelemahan tajam 106,96 poin atau setara 1,99 persen ke level 5.266,1. Posisi penutupan itu nyaris menyentuh titik terendah harian di 5.182, setelah sempat terbang ke level intraday 5.418 pada pagi hari. Pelemahan indeks harga saham gabungan ini langsung menjadi sorotan pelaku pasar lantaran terjadi di tengah derasnya aksi jual investor asing.
Tekanan jual terlihat sangat dominan sepanjang sesi. Volume perdagangan mencapai 36,43 miliar saham dengan nilai transaksi sekitar Rp17,94 triliun dan frekuensi 1,91 juta kali. Sebanyak 611 saham melemah, hanya 100 saham yang menguat, dan 82 saham stagnan. Data lain menyebut 101 saham naik, 647 turun, dan 215 stagnan dengan nilai transaksi Rp17,16 triliun, mencerminkan betapa besarnya gelombang koreksi di lantai bursa.
Asing Lepas Saham-Saham Perbankan dan Telekomunikasi
Investor asing mencatat transaksi jual bersih (net sell) pada sejumlah saham unggulan. Saham BMRI menjadi yang paling banyak dilepas asing hingga Rp266,3 miliar, disusul TLKM dengan net sell Rp234,4 miliar dan BBNI sebesar Rp119,5 miliar. Berikut daftar saham dengan net sell asing terbesar pada perdagangan Selasa:
- PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI): Rp266,3 miliar
- PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM): Rp234,4 miliar
- PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI): Rp119,5 miliar
- PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS): Rp80,9 miliar
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA): Rp59,7 miliar
- PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS): Rp48,8 miliar
Meski indeks harga saham gabungan tertekan, sejumlah saham justru melesat. Saham PT Diamond Citra Propertindo Tbk (DADA) memimpin top gainer dengan lonjakan 33,33 persen ke Rp24 per unit. Disusul PT Platinum Wahab Nusantara Tbk (TGUK) yang naik 23,46 persen ke Rp100, lalu PT Apollo Global Interactive Tbk (BOGA) menguat 22,88 persen ke Rp1.880 per saham. PT Tempo Inti Media Tbk (TMPO) turut menanjak 20,63 persen ke Rp228, dan PT Ancora Indonesia Resources Tbk (OKAS) naik 19,32 persen ke Rp105.
Di jajaran indeks LQ45, PT United Tractors Tbk (UNTR) mencatat penguatan tertinggi hingga 6 persen ke Rp26.500. Fenomena ini menunjukkan bahwa di tengah tekanan pada indeks harga saham gabungan, masih ada saham yang mampu mencetak kinerja positif dan menjadi incaran pelaku pasar jangka pendek.
Mayoritas Sektor Tertekan, Energi Paling Dalam
Hampir seluruh sektor saham melemah pada penutupan. Sektor energi menjadi pemberat terbesar dengan koreksi 3,33 persen, diikuti barang baku 3,32 persen, teknologi 3,16 persen, infrastruktur 2,95 persen, dan transportasi 2,83 persen. Sektor properti turun 1,55 persen, kesehatan 1,5 persen, barang konsumen non-primer 1,36 persen, keuangan 1,11 persen, dan barang konsumen primer 0,49 persen. Satu-satunya sektor yang menguat adalah perindustrian dengan kenaikan 1,43 persen.
Pilarmas Investindo Sekuritas menilai pergerakan indeks harga saham gabungan dipengaruhi sentimen eksternal dan internal. Dari luar, bursa regional Asia bergerak mixed di tengah penurunan harga minyak akibat upaya diplomatik meredakan ketegangan AS-Iran yang sedikit melegakan kekhawatiran inflasi jangka pendek. Pasar juga mencermati peluang kenaikan suku bunga pada Desember sekitar 82 persen berdasarkan CME FedWatch Tool, serta menanti data PDB dan indeks harga PCE Amerika Serikat.
Dari dalam negeri, meski harga minyak dunia menurun, harga minyak mentah yang bertahan di atas US$110 per barel tetap membebani perekonomian domestik. Pemerintah berupaya menjaga stabilitas aktivitas ekonomi dengan menahan harga sejumlah produk bersubsidi, namun langkah ini berisiko membengkakkan anggaran subsidi dan kompensasi energi serta melebarkan defisit anggaran.
Secara keseluruhan, pelemahan indeks harga saham gabungan hari ini mencerminkan dominasi aksi jual asing dan tekanan sektoral, terutama energi dan barang baku. Namun, kemunculan saham-saham top gainer dengan lonjakan hingga 33 persen menjadi penyeimbang yang menunjukkan masih adanya peluang di pasar. Pelaku pasar disarankan mencermati sentimen global, terutama arah kebijakan suku bunga The Fed dan harga minyak, sebelum mengambil keputusan investasi pada perdagangan berikutnya.
Editor: Sukri Mustakim
